Kisah Jenazah Covid-19 Tertukar di Surabaya


Infomenia.net - Sebuah video yang menampilkan prosesi pemakaman jenazah Covid-19 di Surabaya viral di media sosial. Diduga jenazah tersebut tertukar lantaran kelalaian petugas rumah sakit.

Dalam video yang berdurasi 1 menit 37 detik tersebut, mulanya terlihat enam petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap sedang menggotong peti jenazah yang dilapisi plastik.


Namun sampai ke dekat liang lahat, peti itu urung dikuburkan. Petugas malah mengembalikan dan menggotongnya ke mobil ambulans. Dalam video juga terdengar tangisan histeris perempuan.

"Mayite alamate endi iki (mayatnya alamatnya di mana ini)?" kata seorang pria dalam video tersebut.


"Sing genah, sing genah (serius), diviralno ae iki (diviralkan saja ini)," sahut warga lainnya.


Salah seorang warga Pagesangan, Jambangan, Surabaya, Amir Mahmud mengatakan jenazah yang dibawa petugas tersebut diduga tertukar dengan jenazah lain.


Sebab, menurutnya yang mesti dimakamkan di TPU Pagesangan tersebut adalah sepupunya yang berjenis kelamin laki-laki. Namun keterangan yang tertulis malah perempuan.


"Betul, jenazahnya tertukar. Harusnya yang dimakamkan di sini laki-laki, tapi di surat yang kami terima perempuan," kata Amir, saat dikonfirmasi, Rabu (27/6).


Lihat juga: Kisah Sunarto, 'Jenazah Tertukar' yang Gegerkan Warga Tuban

Tak hanya itu, alamat yang tertera juga salah, seharusnya Kecamatan Jambangan, namun di sana ditulis Wonocolo. Bahkan keterangan identitas yang tertulis di peti pun, kata Amir, bukanlah nama kerabatnya.

"Ternyata yang tertulis di surat tersebut, jenazah berjenis kelamin perempuan. Termasuk tanda keterangan di peti jenazah. Di surat keterangan dijelaskan jika jenazah tersebut adalah warga Kecamatan Wonocolo," ujarnya.





Sejumlah petugas merapikan peti khusus jenazah COVID-19 di rumah duka Dharma Agung, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (1/4/2020). Menurut petugas rumah duka peti tersebut diberikan secara gratis untuk korban dan untuk mencegah penyebaran  virus COVID-19. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.Sejumlah petugas merapikan peti khusus jenazah Covid-19 di rumah duka Dharma Agung, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (1/4/2020). (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

Amir mengatakan sebelum meninggal sepupunya itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI), yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Namun setelah mendapatkan perawatan sekitar satu jam, nyawa kerabatnya itu tak tertolong.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Direktur Utama RSI Surabaya, Samsul Arifin membenarkan bahwa petugasnya telah melakukan kesalahan prosedur proses pengantaran jenazah.


"Iya betul. Ternyata memang petugasnya ini menyalahi prosedur, SOP nya," kata Samsul saat dikonfirmasi.


Ia mengatakan kesalahan tersebut terjadi karena saat itu tengah ada dua jenazah yang ditangani oleh pihaknya, dalam waktu yang bersamaan. Namun karena petugas terburu-buru dan tidak teliti, maka terjadilah kekeliruan tersebut.


"Jadi kan ada dua jenazah, sesuai prosedurnya harus ditulis nama, tanggal lahir, alamat dan ditempel. Tadi mungkin terburu-buru karena ada salah satu penandanya yang terkena Covid-19 juga, ya bingung atau gimana ndak tahu kok sampe bisa salah. Keburu-buru," ujar dia.

Ia pun mengaku telah menyampaikan permintaan maaf RSI Surabaya kepada keluarga almarhum. Ia menyebutkan hal itu bukanlah kesengajaan.

"Saya sudah minta maaf ke keluarga yang bersangkutan." ujarnya.


Kendati demikian, jenazah yang semestinya dimakamkan di TPU Pagesangan tersebut memanglah dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Sebab almarhum sebelumnya dirawat karena mengalami gejala klinis. Namun belum sempat hasil tes swab-nya keluar, yang bersangkutan telah meninggal dunia.


"Iya, karena tanda-tanda klinisnya sudah jelas. Sudah di-swab tapi hasilnya belum keluar. Jadi kita, kalau [pasien meninggal] sudah di-swab, protokol klinisnya kan harus dilakukan," katanya.


(frd/pmg)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel