Ini Alasan Uji Klinis Vaksin Corona Dilakukan di Bandung

Infomenia.net -  Uji klinis terhadap vaksin COVID-19 asal China di Kota Bandung bukan tanpa alasan. Pemilihan Bandung sebagai pusat dikump...

Infomenia.net - Uji klinis terhadap vaksin COVID-19 asal China di Kota Bandung bukan tanpa alasan. Pemilihan Bandung sebagai pusat dikumpulkannya relawan untuk uji klinis seteah mempertimbangkan beberapa hal.

Ketua Tim Riset Fakultas Kedokteran (FK) Unpad Kusnandi Rusmil, salah satu alasan uji klinis vaksin COVID ini tak lepas dari tingginya kasus virus corona di Bandung. Sehingga perlu dilakukan upaya imunisasi untuk melindungi masyarakat. (BACA JUGA:Uji Klinis Vaksin COVID-19 Masih Tunggu Restu Komite Etik)

"Kami juga sudah 20 tahun lamanya menjadi lembaga penguji vaksin. Dan mayoritas uji klinis vaksin dilakukan di Bandung. Bukan kali ini saja," kata Kusnandi Rusmil di Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2020). (BACA JUGA:Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Bakal Dilindungi Pemerintah)

Menurut dia, uji klinis vaksin ini dilakukan oleh tiga lembaga. Terdiri atas Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Bio Farma di Bandung dan Sinovach Biotech perusahaan asal China. Perusahaan ini sudah cukup dikenal atas kemampuannya memproduksi sejumlah vaksin.

Kendati mempertimbangkan Bandung dengan kasus corona tinggi, namun relawan uji klinis yang akan disuntik vaksin tidak didasarkan pada kelompok tertentu. Uji klinis akan dilakukan secara acak, bagi siap pun yang mendaftar. Selama memenuhi persyaratan.

"Syaratnya relawan dalam keadaan sehat. Usia 18 hingga 58 tahun. Nanti relawan tersebut dibebaskan beraktivitas secara normal. Tidak ada ketentuan khusus," ujar dia.

Kusnani menuturkan, vaksin yang bakal disuntikkan ke relawan itu sudah aman bagi manusia. Karena virus Corona untuk vaksin telah dimatikan dan digantikan menjadi antivirus.

Dia pun memastikan, relawan tidak akan terkena virus COVID-19 akibat suntikan vaksin itu. Kendati begitu, ada beberapa efek samping yang disebabkan suntikan vaksin.

Namun, efek itu berlaku umum, layaknya efek samping suntikan vaksin lainnya. Di mana, secara umum ada efek samping lokal dan sistemik.

"Misalnya efek samping lokal, yaitu terjadi bengkak dan nyeri. Tapi biasanya, mereka yang bereaksi hanya sekitar 30%. Sedangkan kurang dari 5% terkena demam. Efek itu pun akan hilang dalam dua hari," tutur Kusnandi.

Efek lainnya, ungkap dia, pasien akan lemas dalam waktu 30 menit setelah disuntik. Sehingga, selama periode itu, relawan belum diperbolehkan pulang.(Sindonews.com)