Sebelum Dilaporkan ke Polisi, Inaq Kalsum Mengaku Kerap Disakiti Anak dan Menantu

Infomenia.net -  Sore itu, Kalsum sedang duduk-duduk di gazebo rumahnya adiknya, Amaq Ramli. Tepatnya di Dusun Buntage, Desa Giri Sasak, K...

Infomenia.net - Sore itu, Kalsum sedang duduk-duduk di gazebo rumahnya adiknya, Amaq Ramli. Tepatnya di Dusun Buntage, Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat. Terlihat jelas kesedihan di raut wajahnya yang dibalut jilbab hitam.

Kalsum mengaku selama di rumah mendapatkan kekerasan fisik. Dipukul, ditempeleng hingga di tendang. Sampai pendengarannya mulai terganggu. “Itu alasan saya kabur dari rumah dan membawa motor. Saya tidak tahan disiksa,” keluh Kalsum didampingi Amaq Ramli.

Menurut Kalsum, kekerasan fisik yang diterimanya justru datang anak kesayangannya sendiri dan menantunya. Awalnya, keluarga ingin melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke polisi. Tapi, Kalsum berpikir seribu kali. Dia menilai, tidak ada ibu di dunia ini, yang ingin melihat anak dan menantunya sengsara, apalagi sampai di penjara.

Terlebih, masih ada tiga cucu yang harus diperhatikan. Atas dasar itulah, dia lebih memilih meninggalkan anak kesayangannya di Dusun Berobot, Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Sayangnya, sikapnya itu justru mendapat perlawanan keras dari anaknya.

Dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca, Kalsum merasa tidak dihargai sebagai seorang ibu. Sudah beberapa kali, dia dan adiknya Amaq Ramli harus berurusan dengan polisi. Seharusnya, diumur yang sudah beranjak 61 tahun ini, dia bisa beristirahat sembari memanjakan cucu.

Sayangnya, itu sebatas angan-angan semata. Itu karena anaknya keras ingin membawanya ke polisi bersama pamannya Amaq Ramli. “Saya sebagai pamannya, sekaligus orang tuanya, menyesali perbuatan Mahsun,” tambah Amaq Ramli.

Apalagi, dia ikut terseret dalam pertikaian dengan ibunya. Dia ikut dilaporkan ke polisi, atas dugaan ikut serta membantu melakukan penggelapan sepeda motor.

Laporan pertama, dilayangkan di Polsek Praya Barat Daya. Di tempat itu, cerita Amaq Ramli adu mulut terjadi, bahkan sempat adu fisik. Namun, dapat dilerai personel kepolisian.    “Saya masih sabar, saya masih melihat dia (Mahsun) sebagai anak saya,” ujarnya didampingi Kepala Dusun (Kadus) Buntage Asrul Asmanulhakim.

Hanya saja, kata dia, sabar itu ada batasannya. Jika Mahsun masih keras dengan ibunya, apalagi sampai main fisik, maka pihaknya dan keluarga besar di Desa Giri Sasak memastikan tidak tinggal diam. “Di dunia ini, tidak ada mantan ibu. Kalau mantan istri banyak,” sindir Kadus Buntage Asrul Asmanulhakim.

Jadi, sikap yang dilakukan Mahsun, harus dijadikan contoh bagi anak-anak lainnya. Sebagai seorang anak, wajib menghormati dan menghargai ibu. Wajib melindungi, wajib mencintai dan menyayangi ibu. Ibu di atas segala-galanya di dunia ini, tidak bisa tergantikan oleh apa pun dan siapa pun.

“Berapa kali, saya memediasi masalah ini. Tapi tidak ada titik temu,” sesal Asrul.

Dia berharap, sikap Mahsun yang ingin melaporkan ibunya kembali ke Polda NTB ditolak pihak kepolisian.

Sementara itu, Mahsun dikediamannya di Dusun Berobot menegaskan, tidak pernah melakukan tindakan fisik ke orang tuanya. Kecuali, adu mulut saja. Itu pun kebanyakan dari istrinya. “Saya berusaha melerai. Tapi, ujung-ujungnya saya disalahkan karena dianggap membela istri,” cerita dia. (DSS/r5/lombokpost/jawapos.com)