Komponen Utama Vaksin Nusantara dari AS, Gus Nadir Beri Komentar Menohok

Infomenia.net -  Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir turut menyoroti Vaksin Nusantara.  Vaksin...


Infomenia.net - 
Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir turut menyoroti Vaksin Nusantara. 

Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto digadang-gadang sebagai buatan anak bangsa atau dalam negeri. 

Mengacu pada hal itu, tak heran bila banyak pihak yang diimbau untuk mendukung Vaksin Nusantara. 

“Cinta produk dalam negeri makanya dukung Vaksin Nusantara dong,” kata Gus Nadir sebagaiamana dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari Twitter @na_dirs, Jumat, 16 April 2021.  

Namun belakang ini terbongkar fakta mengejutkan dari Vaksin Nusantara. 

Ternyata komponen utama Vaksin Nusantara berasal dari Amerika Serikat (AS). Bahkan peneliti utama Vaksin Nusantara pun berasal dari AS. 

“Eh tapi gini loh. Semua komponen utama pembuatan vaksin ini diimpor dari USA (antigen, GMCSF, medium pembuatan sel, dll). Peneliti utamanya juga dari USA,” kata Gus Nadir.. 

"Vaksin nUSAntara dong?" Kata Gus Nadir. 

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membeberkan fakta mengenai komponen utama dari Vaksin Nusantara. 

Dalam evaluasi uji klinis Vaksin Nusantara, BPOM menyebutkan bahwa komponen utama vaksin tersebut berasal dari perusahaan Amerika Serikat (AS), Aivita Biomedical Inc. 

"Semua komponen utama pembuatan vaksin dendritik ini di Import dari USA (antigen, GMCSF, medium pembuatan sel, dan alat-alat untuk persiapan)," tulis Kepala BPOM, Penny K Lukito dalam rilisnya, Rabu, 14 Maret 2021. 

Catatan lain yang disorot BPOM adalah data-data penelitian disimpan dan dilaporkan dalam electronic case report form, menggunakan sistem elektronik dengan nama redcap cloud yang dikembangkan Aivita Biomedical Inc dengan server di Amerika. 

"Kerahasiaan data dan transfer data keluar negeri tidak tertuang dalam perjanjian penelitian, karena tidak ada perjanjian antara peneliti Indonesia dengan AIVITA Biomedical Inc USA," kata Penny. 

Selain itu, BPOM mencatat keterlibatan peneliti asing dalam riset vaksin nusantara, sehingga dalam dengar pendapat dengan Komnas Penilai Obat ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh peneliti utama dari Indonesia. 

"Proses pembuatan vaksin sel dendritik dilakukan oleh peneliti dari AIVITA Biomedical Inc, USA, meskipun dilakukan training kepada staf di RS. Kariadi tetapi pada pelaksanaannya dilakukan oleh dari AIVITA Biomedica Inc, USA. Ada beberapa komponen tambahan dalam sediaan vaksin yang tidak diketahui isinya dan tim dari RS. Kariadi tidak memahami," tulis Penny. 

BPOM menyebut, riset Vaksin Nusantara harus dikembangkan lagi di fase praklinik sebelum masuk ke uji klinik untuk mendapatkan 'basic concept yang jelas'. 

Penelitian praklinik, yang juga dipermasalahkan BPOM, sebaiknya dilakukan dengan pendampingan Kemenristek/BRIN.(pikiran-rakyat.bekasi.com)