Soal Posting Foto Viral Jenazah COVID-19 yang Tuai Kontroversi, Anji Beri 4 Jawaban

Infomenia.net -  Posting-an musisi, Erdian Aji Prihartanto atau yang akrab disapa Anji terkait foto jenazah pasien COVID-19 ramai diperbin...

Infomenia.net - Posting-an musisi, Erdian Aji Prihartanto atau yang akrab disapa Anji terkait foto jenazah pasien COVID-19 ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Bahkan, nama Anji sempat menjadi trending topic Twitter karena itu. 

Karena menuai banyak kritikan dan reaksi dari warganet,  Anji akhirnya menjawab soal unggahannya itu ke dalam 4 poin.



"Halo! Ada beberapa hal yang perlu saya tulis tentang tweet saya kemarin dan isi postingan di IG. Saya uraikan dulu ya beberapa poin yang saya bahas," tulis Anji pada akun twitter pribadinya, Senin, 20 Juli 2020.

Berikut jawaban Anji terkait posting-an dan tweetnya yang ramai di media sosial:

1. Tentang Jangan Memakai Masker saat Olahraga.


Anji sempat menuliskan sebuah tweet dimana dirinya mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan masker saat berolahraga. Hal itu diakui salah oleh Anji sebab dirinya menggunakan huruf kapital pada kata 'Jangan Memakai Masker'.

"Saya salah menempatkan pemakaian kapital dalam kalimat. Harusnya bukan di JANGAN MEMAKAI MASKER, tapi di SAAT KAMU OLAHRAGA. Akhirnya kesan yang timbul jadi jangan memakai masker. Padahal ‘jangan memakai masker ketika berolahraga’," tulis Anji.

Terkait hal itu, Anji mengaku sudah melakukan percobaan untuk menggunakan masker saat berolahraga. Ia mengaku sangat kesulitan bernapas.

"Saya coba sendiri beberapa kali, berjalan/berkegiatan sekitar 4 menit sambil memakai masker. Dan rasanya sangat sulit bernapas," tulisnya.


Dalam tweetnya Anji juga melampirkan beberapa foto terkait ulasan seorang dokter yang menyebutkan penggunaan masker saat berolahraga membuat kesulitan untuk bernapas.

"Dalam postingan terbaru di IG, bisa dilihat di akunnya, Kang Bima Arya juga menyebut hal sama seperti saya. Ada yang menyarankan, 'Mungkin sebaiknya Manji menyarankan untuk olahraga di lingkungan rumah saja, jadi tidak perlu memakai masker.' Menurut saya ini saran yang baik," tulis Anji.

2. Tentang Sudut Pandang Influencer atau Buzzer Terhadap Penyebaran Berita.

Pada poin kedua Anji membahas mengenai foto jenazah pasien COVID-19 yang banyak diunggah oleh berbagai akun-akun besar. Anji menyampaikan jika dirinya tidak mendiskreditkan Joshua sebagai fotografer foto itu.

"Ini adalah tentang perbedaan sudut pandang. Saya membaca viralnya foto Joshua Irwandi dari banyak akun besar dengan pola caption yang seragam. Saya bukan mendiskreditkan Joshua atau profesinya, tetapi membahas pola penyebaran fotonya di media sosial," tulisnya.

3. Kenapa Fotografer Diperbolehkan Foto, Sementara Keluarga Pasien Tidak?

Pada postingan di Instagram pribadinya Anji sempat menyampaikan pertanyaan mengenai fotografer yang diperbolehkan melihat jenazah sedangkan keluarga tidak diperbolehkan.

Anji menganggap pertanyaan yang disampaikannya itu merupakan suara orang banyak.

"Lalu saya mendapat penjelasan tentang etika jurnalistik beserta aturan-aturannya. Saya mendapat penjelasan dari beberapa Fotografer, juga dalam forum yang membahas foto Joshua Irwandi, malam tadi. Ada Joshua juga di dalam forum itu. Well, saya jadi belajar tentang hal itu," tulisnya.


Anji kembali menegaskan jika dirinya tidak mendiskreditkan profesi fotografer tetapi menyampaikan suara dari para pengikutnya di media sosial.

"Sebagai catatan tambahan, saya tidak (pernah) mendiskreditkan profesi Fotografer, juga foto Joshua. Dalam caption di IG, saya menyuarakan hal-hal yang menurut saya janggal. Jika terjadi kesalahan asumsi dalam memahami kalimat saya, saya minta maaf," tulis Anji.

4. Mana Empatimu? Apa Tidak Memikirkan Perasaan Nakes Dan Keluarga Pasien?

Atas unggahan foto jenazah pasien COVID-19 dan pertanyaan itu Anji sempat dianggap tidak menunjukkan empati kepada tenaga kesehatan yang telah berjuang menyembuhkan pasien COVID-19. Anji pun memberikan jawaban terkait hal itu.

"Begini.Sejak awal pandemi ini menyerang, saya banyak sekali bersuara untuk menjaga kebersihan, jaga jarak, di rumah aja, juga memakai masker bila perlu. Saya terlibat dalam 4 lagu untuk menyuarakan hal itu. Saya juga memberikan sumbangan APD yang saya beli sendiri maupun mendapat titipan dari beberapa pihak. Ini adalah bentuk penghargaan saya untuk Nakes yang bertugas," tulis Anji.

Anji menyampaikan jika dirinya juga telah berjuang untuk membantu tenaga medis dengan berbagai cara yang bisa ia lakukan.

"Saya terlibat dalam banyak konser donasi untuk membantu pihak-pihak yang terkena imbas pandemi. Mulai dengan membuat konser online di kanal sendiri maupun di tempat lain," tulisnya.

Setelah memberikan 4 poin jawaban itu Anji menyampaikan jika saat ini ada beberapa hal yang sedang ia suarakan seperti pembahasan mengenai COVID-19 yang dianggap berlebihan. Kemudian, rapid tes yang tidak jelas keakuratannya, penggunaan masker yang berlebihan, dan suara musisi yang telah ia sampaikan ke Presiden Joko Widodo.


"Dan dalam kegiatan sehari-hari, saya masih melaksanakan protokol kesehatan kok. Karena pada dasarnya saya memang sering memakai masker dan selalu cuci tangan. Sebelum pandemi. Menyuarakan kegelisahan sudah sejak dulu saya lakukan," tulisnya.

Diakhir tweet panjangnya Anji pun juga menyampaikan jika saat ini dirinya percaya jika COVID-19 itu ada tetapi tidak semengerikan yang disampaikan.

"Saya sering mengajak orang untuk olahraga dan menjauhkan ketakutan agak imunitas meningkat. Itu yang saya percaya sebagai obat," katanya. (viva.co.id)

View this post on Instagram

• Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban cvd. Tapi ada beberapa kejanggalan. 1. Tiba-tiba secara berbarengan foto ini diunggah oleh banyak akun-akun ber-follower besar, dengan caption seragam. Sebagai orang yang familiar dengan dunia digital, buat saya ini sangat tertata. Seperti ada KOL (Key Opinion Leader) lalu banyak akun berpengaruh menyebarkannya. Polanya mirip. Anak Agency atau influencer/buzzer pasti mengerti. 2. Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang Fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh. Saya percaya cvd itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil. EDIT : saya menulis cvd karena malas menulis covid
A post shared by Anji MANJI (@duniamanji) on