5 Kejanggalan Kasus Sate Beracun, Anak Driver Ojol Tewas Usai Buka Puasa, Musibah Order-an Offline

Infomenia.net -   Berikut 5 kejanggalan kasus sate beracun yang menewaskan .   Kejanggalan mulai terlihat sejak driver ojol bernama Bandiman...


Infomenia.net - 
Berikut 5 kejanggalan kasus sate beracun yang menewaskan .  

Kejanggalan mulai terlihat sejak driver ojol bernama Bandiman mendapat permintaan order offline dari seorang wanita. 

Makanan yang dikirim tanpa melalui aplikasi tersebut juga akhirnya tidak diterima di alamat tujuan. 

Tuan rumah merasa tidak memesan makanan apapun dan meminta Bandiman membawa sate tersebut cuma-cuma. 

Simak ulasan selengkapnya: 

1. Tidak mau pesan lewat aplikasi   

Musibah yang dialami driver ojol bernama Bandiman berawal usai Ia istirahat dan menunaikan salat Ashar di sebuah masjid di Kota Yogyakarta Minggu (25/4/2021). 

Tiba-tiba, sore itu Bandiman dihampiri oleh perempuan tak dikenal dan dimintai tolong untuk mengantarkan sebuah paket berisi sate bakar ke wilayah Kasihan, Kabupaten Bantul. 

"Waktu saya siap-siap jalan, tiba-tiba ada perempuan menghampiri saya." 

"Dia minta tolong antarkan paket ke daerah Kasihan ke pak Tomy. Saya bilang, pakai aplikasi saja. Terus mbaknya alasannya gak ada aplikasi Ojol," jelasnya. 

2. Pakai nama Pak Hamid  

Tanpa curiga, sore itu juga Bandiman bergegas menuju rumah penerima paket yang berada di daerah Kasihan, Kabupaten Bantul. 

"Dia minta offline, ya saya antarkan ke penerima tersebut" ucapnya. 

Bukan menyebut namanya, si perempuan justru meminta Bandiman mengatakan jika paket makanan tersebut dari seorang pria bernama Pak Hamid. 

"Perempuan itu berpesan, pengirim atas nama pak Hamid," ungkap Bandiman. 

3. Penerima tidak merasa memesan makanan 

Sesampainya di rumah tujuan penerima paket, Bandiman lalu menelepon ke nomor kontak bernama Tomy yang diberikan oleh perempuan yang ia temui di masjid. 

Telepon Bandi pun direspon oleh Tomy. Namun terjadi proses konfirmasi yang cukup lama karena keluarga Tomy merasa tidak memesan makanan apa pun pada hari itu. 

"Saya tanya, lah ini paket sudah sampai alamatnya bener, nomornya bener kok ndak diterima. Terus bapaknya bilang, udah dibawa kamu saja pak, buat buka puasa," terang Bandiman. 

4. Mengeluh rasa sate pahit   

Setelah pemilik rumah enggan menerima paket kiriman misterius itu, Bandiman kemudian pulang menuju rumah dengan membawa satu paket sate bakar. 

Sesampainya di rumah, sang istri bernama Titik Rini dan NFP kemudian membuka paket sate bakar yang dibawa oleh Bandiman. 

Bandiman, beserta istri dan NFP kemudian memakan sate tersebut. 

Tak berselang lama, NFP yang memakan begitu lahap mengeluhkan rasa sate yang pahit. 

"Pas saya makan itu gak apa-apa. Ternyata racunnya itu ditaruh dibumbunya. Anak saya bilang bumbunya pahit. Dia lalu ke dapur dan sudah muntah-muntah. Istri juga muntah-muntah. Pas tak pastikan anak saya sudah tidak sadarkan diri," jelasnya. 

5. Anak Bandiman Tewas 

Akibat panik Bandi kemudian membawa putranya ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, NFP sudah tak tertolong lagi. 

"Sudah meninggal pas perjalanan ke rumah sakit. Tapi hasil pemeriksaan di laboratorium itu katanya racunnya lebih kuat dari racun pupuk pertanian," pungkasnya. 

Adapun bocah naas yang meninggal dunia karena menyantap sate dari ayahnya berinisial NFP, berusia 10 tahun. 

NFP tinggal di Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul dan meninggal pada Minggu (25/4/2021). 

NFP masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) Muhamadiyah IV Karangkajen, Sewon, Bantul. 

Keterangan kepala sekolah 
 
Kepala Sekolah SD Muhamadiyah IV Karangkajen, Jawadi mengatakan, dirinya mendapat kabar jika anak didiknya telah meninggal dunia sekitar pukul 18.15 WIB. 

Ia ditelepon oleh seorang staf sekolah di SD Muhamadiyah IV Karangkajen yang mengabarkan bahwa murid berinisial NFP dinyatakan meninggal karena keracunan.

Saat itu juga, Jawadi meminta para guru untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. 

"Begitu dipastikan ternyata memang betul. NFP sudah meninggal karena keracunan," katanya, saat ditemui Tribunjogja.com, Senin (26/4/2021) 

Jawadi sempat tak percaya, karena menurut pengetahuannya jika seseorang keracunan makanan tidak mungkin bereaksi sangat cepat. 

"Kalau keracunan makanan itu gak mungkin langsung meninggal. Anak itu kan meninggalnya pas ketika di jalan menuju rumah sakit. Tapi ya sekarang masih diselidiki polisi," jelas Jawadi. 

Jawadi menuturkan, pada Minggu sore, NFP masih terlihat mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan di sebuah masjid tak jauh dari tempat tinggalnya. 

Saat menjelang magrib, NFP izin pulang karena berniat untuk buka puasa bersama bapak dan ibunya di rumah. 

"Magrib itu bapaknya pulang bawa makanan, bawa sate. Setelah itu dimakan bersama-sama, dan tak lama ibu dan NFP itu keracunan," tuturnya. 

Ditemui terpisah, orang tua NFP, Bandiman masih terlihat syok atas kejadian yang menimpa keluarganya pada Minggu sore. 

Komentar Pakar UGM
 
Kasus kematian NFP (8), siswa SD yang meninggal setelah memakan sate menarik perhatian. 

Diduga, NFP dan ibunya memakan sate yang berisi racun sehingga bereaksi cepat ke dalam tubuh. 

“Betul, NFP memang meninggal karena racun,” ungkap dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF kepada Tribun Jogja, Senin (26/4/2021). 

Namun, ia mengakui, sulit untuk mengetahui jenis racun apa yang terkandung di sate itu jika hanya membaca dari berita. 

“Kita harus tahu gejalnya dulu. Harus lengkap,” tuturnya lagi. 

Gejala itu kemudian dihubungkan dengan hasil pemeriksaan pada korban serta hasil uji sampel dari sisa makanan. 

Ditanya apakah mungkin racun yang digunakan mirip dengan sianida, Lipur enggan berspekulasi. 

Menurutnya, apa yang terjadi menimpa NFP harus menunggu pernyataan resmi dari aparat dan sebaiknya tidak berasumsi. 

“Tetap harus nunggu dari hasil lab ya, biar bisa dipastikan,” tandasnya. 

Ada 4 Saksi yang diperiksa 
 
Kapolsek Sewon, Kompol Suyanto mengatakan pihaknya masih menunggu hasil laboratorium makanan. 

Sisa sate yang dikonsumsi oleh Naba sudah dikirimkan ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta. 

"Kami masih menunggu hasil laboratorium. Dugaan dari makanan, makanya kami menunggu hasil pemeriksaan makannya. Saat ini masih belum keluar (hasil laboratorium), mungkin tidak lama lagi,"katanya, Selasa (27/04/2021). 

Polsek Sewon tidak melakukan autopsi jenazah bocah 8 tahun itu. 

Hal itu karena pihak keluarga keberatan. 

Sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, pihaknya melakukan pendalaman pemeriksaan. 

Salah satunya dengan mengambil keterangan dari saksi-saksi. 

Hingga saat ini sudah ada sekitar empat saksi yang diperiksa. 

Saksi tersebut berasal dari keluarga korban dan juga dari penerima makanan yang asli (Tomy). 

"Saksi sudah kami ambil keterangan, dari keluarga korban termasuk orangtua, kemudian penerima makanan itu. Kan istrinya di rumah, kemarin ayah korban kan bertemu dengan istri Tomy dulu sebelum akhirnya dibawa pulang,"terangnya. 

Jajarannya juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara, termasuk di lokasi pertama Bandiman, ayah korban menerima pesanan offline. 

"Kami sudah cek ke sana dengan INAFIS juga dengan puskemas. Kita cek apakah ada kemungkinan CCTV yang merekam, karena di sana banyak sekali pohon-pohon,"tambahnya.(suryamalang.com)