Kronologi Pelecehan di KRL yang Direspons Ngegas Twitter KAI Commuter

Infomenia.net -  KAI Commuter telah meminta maaf kepada pihak korban pelecehan seksual di KRL lantaran akun Twitter resmi KAI Commuter sempa...


Infomenia.net - 
KAI Commuter telah meminta maaf kepada pihak korban pelecehan seksual di KRL lantaran akun Twitter resmi KAI Commuter sempat 'ngegas' menanggapi aduan perihal proses tindak lanjut pelecehan tersebut. Begini kronologi pelecehan seksual menurut korban.
Kronologi ini disampaikan korban, seorang perempuan yang setiap harinya menggunakan KRL untuk pulang-pergi bekerja Bekasi-Jakarta.

Pelecehan seksual terjadi di KRL KA 1452 gerbong umum yang melaju dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Cikarang Bekasi. Pelecehan seksual terjadi di stasiun Jatinegara, Jumat (4/6) petang. Saat itu, korban pulang kerja.


Di Stasiun Manggarai, sore

Korban menunggu kereta di Stasiun Manggarai untuk pulang ke Cikarang, Bekasi. Awalnya dia tidak mau naik kereta yang kelewat penuh, namun dia tidak punya banyak pilihan.


"Tapi, karena saya nunggu tidak ada lagi kereta, saya lihat di jadwal kereta tujuan Bekasi masih jauh, maka saya naik kereta itu," kata korban menyampaikan kepada detikcom, Sabtu (5/6/2021).

Di dalam gerbong, korban berdiri. Pelaku dilihatnya berdiri di depan. Namun pelaku pindah posisi.

"Tiba-tiba dia pindah berdiri ke belakang saya dan menghadap ke saya. Saya masih berpikir positif, karena memang ramai, padat, sesak, sumpek, seperti sebelum COVID. Mungkin dia nyari posisi karena ramai," kata korban.

Terjadi pelecehan seksual

Pihak PT KAI Commuter menyatakan pelecehan seksual ini terjadi di KRL KA 1452 pukul 19.00 WIB. Menurut korban, awalnya pelaku terasa seperti mendorong ke arahnya dari belakang.

"Tiba-tiba tas dia terasa mendorong ke saya. Saya berpikir, aduh ini risi. Saya lihat dari kaca, memang ramai. Saya pikir dia terdorong orang," kata korban.

"Tapi lama-lama kok ada yang aneh. Dari pantat saya kayak ada yang menyenggol, seperti ada yang menggesek. Saya risi, saya khawatir ada yang berbuat macam-macam," kata korban.

Benar saja, dia melihat pelaku mengeluarkan alat kelaminnya. Korban kaget tanpa sempat merekam.

Korban menendang pelaku

Korban memang tidak merekam, melainkan refleks menendang pelaku. Korban juga memarahi pelaku dengan suara kencang.

"Saya refleks, saya tendang sekencang-kencangnya itu orang. 'Mau ngapain lu?!' Saya marah-marah, saya teriak di KRL. Orang-orang cuma bengong. Saya berpikir orang-orang tidak ada yang 'ngeh (memperhatikan)' karena sepadat ini," kata korban.

Pelaku dilihatnya sangat cepat memasukkan alat kelaminnya ke celana kolornya. Orang-orang di gerbong tidak sempat melihat. Orang-orang di gerbong menyarankan agar korban melaporkan pelecehan seksual ini.

Pelaku ditarik ke luar

Pelaku ditarik keluar gerbong oleh petugas KRL. Korban juga dipersilakan bersaksi. Korban naik ke pos petugas di lantai 2 Stasiun Jatinegara.

Pelaku tidak mengaku, korban dinilai tak punya bukti.

Pelaku tidak mengakui perbuatannya. Selain itu, korban dianggap tidak punya bukti kuat bahwa pelecehan seksual telah terjadi pada dirinya. Inilah yang membuat korban merasa kesal dan tidak terima.

"Pada saat itu ada teman kantor saya, tapi posisinya agak jauh, tapi tetap satu gerbong. Dia cuma melihat saya saat menendang. Bukti itu dinilai tidak kuat menurut petugas. Saya tidak dibantu untuk memproses karena tidak ada bukti kuat. Ya saya marah dong. Memang saya halu?" kata dia.

Korban merekam pelaku

Korban merasa tidak dibela oleh petugas di stasiun. Korban memutuskan merekam saja pria yang dia lihat sebagai pelaku pelecehan seksual tersebut dan memviralkannya via media sosial.

"Si petugas pun juga malah cuma bilang, 'Masnya kan nggak merasa. Mas sebagai laki-laki minta maaf saja.' Saya kesel dong, seakan-akan saya ini cuma halu doang. Saya tidak terima. Pelaku merasa mendapat pembelaan dari petugas. Saya bilang, 'Saya nggak mau memproses ini lagi. Saya mau memviralkan ini aja.'," kata korban.(detiknews.com)