Ini Penjelasan Ponpes soal Foto Anak-anak di Postingan Denny Siregar

Infomenia.net -  Foto santri Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya yang mengenakan pakaian muslim dan membawa bender...

Infomenia.net - Foto santri Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya yang mengenakan pakaian muslim dan membawa bendera tauhid berwarna hitam dan putih digunakan pegiat media sosial Denny Siregar sebagai ilustrasi postingan Facebook-nya berjudul 'Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang'.

Hal itu membuat gerah kalangan ulama Tasikmalaya, khususnya pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya. Pasalnya foto itu dikaitkan dengan terorisme.

Dari informasi yang dihimpun, foto itu diambil Tahun 2017 lalu dalam aksi 313. Seperti diketahui, santri-santri tersebut menjadi tamu undangan dalam acara tersebut.

"Foto itu (foto serupa) pernah dimuat detikcom, wawancara saya juga dari detikcom, ketika di Istiqlal santri itu bukan untuk ikut aksi jadi untuk mengaji karena banyak peserta dari luar kota sejuk hatinya, tidak emosi, senang lihat anak-anak kecil mengaji, seneng lihat santri ngaji, karena orang tua santri pun mendukung kita," kata Pimpin Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya Ustaz Ahmad via sambungan telepon, Minggu (5/7/2020).


Ahmad menyebut, tidak ada eksploitasi anak dalam kegiatan itu. Dia menyatakan, santri itu hadir untuk mengaji dan bukan untuk ikut aksi.

"Kalau dikatakan eksploitasi anak itu salah, datang ngaji. Tahun 2017 saya punya screenshot beritanya dari detikcom, santri mengaji di depan Masjid Istiqlal," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Forum Mujahid Tasikmalaya Nanang Nurjamil mengatakan orang tua santri mengaku sakit hati karena foto anaknya digunakan sebagai ilustrasi postingan Denny Siregar.

"Habis mengaji di Istiqlal, orang tuanya mengizinkan semua. Makannya orang tuannya sakit hati dipasang foto itu dijadiin anak-anak calon teroris," ujarnya via sambungan telepon.

Nanang menambahkan, santri-santri tersebut merupakan santri tahfidz yang sebagian merupakan anak-anak yatim. "Anak-anak sering disuruh mengaji, sama Pak Gatot Nurmantyo juga, kita mengaji depan beliau. Terus di aksi 212, diminta mengaji juga sebelum aksi, dan di 313 diundang juga mengaji di Istiqlal waktu mau keluar, kan biasa kegiatan mengaji seperti itu, kenapa dibilang calon anak teroris," ujarnya.(detik.com)