Viral Curhat Muslimah Bongkar Parahnya Rasisme di Korsel, Gak Nyangka! Sampai Diperlakukan Begini

Infomenia.net -  Pengakuan blak-blakan seorang muslimah cantik asal Uzbekistan soal diskriminasi yang dialaminya selama menetap di Korea Sel...


Infomenia.net - 
Pengakuan blak-blakan seorang muslimah cantik asal Uzbekistan soal diskriminasi yang dialaminya selama menetap di Korea Selatan, viral dan membuat publik dunia tercengang.  

Wanita tersebut menetap di Korsel dan resmi mengganti kewarganegaraannya sejak tahun 2007. Ia juga mengganti nama menjadi Hong Hana.       

"Halo perkenalkan nama saya Hong Hana, saya berusia 32 tahun dan berasal dari Uzbekistan. Akan tetapi saya berganti nama ketika pindah ke sini (Korea Selatan). Nama saya dulu Abdullayeva Dilafruz Bahodirjanovna, diambil dari nama kakek dan ayah saya," ceritanya di Kanal YouTube KBS WORLD Indonesian, dikutip Senin, 31 Mei 2021. 

Dalam tayangan Youtube, Hana bercerita bahwa awalnya ia merasa nyaman berada di Korea Selatan.     

"Ketika saya datang pertama kali ke Korea, saya merasa sangat senang dan merasa nyaman ketika berada di kota ini. Saya sangat bahagia karena impian saya menjadi nyata. Cuaca di Korea sangat dingin," ujarnya. 

Namun perasaan nyaman itu berubah seketika tatkala ia mulai mendapat perlakuan diskriminatif karena penampilan berhijabnya sebagai muslimah. 

Di restoran, Hana tak dilayani dengan baik karena mamakai hijab. 

"Saya bertanya apakah menu lauk pauk yang ada di restoran tersebut, ia malah memanggil staf lainnya untuk melayani saya. Ketika ada orang Korea baru dilayani dengan baik dan ramah. Saya merasa didiskriminasi dan sedih," katanya. 

Begitu juga ketika Hana ingin membeli sebuah sepatu. Pelayan justru memandangnya rendah dan tidak percaya Hana mampu membeli sepatu berharga mahal itu. 

"Saya merasa seperti manusia pada umumnya. Saya ingin membeli sepatu, saya bertanya ini harganya berapa? Dan pelayan toko tersebut malah mengatakan apakah saya mampu membeli sepatu tersebut? Karena sepatu itu harganya mahal. Padahal saya akan membeli sepatu itu," lanjut Hana. 

Orang-orang kerap memandangnya aneh lantaran mengenakan hijab. Bahkan pernah ada yang menarik hijabnya dan memaksa Hana melepas hijab di tempat umum. 

"Saya sedang membeli bahan makanan, ada wanita yang tiba-tiba menarik hijab saya. Saya terkejut dan bertanya ini ada apa? Lalu dia menyuruh agar saya melepaskan hijab saya. Kamu ini di Korea, harus lepaskan hijab itu," cerita Hana. 

Di Korea Selatan, Hana bekerja sebagai penerjemah karena kemampuan berbahasanya sangat baik. Dia menguasai bahasa Inggris, Korea, Rusia, dan Uzbekistan. Namun, di lingkungan kerjanya dia juga sering didiskriminasi. 

"Orang-orang selalu melihat saya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada yang sampai bertanya kepada rekan kerja saya, tentang siapa diri saya? Mengapa saya bekerja di sini dan apakah saya memenuhi standar? Jujur saya merasa sedih dan sangat sakit diperlakukan seperti itu," katanya. 

Bahkan, Hana pernah dianggap sebagai teroris ketika hendak mengurus dokumen di kantor pemerintahan. 

"Dia bertanya apakah saya seorang teroris? Ini hal yang terdengar gila, itu terjadi pada saat 2013. Saya tak dapat berkata apa-apa. Dia ingin memeriksa dompet saya. Kejadian itu lagi-lagi membuat saya sedih. Saya sempat sebulan tidak keluar rumah karena ketakutan," ujarnya lagi. 

Semua perlakuan diskriminatif ini tak ayal membuat Hana depresi dan kesal. Dia bahkan sempat melepas hijabnya selama empat bulan karena putus asa. Apalagi ketika anaknya mulai ikut menjadi korban diskriminasi.     

Hana membesarkan anaknya seorang diri usai bercerai dengan suaminya yang merupakan warga Korea Selatan. Namun, Hana akhirnya kembali memakai hijabnya dan memberanikan diri mengungkap diskriminasi yang ia alami. 

"Dulu di kota tempat tinggal saya, semua wanita memakai hijab. Dan ketika saya masih berusia 10 tahun, saya diberikan hijab oleh nenek. Dan itu sangat berarti bagi saya dan membuat saya gembira. Hijab merupakan simbol dari agama saya," tegasnya. (reqnews.com)