Rusuh! Keluarga Rebut Jenazah Positif Corona di Kuburan

Ilustrasi pemakaman jenazah corona. [ANTARA FOTO/Zabur Karuru] Infomenia.net -  Satu keluarga merebut jenazah positif corona di Batam...


Ilustrasi pemakaman jenazah corona. [ANTARA FOTO/Zabur Karuru]


Infomenia.net - Satu keluarga merebut jenazah positif corona di Batam, Kepulauan Riau. Kejadian itu terjadi saat jenazah mau dikuburkan di pemakaman.


Pasien positif corona itu meninggal, Selasa (9/6/2020) malam. Sekira pukul 21.00 WIB.



Sebelum penguburan, terjadi kericuhan antara keluarga dengan petugas medis yang hendak menguburkan.


Sejumlah keluarga mencoba merebut jenazah tersebut dari petugas medis yang hendak menguburkan setelah 4 jam meninggal dunia.


Tidak diketahui pasti apakah jenazah tersebut berhasil direbut atau tidak.


"Iya benar," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmajadi, kepada Batamnews, Rabu (8/5/2020).


Menurut informasi yang di lapangan, jenazah tersebut sedianya akan dikuburkan setelah meninggal dunia. Jenazah dimakamkan sesuai protokol penguburan jenazah pasien Covid-19.



"Kronologi lengkapnya belum ada dari pihak rumah sakit," ujar Didi.




Rebut Jenazah Corona, Keluarga Tolak Dimakamkan dengan Protokol COVID-19

Keluarga jenazah corona tidak terima anggota keluarganya itu dimakamkan dengan standar protokol COVID-19. Sehingga keluarga merebut jenazah itu saat ingin dimakamkan, Selasa (9/6/2020) malam.

Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 itu dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, Selasa malam.


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi mengklarifikasi jika keributan itu terjadi di rumah sakit, bukan pemakaman.

Keributan malam itu karena pihak keluarga menolak proses pemulasaran jenazah dengan protokol Covid-19.

“Pihak keluarga tidak terima kalau anggota keluarganya dilakukan pemulasaran jenazah dengan protokol Covid-19, keluarganya asal Makasar,” ujar Didi melalui pesan singkat kepada Batamnews, Rabu (10/6/2020).

Pasien tersebut kata Didi memang baru dirujuk ke RSBP pada hari yang sama, sekitar siang atau sore hari. Setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB).

“Pasien ini punya penyakit penyerta, yaitu diabetes,” katanya.


Kemudian dari hasil rontgen, juga diketahui pasien yang meninggal tersebut terlihat jelas ada pnuemonia. Sehingga ditetapkan statusnya sebagai PDP.

Lebih lanjut Didi menyampaikan bahwa sampel swab tenggorokan dari pasien juga telah diambil.


“Hasilnya bisa diketahui sore ini jika dikebut,” kata dia.

Pihaknya menyesalkan tindakan penolakan dari pihak keluarga untuk memulasarkan jenazah dengan protokol Covid-19. Karena sejak awal pasien berstatus PDP, walaupun hasil swabnya belum keluar dan dinyatakan meninggal dunia tetap dilakukan sesuai protokol Covid-19.

“Makanya semalam minta tolong ke pihak berwajib,” kata Didi.

Dalam protokolnya, pasien meninggal dunia dengan status PDP, jenazahnya akan dilapisi dengan plastik (wrapping). Lalu kemudian dimasukkan ke dalam peti, dan peti tersebut juga di wrapping.

Setiap proses tersebut, hanya dilakukan oleh petugas dengan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Pihak keluarga juga tidak diperkenankan untuk melihat almarhum untuk terakhir kalinya, hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus.



(suara.com)