Media Besar Jerman pun Tertarik Aksi Bocah SMP Gresik Ini

Infomenia.net -  Kampanye tolak pengiriman sampah plastik ke Indonesia oleh Aeshnina Azzahra Aqilani, pelajar SMPN 12 Gresik, tidak hanya me...


Infomenia.net - 
Kampanye tolak pengiriman sampah plastik ke Indonesia oleh Aeshnina Azzahra Aqilani, pelajar SMPN 12 Gresik, tidak hanya mendapat sorotan media dalam negeri. Beberapa media asing juga memberikan perhatian pada aksi bocah 14 tahun asal Wringinanom, Gresik, tersebut.

Bahkan, termasuk salah satu media terbesar di Jerman. Yakni, Die Zeit. Pada terbitan Kamis (4/11), media mainstream itu menuliskan artikel panjang berbahasa Jerman dengan judul: Was Greta kann, kann ich auch! Artinya, apa yang bisa dilakukan Greta, saya juga bisa!

Greta juga salah seorang pegiat lingkungan. Nama lengkapnya Greta Thunberg. Salah satu aksinya yang mendapat sorotan adalah ketika berunjukrasa tunggal untuk menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim (COP25). Saat itu, usia gadis asal Swedia tersebut baru 15 tahun. Artinya, lebih tua daripada Nina, panggilan akrab Aeshnina Azzahra Aqilani.

Dalam ulasannya, Die Zeit juga terpukau dengan pidato Nina saat menjadi salah satu narasumber di Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam, Belanda, pada 12 Oktober 2021 lalu. Sebuh forum yang menghadirkan para pegiat lingkungan dan akademisi dari beberapa perwakilan dunia. Beberapa di antaranya bertitel profesor dan doktor. Sedangkan Nina hanya pelajar SMP.

Dalam pidatonya, Nina menyuarkan keresahannya atas maraknya pengiriman sampah plastik ke Indonesia. Pemasok limbah berbahaya untuk kesehatan itu antara lain dari negara Eropa. Termasuk Belanda dan Jerman. Pidato Nina juga mendapat beberapa kali tepuk tangan ratusan peserta.

Kedatangan Nina atas undangan dari salah satu non government organization di Belanda. Selain itu, Nina juga telah mendapat undangan untuk hadir dalam konferensi tingkat tinggi perubahan iklim (COP26) di Glasgow, Inggris. ‘’Beryukur saya mendapat kesempatan ini,’’ ujar Nina dihubungi Jawa Pos via telepon, Jumat (5/11) malam.

Selain ikut menyuarakan tentang lingkungan, terutama sampah plastik, Nina juga mengaku dapat pengetahuan banyak selama di Eropa. Mulai soal pengelolaan sungai hingga penanganan sampah plastik. ‘’Saya juga diundang dan berkesempatan mengunjungi satu-satunya lokasi daur ulang sampah plastik di Amsterdam,’’ ungkapnya.

Tidak seperti di tempat asalnya dan banyak daerah lain yang begitu saja membuang sampah plastik. Baik di jalan-jalan maupun di sungai. Padahal, sampah plastik sangat membahayakan untuk kesehatan tubuh. Di Amsterdam, cerita Nina, sampah plastik di-recycling menjadi serpihan-serpihan kecil. Selanjutnya, dijadikan pelet dan dimanfaatkan lagi menjadi wadah plastik hingga material untuk furniture.

Sepengetahuannya, di Indonesia proses daur ulang plastik memang sudah ada. Namun, minim teknologi sehingga dalam.prosesnya sangat berpotensi mencemari lingkungan terutama sungai. ‘’Di Amsterdam monitoring kualitas air oleh pemerintah kota sangat ketat. Karena itu, untuk masa depan anak-anak seperti saya, kami berharap pemerintah serius untuk menangani masalah sampah plastik,’’ pungkasnya.(jawapos.com)