Cerita Pak RT soal KK Fajri dan 'Kuburan' untuk Korban Mutilasi

Infomenia.net -  Tersangka Djumadil Al Fajri (26) dan Laeli Atik Supriyatin (27) mengontrak sebuah rumah di Depok untuk dijadikan 'kubur...


Infomenia.net - 
Tersangka Djumadil Al Fajri (26) dan Laeli Atik Supriyatin (27) mengontrak sebuah rumah di Depok untuk dijadikan 'kuburan' jasad korban mutilasi Rinaldi Harley Wismanu (32). Kepada pemilik rumah, Fajri mengaku membawa istrinya untuk tinggal di sana.
Lokasi 'kuburan' itu ada di RT 02 RW 20 Permata Cimanggis, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Depok. Ketua RT 02 Usep mengatakan Fajri menghubunginya pada Senin (14/9) sore, menyampaikan bahwa ia dan keluarganya akan tinggal di sana.

"Waktu hari Senin sore kalau nggak salah itu ada WA ke saya, Pak Fajri ini dia mau ngontrak di rumah itu, kemudian dia hubungi pemilik dan sudah ada perjanjian tapi kayaknya via WA saja, nggak ketemu face to face," kata Usep saat ditemui di rumahnya, Sabtu (19/9/2020).

Usep kemudian meminta data diri kepada Fajri. Usep juga saat itu sempat menanyakan kapan Fajri akan menempati rumah tersebut.

"Terus saya minta data ke dia KTP segala macam, karena prosedur untuk ke sini, dikasih, terus saya tanya 'kamu mau masuknya kapan?' (dijawab Fajri) 'besok Pak rencananya, Selasa'," tuturnya.


Usep mengatakan, pada KK Fajri, tertera Fajri sudah memiliki satu istri dan dua anak. Tapi belakangan, setelah Fajri ditangkap, Usep baru mengetahui bahwa nama istri yang tertera pada KK berbeda dengan wanita yang ditangkap bersamanya, yakni Laeli Atik Supriyatin.

"Istri bener-nya kalau di KK-nya. Tadi pas ditangkap itu dia sama cewek, tapi bukan istrinya, namanya juga beda," kata Usep.

Belakangan, Usep baru mengetahui perempuan itu adalah Laeli, yang pernah viral di internet.

"Setelah ditangkap, ternyata KK-nya itu benar punya dia KK asli. Cuma kalau saya baca-baca di internet, kan ada blog istrinya juga--nggak tahu dari mana itu anaknya juga ada tiga--kalau nggak salah. Kalau saya baca juga cuma yang satu belum masuk daftar KK saja," tuturnya.

Karena sedang pandemi COVID-19, Usep kemudian meminta Fajri melakukan rapid test terlebih dahulu. Namun saat itu Fajri meminta waktu untuk rapid test dengan alasan sedang sibuk.

"(Dijawab Fajri) 'oh iya, Pak, siap, tapi saya belum bisa lakukan sekarang karena masih sibuk', 'terus kapan kira-kira, bisa nggak dalam waktu satu-dua hari ini, karena dari tim gugus tugas di sini juga', (lalu dijawab Fajri) 'ya sudah, nanti saya usahakan'," katanya.

Usep juga menjelaskan kepada Fajri bahwa setelah dia menempati rumah kontrakan tersebut, wajib menjalani isolasi 1-2 minggu. Usep juga meminta Fajri tidak berinteraksi lebih dahulu dengan tetangga.


"Nah besoknya, (Selasa 15 September) saya coba cek, dia datang apa nggak. Sampai malam saya lihat jam setengah 10--kebetulan saya juga keluar--itu masih kosong, masih gelap, nggak ada lampu yang menyala istilahnya. Ya sudahlah, saya pikir mungkin besok Rabunya," tuturnya.

Pada Rabu (16/9) pagi, saat hendak berangkat kerja, Usep tidak juga melihat ada aktivitas di rumah tersebut. Hingga pada Rabu (16/9) sore, Usep menerima informasi dari gugus tugas bahwa ada penggerebekan di rumah kontrakan tersebut.

Lebih lanjut Usep mengatakan, dirinya dan warga setempat tidak mencurigai aktivitas kedua tersangka. Tetangga di kontrakan tersebut juga tidak mendengar aktivitas menggali 'kuburan' di rumah tersebut.

"Nggak ada yang denger, yang sebelahnya nggak dengar, belakang kosong dan sampingnya kosong," tuturnya.

Usep menduga, Fajri menggali lubang pada Selasa (15/9) atau Rabu (16/9) pagi.

"Itu mungkin dia lakukan pagi atau malamnya, kita nggak ada yang tahu," tutupnya.(detik.com)