Ternyata Ini Alasan Anies Tak Pilih Kata New Normal

Infomenia.net -   Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan alasan pemilihan nama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ...

Infomenia.net -  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan alasan pemilihan nama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi menuju masyarakat sehat, aman dan produktif dibanding istilah normal baru atau new normal. Anies menggunakan pendekatan kata yang sudah familiar di telinga masyarakat.

"Lalu mengenai penamaan, memang ini harus pesannya sama. Kemarin itu kita diskusi. Nama yang begitu dengar, tahu maknanya. Nama normal baru itu kan banyak yang belum tahu. Kalau aman, pasti tahu. Sehat, tahu. Produktif, jelas," jelas Anies dalam rapat bersama jajaran pemprov yang diunggah oleh akun YouTube Pemprov DKI Jakarta, seperti dilihat detikcom, Sabtu (6/5/2020).

Rapat itu digelar pada Selasa (2/6). Sedangkan konferensi pers terkait PSBB masa transisi digelar pada Kamis (4/6).


Anies mengatakan penggunaan kata transisi ini bermakna fase penanganan Corona belum berakhir. Fase transisi, kata Anies, menjadi jalan menuju masyarakat aman, sehat dan produktif.

"Jadi kemarin kita pilih untuk gunakan nama itu. Dan transisi itu sebetulnya untuk mengirimkan pesan bahwa ini bukan fase akhir. Ini transit. Terminalnya mana? Terminalnya adalah aman, sehat, produktif. Itu terminal tuh. Terminal itu ya ujungnya itu. Kalau ini masa transit, karena itu kita menyebutnya transisi," ucap Anies.

Anies juga menyadari penamaan PSBB masa transisi ini akan menjadi sensitif. Namun, kata Anies, masyarakat akan memahami secara jelas jika Pemprov DKI menjelaskannya dengan baik.

"Nah memang penamaan itu bisa jadi sensitif pak nanti. Tapi asal kita jelaskan dengan baik. Jakarta sebetulnya lebih tepat mungkin begini, PSBB tetap dilaksanakan, ini adalah fase transisi. Gitu ya. Fase Transisi," kata Anies.

"Ini wording-nya harus pas nanti, supaya tidak meleset," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria setuju dengan penamaan masa transisi. Namun perlu dijelaskan kepada publik soal tidak menggunakan istilah 'new normal.'

Sebab, menurut Riza, selama ini pemerintah pusat kerap menggaungkan istilah normal baru atau new normal.


"Saya kira paling tepat kita mengambil bahasa berkah ini dapat judul 'masa transisi' ini, PSBB Masa Transisi. Ini juga nanti perdebatan di media ini di antaranya kok tidak mau menyebut new normal gitu loh. Sementara dunia nyebutin new normal, Pemerintah Pusat (menyebut) nya new normal. Kita (menyebutnya) masa transisi. Ini memang perlu dijelaskan. Bukan kita pengen beda sama pusat atau dunia, satu penjelasan yang memang harus kita jelaskan," kata Riza dalam rapat tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta menyampaikan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi di Jakarta merupakan konsep normal baru atau 'new normal' pemerintah pusat. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hanya membedakan istilah kebijakan yang diambil.


"Ini kan cuma soal istilah saja, kalau pemerintah pusat istilahkan 'new normal', kalau pemerintah DKI istilahkan 'masa transisi'. Itu saja yang membedakan," ucap Ketua Fraksi PDIP DKI Jakarta, Gembong Warsono, saat dihubungi, Kamis (4/5).

Keberatan soal perbedaan istilah diutarakan oleh Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta. Golkar DKI menyebut banyaknya istilah selama pandemi virus Corona ini akan membingungkan masyarakat.

"Jangan beda-beda narasi lah, membingungkan masyarakat, kompak saja pusat dengan daerah. Saatnya kita bersatu dan tidak berbeda-beda, itu yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat," kata Sekretaris Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan saat dihubungi, Kamis (4/6).(detik.com)