Minyak Sawit Indonesia Menang Referendum Swiss

Infomenia.net -  Akhirnya, masyarakat Swiss memberikan lampu hijau untuk kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia. Lebih banyak yang m...


Infomenia.net - 
Akhirnya, masyarakat Swiss memberikan lampu hijau untuk kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia. Lebih banyak yang mendukung industri sawit Indonesia ketimbang penolaknya.

Dalam referendum yang digelar pada Minggu (7/3/2021), ada 51,6 persen pemilih yang mendukung kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia, sedangkan 48,4 persen menentang. Di mana, minyak sawit menjadi jantung referendum kesepakatan perdagangan bebas antara Swiss dan Indonesia.

Dengan kepakatan perdagangan bebas ini maka Swiss memberikan penurunan tarif bea masuk untuk produk pertanian tertentu, khususnya minyak sawit, di mana Indonesia merupakan penghasil dan pengekspor terbesar di dunia.

Selain itu, Indonesia dapat menjual produk industrinya di pasar Swiss dengan bebas bea. Sebagai imbal baliknya, Indonesia akan menghapus bea masuk atas produk ekspor dari Swiss seperti keju, produk farmasi, dan jam tangan.

Para pendukung kesepakatan tersebut berpendapat bahwa minyak sawit yang diimpor harus memenuhi standar lingkungan tertentu agar memenuhi syarat untuk pengurangan tarif.

Di kubu penentang kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia, mendasarkan argumen kepada masalah lingkungan yang belum tentu benar. Yakni, budi daya sawit memantik kerusakan hutan alias deforestasi.

Hasil ini, tentu saja ada andil Kedubes RI di Swiss yang dipimpin Muliaman D hadad. kerja kerasnya terbukti ampuh memenangkan pertarungan. Termasuk menggaet simpati Presiden Swiss, Guy Parmelin masuk kelompok pendukung Indonesia. Bahkan, sang presiden sendiri yang memimpin kampanye pro kesepakatan dagang dengan Indonesia.

Parmelin mengatakan, masyarakat Swiss merasa kesepakatan perdagangan itu benar dan seimbang. Terkait adanya kekhawatiran dari para penentang kesepakatan, perlu tetap diperhitungkan. Dan, Swiss mendukung Indonesia dalam memproduksi minyak sawit yang berkelanjutan. "Pemungutan suara ini bukanlah pilihan ekonomi atas hak asasi manusia dan lingkungan," ujar Parmelin dikutip Swissinfo.ch.

Parmelin mengisyaratkan, kesepakatan perdagangan di masa depan, dapat memasukkan klausul keberlanjutan. Tetapi dia menekankan, setiap kesepakatan itu unik dengan tantangannya sendiri-sendiri.

Bersamaan dengan pemerintah Swiss, sektor kelapa sawit di Indonesia juga menghela nafas lega. "Kami berterima kasih atas hasil pemungutan suara hari ini."

"Kesepakatan perdagangan ini merupakan solusi yang saling menguntungkan untuk industri minyak sawit, untuk Indonesia, Swiss, dan untuk semua negara EFTA, dan akan membawa manfaat positif bagi konsumen dan eksportir Swiss, serta petani kecil Indonesia. Suara Swiss menegaskan bahwa minyak sawit Indonesia berkelanjutan," kata juru bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

GAPKI berharap, hasil ini dapat membantu meyakinkan negara-negara Eropa lainnya bahwa minyak sawit dari Indonesia adalah terbaik di kelasnya terkait dengan keberlanjutan.(inilah.co)