Ini Alasan Pedagang Pasar Cileungsi Bogor Menolak Dilakukan Rapid Test Covid-19

Infomenia.net -  Pedagang Pasar Cileungsi sempat mengusir petugas Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor, saat ingin menggelar rapid test da...

Infomenia.net - Pedagang Pasar Cileungsi sempat mengusir petugas Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor, saat ingin menggelar rapid test dan swab test di pasar tersebut, Rabu (10/6). Mereka menolak lantaran pasar menjadi sepi pengunjung, usai menjadi salah satu klaster penularan Covid-19 di Kabupaten Bogor.

Informasi yang dihimpun, kemarahan pedagang semakin menjadi karena saat pasar ditutup namun pedagang kaki lima (PKL) di depan pasar dibiarkan untuk berjualan.

"Kondisi pasar jadi sepi pas abis ditutup belum lama ini. Pedagang juga banyak yang mengeluh penghasilannya berkurang," ujar Staf Humas dan Keamanan Pasar Cileungsi, Ujang Rasmandi, Kamis (11/6).

Ujang pun membenarkan adanya kecemburuan dari pedagang di dalam dengan PKL di luar pasar yang tidak dibatasi jumlah pengunjungnya oleh Gugus Tugas Covid-19.

"Iya karena pedagang yang di dalam kan legal malah diperlakukan seperti itu, sementara yang di luar dibiarkan," katanya.

Alhasil, pedagang bereaksi keras dengan menolak pelaksanaan rapid test dan mengusir rombongan petugas medis saat akan melakukan tes massal di Pasar Cileungsi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarina pun membenarkan adanya penolakan tersebut. Menurutnya, pihaknya sedang menelusuri penyebab adanya penolakan tersebut.

"Sedang ditelusuri kejadian sebenarnya seperti apa. Nanti ada tim yang kesana untuk memastikan langsung," kata Mike.

Diketahui, Bupati Bogor Ade Yasin mengungkapkan bahwa ada 26 orang terpapar Covid-19 dari klaster Pasar Cileungsi, yang salah satunya merupakan pedagang daging berusia 30 tahun dan telah meninggal dunia.

Pedagang itu juga sempat menularkan istrinya yang berusia 23, adiknya laki-laki 17 tahun dan putrinya yang masih berusia 1,5 tahun.

Direktur Utama PD Pasar Tohaga, Haris Setiawan, selaku pengelola Pasar Cileungsi pun terus melakukan pengetatan protokol kesehatan di pasar tersebut.

"Karena belum ada instruksi penutupan pasar. Hanya penerapan protokol kesehatan lebih diperketat," kata Haris.

Pengetatan dilakukan dengan cara meningkatkan intensitas pemeriksaan suhu tubuh pengunjung pasar dan penyemprotan cairan disinfektan di area pasar dua kali sehari.

"Kita juga pasang 40 unit tempat cuci tangan di Pasar Cileungsi supaya pengunjung dan pedagang rajin cuci tangan," kata dia. (Merdeka.com)