Pembelaan Ayah yang Dituding Nodai 3 Putri Kandung, Sebut Mantan Istri Iri karena Diceraikan: Kayak Berhalusinasi!

Infomenia.net -  Seperti diketahui, belum lama ini sebuah cerita menghebohkan soal tudingan ayah kandung yang menodai tiga putrinya viral di...


Infomenia.net - 
Seperti diketahui, belum lama ini sebuah cerita menghebohkan soal tudingan ayah kandung yang menodai tiga putrinya viral di media sosial.

Hingga hari ini, jagat maya masih ramai membahas kasus dugaan pemerkosaan yang katanya dilakukan seorang ayah terhadap tiga putri kandungnya di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Adapun kasus itu dilaporkan oleh R, ibu dari tiga anak tersebut, ke Polres Luwu Timur pada Oktober 2019 silam.

R melaporkan mantan suaminya yang berinisial S karena dituding telah memperkosa tiga anak kandungnya sendiri.

Di sisi lain, S diketahui adalah seorang ASN alias Aparatur Sipil Negara di Inspektorat Pemkab Luwu Timur. Jabatannya adalah auditor madya.

Berbicara soal laporan, kasusnya rupanya sudah dihentikan eh Polres Luwu Timur pada Desember 2019.

Alasannya, yaitu karena tidak ada bukti kuat berdasarkan hasil visum dan pemeriksaan sejumlah saksi.

Nah, ramai dibicarakan, sosok S akhirnya buka suara terkait tudingan itu dan memberikan pembelaan.

Dilansir terkini.id dari kumparan pada Minggu, 10 Oktober 2021, S membantah semua tudingan dari mantan istrinya terkait perkosaan ke tiga anak kandung.

“Kalau bagi saya, hal ini sesuatu yang tidak pernah terjadi. Ini fitnah,” ungkap S.

Ia juga mengaku heran mantan istrinya itu menuduhnya melakukan pemerkosaan terhadap darah dagingnya sendiri.

Oleh karenanya, S menduga bahwa mantan istrinya merasa iri atau sakit hati karena perceraian mereka yang terjadi pada tahun 2017 lalu.

Bahkan, kata S, selama proses penyelidikan kasus itu, ia selalu siap diperiksa polisi. S mengatakan tidak melarikan diri ataupun menyembunyikan sesuatu dan selalu berupaya kooperatif.

Hingga kasus itu dihentikan pada Desember 2019 oleh Polres Luwu Timur, S tetap mengikuti kemauan mantan istri untuk melakukan visum di RS Bhayangkara Makassar.

“Selama ini rujukan ada di RS Bhayangkara. Apakah harus mengikuti kemauan seorang yang memaksakan diri atau ada motifnya. Ada rasa irinya karena diceraikan hingga akhirnya melapor di Makassar dan hasilnya sama (visum tidak ada bukti), jadi dihentikan kasusnya.”

S tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan iri. Saat ditanya terkait harta gono-gini atau semacamnya, ia tidak menjawab. Lagi-lagi dengan alasan privasi.

Usai melakukan visum di RS Bhayangkara Makassar, tim pendamping hukum dari LBH Makassar kemudian mengirim surat ke Polda Sulsel untuk melakukan gelar perkara.

Polda Sulsel lantas menggelar gelar perkara pada Maret 2020 dan menyatakan kasus dihentikan karena tidak ada bukti berdasarkan hasil visum dari RS Bhayangkara.

Berdasarkan ceritanya, S diketahui bercerai dengan R pada tahun 2017. Namun, sejak Agustus 2016, mereka sudah pisah ranjang.

Adapun alasan perceraian itu tidak dijelaskan oleh S karena katanya terkait aib seseorang.

S kemudian memilih keluar dari rumah, membiarkan mantan istri dan ketiga putrinya menempati rumah di kawasan Malili, Luwu Timur.

Meski sudah cerai, komunikasi mereka katanya terjalin sangat baik. Bahkan, S mengaku masih dan rutin mengunjungi ketiga anak di rumah mantan istrinya itu.

“Untuk ketemu anak usai cerai masih sering, bahkan antar jemput ke sekolah. Dalam seminggu tidak menentu karena mamanya juga sering chat saya untuk jemput anak, karena sekolahnya jauh. Biasa juga tinggal di rumah, dititipkan kalau (lagi) ke Makassar.”

Lantaran hubungan dengan mantan istri dan tiga anaknya menurutnya sangat baik, S pun kaget ketika dilaporkan ke polisi terkait dugaan pemerkosaan.

Ia mengaku begitu tidak menyangka mantan istrinya melakukan hal tersebut sehingga syok dan merasa difitnah.

“Jadi kayak berhalusinasi ini. Saya normal. Masa sampai begitu. Apalagi diisukan ikut kakak, ikut teman. Orang tua dari mana tega lihat anaknya dibegitukan?” tandasnya.(terkini.id)