Niat Mulia di Balik Heboh Uang Rp17 M Pasutri Tuban Tinggal Rp50 Juta

Infomenia.net -  Kisah Kampung Miliarder Tuban belum lama ini viral di media sosial. Penghuni Desa Sumurgeneng yang terletak di Kecamatan Je...


Infomenia.net - 
Kisah Kampung Miliarder Tuban belum lama ini viral di media sosial. Penghuni Desa Sumurgeneng yang terletak di Kecamatan Jenu itu mendadak jadi kaya raya. Tak terkecuali pasangan suami istri Ali Sutrisno dan Siti Nurul.

Pasangan yang sudah lama tinggal di desa tersebut mendapatkan uang ganti rugi lahan yang dibeli PT Pertamina untuk dijadikan kilang minyak. Uang ganti rugi tersebut sontak membuat warga Desa Sumurgeneng bergelimang harta. 

Rata-rata warga di sana mendapatkan Rp8 miliar, namun Ali dan Siti mendapatkan uang totalan Rp15,8 miliar. Dengan uang miliaran rupiah itu, Ali dan Siti menggunakannya untuk membeli berbagai macam harta.

"Kemarin Ayah saya mendapatkan Rp15,8 miliar. Saya belikan 4 mobil, sawah serta ladang," ungkap Ali Sutrisno dikutip dari video YouTube OOTD Trans 7.

Ali mengaku sengaja membeli mobil dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada anggota keluarganya. Salah satu mobil diberikan untuk adik. Istrinya juga mendapat satu mobil. Sedangkan Ali menyimpan dua mobil untuk dirinya sendiri.

Pada mulanya Ali tidak bisa membawa mobil, Bunda. Tak ada anggota keluarganya yang memiliki kemampuan untuk menyetir mobil. Ia tergiur untuk karena melihat tetangga saling berbondong-bondong membeli mobil.

Ali memborong mobil dari berbagai macam merek. Harganya berkisar mulai dari Rp180 juta, Rp265 juta, Rp350 juta hingga Rp400 juta. Meski awalnya tidak bisa menyetir mobil, kini ia sudah belajar dan mampu mengemudikannya sedikit demi sedikit.

"Mulanya tidak bisa, sekarang belajar jadi bisa," kata Ali.

Hampir setiap rumah warga kini memiliki mobil yang terparkir di halaman. Padahal mereka sebelumnya tidak memiliki garasi karena belum pernah menampung kendaraan roda empat. 

Namun tidak semua warga memilih menggunakan uang mereka untuk mobil. Simak kisah lengkapnya di halaman berikut ini.

Warga Desa Sumurgeneng menjual lahan mereka kepada kilang minyak milik proyek Pertamina, Grass Root Refinery (NGRR), tahun 2020. Pertamina bekerjasama dengan perusahaan asal Rusia, Rosneft untuk membeli lahan warga dengan harga Rp600 ribu hingga Rp800 ribu per meter.

Nilai paling minim yang diterima warga adalah Rp4,5 miliar. Sedangkan nilai tertingginya mencapai Rp26 miliar. Selain menghabiskan uang untuk membeli mobil, ada juga yang memakainya untuk investasi, modal usaha, dan biaya pendidikan anak. 

Investasi yang mereka lakukan biasanya dalam bentuk tanah. Mereka membeli sawah dan ladang baru setelah menjual lahan mereka ke Pertamina. Ada juga yang berinvestasi dengan memakai reksadana dan obligasi.

Ali Sutrisno sendiri menghabiskan Rp3,8 miliar untuk membeli ladang. Ia mengaku tetap ingin hidup sebagai petani meski sudah kaya raya.

"Saya nikmati lahan yang baru. Makanya saya beli sawah dan ladang yang baru. Awalnya jadi petani, ya akhirnya mau jadi petani lagi," ujar Ali. 

Lalu, pasutri juga memiliki niat mulia yakni memberangkatkan keluarganya ke Tanah Suci. Total ada 9 orang yang bakal diberangkatkan, termasuk suami, sepupu dan orang tuanya.

Namun demikian, belum tahu kapan niat itu akan terwujud. Sebab, saat ini masih masa pandemi COVID-19.

"Ya mau memberangkatkan ke tanah suci. Ini kan impian umat Islam, cita-cita lah. Doanya saja semoga berkah," kata Siti Nurul, dikutip dari detikcom.    

Kampung Miliarder / Foto: Ainur Rofiq 

Dalam waktu dua bulan, Ali Sutrisno dan Siti Nurul sudah menghabiskan miliaran rupiah. Uang mereka kini hanya tersisa Rp50 juta. Uang ganti rugi senilai Rp 15,8 miliar itu dibagi dua bersama adiknya.

Tak hanya menghabiskan uang untuk mobil dan investasi, Ali Sutrisno juga membelanjakan sebagian harta untuk perhiasan emas. Siti Nurul memiliki cincin emas dengan berat 5 gram. Mereka juga melakukan renovasi rumah. 

"Tinggal di rumah yang lama tapi sudah direnovasi. Sekarang (uang) tinggal sedikit, sisa Rp50 juta dalam dua bulan," kata Ali.

Ali mengaku tidak masalah dengan hal itu lantaran ia masih ingin menekuni pekerjaan sebagai petani dan mengurus lahan yang baru ia beli. Meski sudah menjadi miliarder, warga Desa Sumurgeneng tetap beraktivitas seperti biasa yakni bertani dan memelihara hewan ternak.

"Masyarakat Sumurgeneng ini sebenarnya sudah banyak yang kaya. Tak sedikit miliki lahan pertanian yang luas dan hasil panennya selalu melimpah. Seperti saya ini ya tiap hari ke ladang meski habis terima uang dari pembebasan tanah," kata Wantono, salah satu warga Desa Sumurgeneng.(haibunda.com)