Wu Lien Teh, Dokter Malaysia Penemu Masker Wajah Peredam Virus Corona

Infomenia.net -  Dr Wu Lien Teh menjadi tokoh penting dunia dalam mengendalikan  wabah penyakit  yang bisa tersebar melalui udara. Ya, dia m...


Infomenia.net - 
Dr Wu Lien Teh menjadi tokoh penting dunia dalam mengendalikan  wabah penyakit  yang bisa tersebar melalui udara. Ya, dia merupakan penemu  masker wajah  yang sekarang menjadi kebutuhan pokok umat manusia dalam mencegah pandemik virus Corona. 

Wajib diketahui, Wu Lien-teh, adalah ahli epidemiologi yang memelopori penggunaan masker wajah untuk mengendalikan epidemik lebih dari satu abad sebelum munculnya COVID-19. 

Situs newscientist.com menginformasikan, Wu Lien-teh, lahir di Penang, Malaysia, pada 10 Maret 1879 dan mendapat pendidikan di Inggris. Wu kemudian direkrut untuk menangani wabah penyakit mematikan di Timur Laut China pada Desember 1910. 

Orang pertama yang terkena wabah ini adalah penjebak marmut dan pedagang bulu. Mereka merupakan bagian dari perdagangan kulit marmut yang berkembang pesat di wilayah tersebut.

Dari pemeriksaan postmortem -yang pertama dilakukan di China- Wu berhasil mengisolasi dan membudidayakan bakteri yang bertanggung jawab atas penyakit tersebut. Dia mengidentifikasinya sebagai Yersinia pestis, yang diketahui dari epidemik pes sebelumnya.

Wu memahami penyakit itu dapat disebarkan melalui udara pernapasan dan tidak hanya ditularkan dari tikus atau kutu, seperti yang diyakini banyak orang pada saat itu.

Wu memproduksi masker yang terbuat dari katun dan kain kasa, dengan lapisan kain ekstra dan ikatan yang lebih aman guna menyempurnakan desain sebelumnya. Dia mendorong staf medis dan orang lain untuk memakai masker ini demi melindungi diri mereka sendiri, pertama kali penggunaan masker secara luas menjadi bagian dari strategi pengendalian epidemi. 

Namun temuan itu menemui beberapa perlawanan. Rekan Prancis-nya meninggal dunia karena wabah setelah menolak untuk memakai masker.

Wu juga menyarankan pihak berwenang untuk memberlakukan pembatasan pada pergerakan, termasuk menghentikan kereta, membatasi penyebaran penyakit, dan menginstruksikan orang yang sakit untuk mengisolasi diri. Dia juga membujuk para pejabat untuk mengesahkan kremasi jenazah, yang biasanya tidak diterima di China.

Kasus terakhir dari penyakit tersebut, yang menewaskan sekitar 60.000 orang, tercatat pada Maret 1911. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai wabah Manchuria.(sindonews.com)