Bohongi Rakyat dan Jokowi, Ahli Epidemiologi Ungkap Vaksin Nusantara Penelitian Asing dan Tak Sesuai Standar

Infomenia.net -  Polemik vaksin nusantara kian memanas. Kali ini Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) dr. Pandu Priono yang berani b...


Infomenia.net - 
Polemik vaksin nusantara kian memanas. Kali ini Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) dr. Pandu Priono yang berani buka-bukaan tentang vaksin tersebut. 

Menurut keterangan dr. Pandu Priono, vaksin nusantara bukan hasil produk dalam negeri. 

Pasalnya penelitian dilakukan oleh tim peneliti yang berasal dari Aivita Biomedical Inc yang berpusat di California, Amerika Serikat. Selain itu, antigen virus juga diimpor. 

"Tim Peneliti Indonesia TIDAK BISA menjawab proses penelitian. Ternyata dikerjakan oleh tim peneliti dari @AIVITABio dan antigen virus juga diimpor. Klaimnya sebagai 'Karya Anak Bangsa Indonesia' yg harus didukung dan @BPOM_RI dituduh tidak mendukungnya. @KemenkesRI @DPR_RI," kata Pandu, dikutip Seputartangsel.com dari akun Twitter @drpriono1 pada hari Rabu, 14 April 2021.  

Tangkapan layar cuitan Ahli Epidemiologi UI dr. Pandu Priono Terkait Vaksin Nusantara 

Dia mengatakan, selama ini publik hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah dibohongi. 

Selain itu, vaksin nusantara juga belum mendapat izin dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemeristek). 

"Jelas ada pembohongan publik, juga pada Presiden @jokowi, anggota @DPR_RI dengan klaim sebagai karya anak bangsa Indonesia. Ternyata vaksin nusantara adalah penelitian asing, tidak ada ijin dari @KemenristekBRIN dan menggunakan anggaran @KemenkesRI. Masih mau terus dibohongi?" ujarnya. 

Lebih lanjut, dr. Pandu Priono mengatakan bahwa pembuatan vaksin nusantara tidak memenuhi standar, termasuk untuk kepentingan keselamatan relawan. 

Karenanya, pelaksanaan uji klinis vaksin tersebut dengan tegas ditolak oleh BPOM RI. 

BPOM RI diketahui menemukan sejumlah aspek yang tidak dipenuhi dalam produksi vaksin nusantara. 

Di antaranya yaitu belum terpenuhinya imun humoral dan imun selular, kecerobohan mendasar termasuk masalah etika, data yang hilang dan diganti peneliti, hingga vaksin yang dibuat tidak dalam kondisi steril. 

"Temuan lain oleh @BPOM_RI, adanya kecerobohan yg mendasar termasuk masalah etika, dan masalah data yg hilang, diganti oleh peneliti. Ada yg menjadi tanggung-jawab Balitbangkes yg perlu dijelaskan. @KemenkesRI," paparnya. 

"@BPOM_RI juga melakukan inspeksi, tidak hanya mempelajari laporan saja. Yg mengejutkan dan menunjukkan kecerobohan yg stupidity: TIDAK DIBUAT dalam KONDISI STERIL!" lanjutnya.(seputartangsel.com)