Kronologi Pemenggalan Guru Prancis yang Dipicu Kebohongan Murid

Infomenia.net -  Fakta terbaru mengenai kasus pemenggalan seorang guru sejarah di Prancis yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasn...


Infomenia.net - 
Fakta terbaru mengenai kasus pemenggalan seorang guru sejarah di Prancis yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya pada tahun lalu kembali menghebohkan publik. Diketahui pemenggalan itu bermula oleh kebohongan seorang siswi berusia 14 tahun karena takut membuat ayahnya marah karena dirinya di skorsing.

Lalu bagaimana kronologi awal pemenggalan dan keterkaitan dengan penunjukkan karikatur Nabi Muhammad oleh seorang guru di Prancis? Berikut rangkuman kronologinya seperti dilansir dari AFP, Rabu (10/3/2021)

6 Oktober 2020

Siswi di sebuah sekolah berinisial Z mendapat hukuman skorsing selama dua hari lantaran kerap membolos. Saat ia sedang tidak di kelas, seorang guru sejarah dan geografi, Samuel Paty membahas soal tema 'dilema' dalam salah satu kelasnya.

Dia melontarkan pertanyaan yang berbunyi "Menjadi atau tidak menjadi Charlie?" yang merujuk pada tagar #JeSuisCharlie yang banyak digunakan untuk mendukung surat kabar satire Charlie Hebdo usai kantornya diserang teroris pada Januari 2015 yang menewaskan 12 orang.

Paty disebut telah meminta siswa-siswa Muslim di dalam kelasnya, yang dianggap akan terkejut, untuk menutup mata mereka atau berdiri sebentar di koridor saat dia menunjukkan karikatur itu kepada siswa lainnya.

8 Oktober 2020

Berselang dua hari kemudian, siswi Z tersebut kemudian mengaku kepada ayahnya bahwa dirinya diskors oleh Paty selama dua hari lantaran saat kelas sebelumnya ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Paty yang meminta siswa Muslim untuk meninggalkan ruang kelas sebelum dia menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

Mendengar penjelasan putrinya, ayah siswi itu, Brahim Chnina (48) yang kelahiran Maroko, merekam sebuah video dan membagikannya di Facebook di mana dia mengecam Paty dan menyerukan agar sang guru dipecat dari tempatnya mengajar di sekolah menengah Conflans-Sainte-Honorine.

Satu video lainnya yang diposting ke media sosial oleh Chnina berisi kemarahan Chnina yang menuduh Paty melakukan 'diskriminasi'.

Tidak hanya itu, Chnina juga mengadu ke sekolah dan melapor ke polisi, dengan menuduh Paty bersalah karena 'menyebarkan gambar porno', dan memicu tuduhan Islamofobia di sekolah. Isu ini beserta dua video Chnina itu menyebar luas, khususnya di media sosial, hingga mencapai Abdullah Anzorov (18), seorang imigran Chechnya yang teradikalisasi.

16 Oktober 2020

Sekitar 10 hari kemudian, Anzorov, pada siang waktu setempat, mendatangi Conflans-Sainte-Honorine, membayar dua remaja dari sekolah itu untuk mengidentifikasi Paty saat dia hendak pulang ke rumahnya

Pada sekitar pukul 17.00 waktu setempat, Anzorov membuntuti Paty, yang berjalan kaki pulang ke rumahnya setelah sekolah, melukai kepala korban dengan pisau dan kemudian memenggal kepalanya. Anzorov kemudian berteriak "Allahu Akbar", atau "Allah Maha Besar".

Laki-laki itu kemudian mengunggah foto korban ke akun Twitter, bersama cacian untuk PM Macron dan para "kafir" dan "anjing" di Prancis.

26 November 2020

Pengadilan Prancis mendakwa tiga dari empat siswa karena diduga membantu mengindentifikasi Paty. Ketiganya, yang berusia antara 13 dan 14 tahun, dituduh "terlibat dalam pembunuhan teroris,".

Seorang siswa lainnya, putri dari Brahim Chnina, yang meluncurkan kampanye daring yang ganas untuk melawan Paty. Dia mengecam penggunaan kartun oleh guru yang diterbitkan oleh mingguan satir Charlie Hebdo.

Usai didakwa, di hadapan para hakim anti-teroris yang menyelidiki kasus ini, siswi berinisial Z itu mengaku telah menuduh Paty secara keliru dan mengakui dirinya telah berbohong.

Dituturkan siswi ini bahwa dirinya sama sekali tidak ada di dalam kelas saat Paty menunjukkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad dari surat kabar satire Prancis, Charlie Hebdo, kepada siswanya. Saat itu, siswi ini sedang diskorsing karena beberapa kali membolos.

Dalam laporan media terkemuka Prancis, Le Parisien, pada Minggu (7/3) menyebut siswi itu berbohong karena ingin menyenangkan ayahnya.

"Dia tidak berani mengakui kepada ayahnya soal alasan sebenarnya dia dikeluarkan (dari kelas) sesaat sebelum tragedi, yang pada faktanya terkait dengan perilakunya yang buruk," demikian sebut Le Parisien dalam laporannya.

Para penyidik dilaporkan menyebut siswi itu menderita 'inferiority complex' dan sangat menghormati ayahnya.

"Jika saya tidak mengatakan itu kepada ayah saya, semua ini tidak akan terjadi dan tidak akan menyebar dengan begitu cepat," ucap siswi itu kepada hakim anti-teroris setempat, seperti dilansir media Prancis lainnya, RFI.

Dalam argumennya, pengacara siswi itu, Mbeko Tabula, bersikeras bahwa beban berat tragedi ini tidak boleh hanya diarahkan pada kliennya yang berusia 13 tahun.

"Perilaku ayahnya yang berlebihan, membuat dan memposting video yang memberatkan sang profesor yang menyebabkan peristiwa spiral ini," cetusnya. "Klien saya berbohong, tapi meskipun itu benar, reaksi ayahnya masih tidak proporsional," imbuhnya.

Terkait kasus ini, sang siswi didakwa melontarkan fitnah dan ayahnya didakwa terlibat dalam pembunuhan teroris. Kepada polisi setempat, Chnina dilaporkan menyebut dirinya 'idiot, bodoh'.

"Saya tidak pernah mengira pesan saya akan dilihat oleh teroris. Saya tidak ingin menyakiti siapapun dengan pesan itu. Sulit membayangkan bagaimana kita sampai di sini, bahwa kita kehilangan seorang profesor sejarah dan semua orang menyalahkan saya," ucapnya.(detiknews.com)