Kasus Pasien Kritis Ditolak 4 RS di Bengkulu, Ini Penjelasan Dinkes dan Pimpinan RS

Infomenia.net -   Kepala Dinas Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni mengungkapkan pihaknya telah melakukan rapat khusus secara daring dengan K...

Infomenia.net -  Kepala Dinas Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni mengungkapkan pihaknya telah melakukan rapat khusus secara daring dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait pasien kritis hingga meninggal dunia karena lambannya penanganan sejumlah rumah sakit di daerah itu.

Selanjutnya, secara formal Kemnkes meminta Dinkes Provinsi Bengkulu mengirimkan kronologis kejadian secara tertulisa pada Kemenkes.

"Semua direktur rumah sakit yang terlibat dalam persoalan ini kita ajak rapat dengan Kemenkes. Rapat juga membahas soal kronologi dan klarifikasi dari masing-masing rumah sakit yang disebutkan oleh keluarga korban. Selanjutnya kita diminta mengirimkan kronologis secara tertulis," kata Herwan Antono dalam keterangan persnya secara virtual, Rabu (3/6/2020).


Herwan juga mengemukakan dalam perkara ini seharusnya rumah sakit yang merujuk pasein terlebih dahulu harus bisa memastikan penanganan apa yang harus dilakukan dan rumah sakit apa yang dapat dirujuk disertai kelengkapan dan kemampuan rumah sakit yang akan dirujuk.

Kejadian terhadap pasien kecelakaan ini merupakan salah satu contoh kurangnya pemahaman sistem dan mekanisme rujukan. Akibatnya pasien terkesan ditolak.

Menurutnya, seharusnya RS tetap mengambil tindakan karena RS tidak dibenarkan menolak pasien.

"Saya tekankan, semua rumah sakit harus melayani pasien tidak saja Covid-19," ujar Herwan.


Penjelasan RSUD M Yunus
Sementara itu Direktur RSUD M Yunus Zulkimaulub Ritonga menjelaskan pihaknya menyebutkan rumah sakit yang ia pimpin tidak menolak pasien tersebut.

Pasien diterima dan dilayani hanya saja sebelum tiba di RSUD M Yunus pasien mendatangi sejumlah rumah sakit yang rumah sakit tersebut tidak ada fasilitas pelayanan bedah saraf.

"Di Bengkulu layanan bedah saraf ada cuma di RSUD M Yunus. Pasien sebelumnya sebelum sampai ke rumah sakit kami, sudah mendatangi sejumlah rumah sakit yang tidak ada layanan bedah saraf. Di Bengkulu layanan bedah saraf cuma ada di RSUD M Yunus. Pada prinsipnya layanan bedah saraf di rumah sakit kami tidak tutup selama pandemi Covid-19," jelasnya.


Sebelumnya diberitakan, satu pasien kecelakaan lalu lintas mengalami kritis di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit Asyifa, selanjutnya Asyifa merujuk ke RS Bhayangkara di RS Bhayangkara korban tidak dapat dilayani, lalu pihak keluarga membawa ke sejumlah rumah sakit lainnya seperti Tiara Sella, Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) milik Pemkot Bengkulu.

Semua rumah sakit tidak dapat melayani karena tidak memiliki fasilitas bedah saraf dan sejumlah alasan penanganan covifd-19. Setelah itu barulah pasien dibawa ke RSUD M Yunus. Di RSUD M. Yunus pasien dilayani namun pasein meninggal dunia. (kompas.com)