Pengakuan Heru Hidayat Hingga Benny Tjokro Sebut Jiwasraya Bangkrut Gegara Saham Grup Bakrie

Infomenia.net -  Pengakuan Heru Hidayat,  Terdakwa Komisaris Utama PT Trada Alam Minera (TRAM)  Perusahaan Grup Bakrie disebut-sebut...


Infomenia.net - 

Pengakuan Heru Hidayat, Terdakwa Komisaris Utama PT Trada Alam Minera (TRAM) 


Perusahaan Grup Bakrie disebut-sebut dalam persidangan lanjutan dugaan korupsi dan pencucian uang (TPPU) PT Asuransi Jiwasraya di PN Tipikor, Jakarta, Rabu (15/7). Terdakwa Heru Hidayat bahkan mengatakan, Grup Bakrie sebagai perusahaan yang awal-awal membawa kebangkrutan bagi Jiwasraya, setelah BUMN asuransi tersebut membeli sejumlah emiten saham BUMI Resources (BUMI) sebelum 2008.

"Dari awal itu, Jiwasraya sudah bermasalah ketimpa tangga, beli saham Bakrie, kena krisis," kata Heru Hidayat, saat persidangan lanjutan di PN Tipikor, Jakarta, Rabu (15/7). 

Ungkapan Heru Hidayat, sebetulnya berawal dari sesi tanya jawab dia dengan saksi Lusiana yang pernah menjadi Sekretaris Komite Investasi, dan Kepala Pengembangan Investasi Jiwasraya 2008-2011. 


Heru awalnya mengkonfirmasi keterangan Lusiana tentang empat manajer investasi (MI) yang mengelola Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) Jiwasraya 2008. Empat MI tersebut, yakni PT AAA Securities, PT Batavia Proseperindo Asset Management, PT Danareksa Investmen Management, dan PT Trimegah Sekuritas. 

"RDPT inikan yang dipertanyakan terus dari awal. Ada Rp 500 miliar subscribe. Isinya kalau tidak salah itu kan terbanyak Grup Bakrie. Benar enggak Bu?," tanya Heru.

Pendek saja Lusiana menjawab pertanyaan tersebut, "Ya".

Heru pun melanjutkan, pertanyaannya tentang emiten dan berapa besar milik Grup Bakrie yang juga ada di empat MI tersebut. "Berapa kira-kira Grup Bakrie di sana?" tanya Heru.

Lusiana, pun menerangkan hanya ingat satu emiten Grup Bakrie yang ada dalam RDPT Jiwasraya 2008. "Saya ingat hanya saham BUMI. Kurang lebih sekitar (Rp) 300 miliar,” jawaban Lusiana.

Merasa tak puas dengan jawaban Lusiana, Heru dengan intonasi meninggi, meminta agar saksi mengoreksi ulang catatannya tentang saham BUMI tersebut. Sebab, menurut catatan Heru, menyebutkan angka hampir Rp 1 triliun. "Nanti dilihat lagi ya. Itu setahu saya, (Rp) 800 miliar. Saya lihat datanya. Artinya, dari awal itu, Jiwasraya beli saham Bakrie yang sudah kena krisis," kata Heru.  

Menanggapi reaksi terdakwa Heru Hidayat, Ketua Majelis Hakim Rosmina tak memberi kesempatan Lusiana menjawab. Hakim Rosmina malah menilai pernyataan Heru Hidayat, bukan bentuk pertanyaan. Melainkan klaim pembelaan tentang keterlibatan perusahaannya dalam RDPT Jiwasraya.

" Saudara terdakwa, cukup bertanya saja. Nanti itu ditanggapi dalam pledoi terdakwa panjang lebar. Silakan," tegas Hakim Rosmina.

Akan tetapi, terseretnya saham BUMI milik Grup Bakrie itu kembali terjadi. Pengacara Heru Hidayat, Kresna Hutauruk, pun kembali menggali keterangan saksi Lusiana tentang adanya saham BUMI dalam RDPT Jiwasraya 2008. Kresna mempertanyakan siapa pejabat di Jiwasraya yang memutuskan untuk membeli saham BUMI.

Lusiana menjawab, pembelian saham BUMI dibeli langsung oleh Kepala Divisi Investasi Jiwasraya Doni Karyadi.

Tetapi terungkap bukan cuma saham BUMI yang ada dalam keranjang belanja saham Jiwasraya pada RDPT 2008. Terungkap adanya kode emiten BNBR. "BNBR itu, punya siapa ya Bu?" tanya Kresna kepada Lusiana.

Lusiana menerangkan emiten tersebut milik Grup Bakrie. "Itu Grup Bakrie. Bakrie Brother," terang Lusiana. Bahkan Lusiana membeberkan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo yang melakukan trading saham BNBR dua kali sepanjang Juni dan September 2008.

Lusiana pun menerangkan RDPT 2008, merupakan program usulan Hary Prasetyo. Program tersebut diadakan untuk mengakali pembukuan kerugian Jiwasraya akibat krisis ekonomi 2008. Saat ini, seluruh objek pasar modal mengalami penurunan mencapai 50-an persen.

Jiwasraya yang ikut merasakan rugi tapi tak ingin mencatatkan neraca keuangan negatif. Sebab itu, lewat RDPT, Jiwasraya membeli saham-saham yang mengalami anjlok. Tetapi, bukan cuma saham Grup Bakrie yang dibeli Jiwasraya saat itu. 

Beberapa perusahaan berkode emiten milik Heru Hidayat, seperti TRAM, dan IIKP juga masuk dalam keranjang belanja saham Jiwasraya. Termasuk sejumlah perusahaan-perusahaan yang dikatakan milik terdakwa Benny Tjokro. 


Dalam penjelasan Lusiana saat persidangan, juga disebutkan ada sekitar 30-an portofolio saham-saham dalam RDPT ketika itu. Namun, Lusiana mengungkapkan, RDPT tersebut, menanggalkan kelaziman diversifikasi portofolio saham yang sebelumnya menjadi pedoman baku di Jiwasraya.


Benny Tjokro Minta BPK Buka Data Kepemilikan Saham Jiwasraya


Terdakwa kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro, meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) membuka data kepemilikan saham Jiwasraya. Benny sebelumnya menuding BPK melindungi taipan Aburizal Bakrie. Tudinan ini terkait kepemilikan modal perusahaan asuransi pelat merah tersebut di perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan kelompok usaha Bakrie.

“Kalau tidak mau dianggap melindungi, ya buka saja. Tinggal dilihat, apakah kalau dibuka datanya sama dengan yang beredar di masyarakat,” tutur Benny dalam surat bertulis tangan yang diterima Tempo pada Jumat, 17 Juli 2020.

Benny melampirkan beberapa lembar data yang dia miliki. Data itu, kata Benny, justru ia dapat saat diperiksa oleh BPK.

Ketua BPK Agung Firman Sampoerna pada akhir Juni lalu telah menyatakan niatnya melaporkan Benny atas dugaan pencemaran nama baik karena tudingan tersebut. Dia menganggap tuduhan Benny tidak memiliki dasar hukum.
Tulisan tangan Benny Tjokro yang viral



“Apa yang disampaikan adalah tuduhan yang tidak berdasar. Kami akan mengadukan perbuatan melawan hukum Benny Tjokro terkait pencemaran nama baik ke Bareskrim Polri,” tutur Agung, 29 Juni lalu.

Majalah Tempo edisi 7 Maret 2020 menyebut, sembilan anggota BPK terbelah mengenai perlu atau tidaknya menelisik dugaan kerugian negara dalam transaksi gadai saham yang melibatkan sejumlah perusahaan di grup Bakrie. Tiga sumber auditor dan penegak hukum yang mengetahui detail pemeriksaan kasus ini mengungkapkan, investasi Jiwasraya sedikitnya tersangkut di sepuluh perusahaan kelompok Bakrie.

Berdasarkan penelusuran, besar harga saham di kelompok usaha Bakrie kini memiliki portofolio yang buruk. Per lembar saham pada sejumlah perusahaan itu hanya bernilai Rp 50 per lembar alias saham gocapan.

Munculnya kelompok usaha Bakrie ini diduga menambah panjang deretan emiten yang ikut mengganggu likuiditas Jiwasraya. Berdasarkan dokumen, saham Jiwasraya yang dibenamkan lewat repo saham kelompok usaha Bakrie mencapai lebih dari Rp 3 triliun. Adapun kelompok Bakrie disebut-sebut tidak pernah menebus repo.

Dimintai klarifikasi mengenai repo saham di Jiwasraya, Nirwan Bakrie, adik Aburizal Bakrie yang juga salah satu pengendali Grup Bakrie tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Tempo melalui nomor pribadinya. Begitu pula Christofer A Uktolseja, sekretaris Korporat PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).

Tempo mengirimkan pertanyaan serupa kepada Bobby Gafur S Umar, Dirut BNBR pada 2002-2008 dan 2010-2019. Namun Bobby, yang kini menjabat komisaris perseroan, meminta Tempo meminta klarifikasi masalah ini kepada direksi. "Saya sekarang bukan Dirut BNBR lagi," kata dia.

(Republika.co.id/tempo.co)