Ini 6 Syarat Mendikbud Bagi Sekolah yang Ingin Lakukan Pembelajaran Tatap Muka

Infomenia.net -  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memutuskan bahwa sekolah yang berada di zona kuning-merah ma...


Infomenia.net - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memutuskan bahwa sekolah yang berada di zona kuning-merah masih akan menerapkan program pembelajaran jarak jauh (PJJ), meski tahun ajaran baru tetap akan dimulai tanggal 13 Juli nanti. 

Sementara itu, sekolah yang berada di zona hijau boleh dibuka dengan mempertimbangkan beberapa hal yang berkaitan dengan keselamatan anak, guru, serta keluarga.

Perlu kita ketahui juga Moms, bahwa saat ini 94 persen peserta didik berada di zona kuning-merah. Itu artinya, hanya 6 persen peserta didik di zona hijau yang punya kesempatan sekolah tatap muka. Di pulau Jawa, bahkan tidak ada zona hijau sama sekali.

Sekolah yang berada di zona hijau pun tak serentak dibuka di semua jenjang pendidikan. Ya Moms, sekolah menengah, seperti SMP, SMA, dan SMK adalah yang pertama kali melakukan tatap muka. Dua bulan selanjutnya, baru disusul dengan jenjang SD dan SLB. Terkahir, dua bulan setelahnya, barulah siswa di PAUD boleh melaksanakan tatap muka di sekolah.

"Kenapa yang paling muda itu kita terakhirkan, karena bagi mereka lebih sulit lagi melakukan physical distancing untuk SD, apalagi PAUD," jelas Nadiem dalam Live Streaming Penyelenggaraan Pembelajaraan pada Tahun Ajaran atau Tahun Akademik Baru di Tengah Pandemi, Senin (15/6).

Terkait hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, memastikan akan selalu memantau perkembangan sekolah di zona hijau. Bila status daerah tersebut berubah menjadi kuning, maka sekolah akan ditutup lagi.

Sementara itu, bila sekolah di zona hijau ingin melakukan pembelajaran tatap muka, maka wajib memenuhi beberapa syarat atau menjalani prosedur yang ketat dari Kemendikbud.

Mulai dari jumlah siswa yang dikurangi, hingga harus adanya persetujuan dari orang tua untuk melaksanakan sekolah tatap muka. Artinya, bila orang tua tidak mengizinkan anaknya sekolah karena dirasa masih kurang aman, maka tidak boleh ada paksaan dan anak dapat tetap belajar dari rumah.

Kemendikbud juga memberikan beberapa syarat yang harus dipenuhi pihak sekolah di zona hijau bila ingin membuka sekolah kembali, yaitu:


  • Ketersedian sanitasi dan kebersihan, seperti adanya toilet bersih, fasilitas cuci tangan dan disinfektan.
  • Ada akses ke fasilitas kesehatan di sekitarnya (puskemas, klinik atau rumah sakit).
  • Wajib menggunakan masker kain dan masker tembus pandang bila ada peserta didik yang tuna rungu.
  • Memiliki thermogun atau pengukur suhu tubuh tembak.
  • Kalau ada peserta didik yang punya kondisi medis atau sakit tidak boleh masuk, termasuk jika keluarga sakit juga tidak boleh masuk sekolah.
  • Harus ada kesepakatan dengan komite satuan pendidikan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.


Mendikbud Nadiem Makarim pun memastikan, segala aktivitas siswa yang bersifat perkumpulan juga masih belum diizinkan di masa transisi. Seperti jajan ke kantin, kegiatan olahraga, dan ekstrakulikuler (ekskul).

“Jadi seperti kantin itu tidak boleh (buka). Juga kegiatan olahraga dan ekskul juga belum boleh, dan aktivitas lain seperti KBM (kelompok belajar-mengajar) belum boleh saat masa transisi. Jadi apa pun aktivitas yang perkumpulan sifatya itu belum boleh di masa transisi ini,” tegas Nadiem Makarim.(Kumparan.com)