Misteri Dugaan Perempuan Indonesia Pelaku Bom Bunuh Diri di Filipina

Infomenia.net -  Perwira tinggi di angkatan bersenjata Filipina, Letnan Jenderal Cirilito Sobejana, mengatakan pelaku bom bunuh diri Jolo, F...


Infomenia.net - 
Perwira tinggi di angkatan bersenjata Filipina, Letnan Jenderal Cirilito Sobejana, mengatakan pelaku bom bunuh diri Jolo, Filipina Selatan yang menewaskan setidaknya 14 orang adalah seorang perempuan berkewarganegaraan Indonesia. Perempuan itu disebut istri dari pelaku bom bunuh diri di luar kam militer di kota Indanan, Sulu, pada 2019.


"Salah satu pelakunya kemungkinan adalah istri dari pengebom bunuh diri pertama Filipina, yang meledakkan diri di luar kam militer di kota Indanan, Sulu, pada 2019," kata Cirilito Sobejana kepada kanal berita ABS-CBN, dilansir BBC pada Rabu (26/8/2020).

Sobejana mengatakan penyelidik sudah mengumpulkan jasad pelaku bom bunuh diri Jolo untuk dilakukan tes forensik dan pemeriksaan lebih lanjut. Hingga kini identitas perempuan pelaku bom bunuh diri itu masih misterius.

Saat otoritas Filipina menuding perempuan WNI berada di balik serangan bom, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI langsung berkoordinasi untuk memperoleh informasi benar-tidaknya tudingan tersebut.

baca juga:


"Yang dilakukan adalah meminta informasi ke otoritas setempat, pertama apakah ada WNI yang menjadi korban dari ledakan dan kedua kebenaran dari berita yang beredar tersebut," ujar jubir Kemlu, Teuku Faizasyah, lewat pesan singkat, Selasa (25/8).

Ia meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi. Teuku mengimbau warga agar merujuk pada pengumuman resmi.

"Sejauh ini masih spekulatif berita-berita yang beredar. Sebaiknya kita merujuk pada pengumuman resmi pemerintah Filipina," kata Teuku.

Teuku menyampaikan belum ada informasi mengenai keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri tersebut.

"Sejauh ini belum ada informasi resmi mengenai hal ini," tutur Teuku.

Diketahui telah terjadi dua bom di Jolo, Filipina Selatan pada Senin (24/8). Ledakan terjadi sekitar pukul 11.45 waktu setempat.

Seorang wanita asal Indonesia diduga berada di balik itu. Wanita WNI itu disebut sebagai janda dari seorang pria Filipina yang lebih dulu jadi pengantin bom.

Media di Filipina menyebut nama laki-laki yang menjadi pengebom bunuh diri pertama di negara tersebut sebagai Norman Lasuca.

Dilansir ABS-CBN News dan Associated Press kemarin, hal tersebut diungkapkan oleh seorang pejabat militer Filipina. Identitas wanita WNI yang dimaksud tidak disebutkan lebih lanjut.


Belakangan kepolisian Filipina mengatakan masih menunggu tes DNA dua pelaku peledakan bom bunuh diri ini sebelum menyimpulkan identitasnya.

Kepala Kepolisian Bangsamoro Brigjen Manuel Abu mengatakan, kepolisian ingin "memastikan" sebelum membuat kesimpulan.


"Apa yang mereka katakan (militer) berdasarkan informasi intelejen. Sementara penyelidikan kami, kami ingin berdasarkan bukti, karena kami harus memberkas kasusnya," kata Abu seperti dikutip ABS-CBN, Rabu (26/08).

Otoritas Filipina meyakini Kelompok Abu Sayyaf yang pimpinannya ditangkap pekan lalu, Anduljihad "Idang" Susukan, bertanggung jawab atas ledakan ini.

BNPT sejauh ini belum bisa menaksir jumlah warga Indonesia yang terlibat dalam kelompok Abu Sayyaf.

"Mereka secara pasti angkanya tidak mudah dideteksi, tetapi, di antara mereka ini, memang ada komunikasi dan bahkan ada semacam hubungan dalam hal berkeluarga," kata Boy Rafli.

"Adanya tali perkawinan di beberapa warga negara kita dengan yang ada di Filipina Selatan, terutama mereka yang terdeteksi di sana itu, masuk dalam jaringan teror yang selama ini dimonitor oleh otoritas setempat," katanya.

Sebelum peristiwa ini, keduanya sempat menjalani program deradikalisasi di Indonesia setelah dideportasi dari Istanbul, Turki, karena terlibat dengan kelompok ISIS.

Perkawinan militan antara negara juga terkuak pada pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, warga Filipina yang menikah dengan orang Bekasi, Jawa Barat.

Boy Rafli mengatakan pihaknya siap membantu dalam hal informasi dan data jika ada dugaan keterlibatan warga Indonesia dalam aksi terorisme di Filipina.

"Jadi tentunya kita, dalam hal memberikan bantuan itu, termasuk nanti, melakukan penelusuran, atau katakanlah, investigasi informasi yang disampaikan otoritas Filipina," katanya.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Kota Davao, Filipina, Dicky Fabrian mengatakan tak ada WNI yang tercatat resmi tinggal di kota Jolo, Provinsi Sulu, Filipina.

"Secara resmi, berdasarkan data yang kita miliki, itu tidak ada WNI yang berdomisili di daerah tersebut, di Jolo," katanya kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/08).

Dicky juga mengatakan sampai saat ini belum ada informasi resmi yang ia terima terkait dengan pelaku bom bunuh diri yang terjadi Senin kemarin.

KBRI di Filipina mencatat warga Indonesia yang tinggal di negeri jiran ini kurang lebih 10.000 jiwa. Kebanyakan tinggal di Mindanao.(Detik.com)