Bikin Haru, Begini Cerita WN Belanda yang 2 Tahun Cari Ibu Kandung di Indonesia

Infomenia.net -  Baru-baru ini sosial media dihebohkan dengan kisah haru seorang warga negara Belanda yang mencari ibu kandungnya di Indo...


Infomenia.net - Baru-baru ini sosial media dihebohkan dengan kisah haru seorang warga negara Belanda yang mencari ibu kandungnya di Indonesia. Ia adalah Widyastuti. Berawal dari sebuah thread yang ditulis oleh seorang dengan akun bernama @taziateresa. Ia diketahui merupakan rekan kerja dari Widyastuti.

Berawal dari Widyastuti yang sudah 2 tahun mencari informasi mengenai kehidupan masa kecilnya yang hilang. Kesulitan bahasa menjadi kendala Widya mendapatkan informasi. Tak banyak harapan dari proses pencariannya, Widya ingin bertemu dan berharap ibunya baik-baik saja.

Tulis Sebuah Surat



©2020 Merdeka.com/twitter @taziateresa

Dalam 2 tahun pencariannya itu, Widyastuti juga menulis sebuah surat. Dalam surat tersebut ia menceritakan sepenggal kenangan yang ada dalam ingatannya.

Widyastuti mengakui ingin mengetahui jati diri ibu kandungnya yang sudah lama terlupakan. Satu-satunya ingatan tentang sang ibu yang masih segar dalam pikirannya adalah, ada di Indonesia.

Lahir di Yogyakarta


Widya menumpahkan seluruh ingatannya tentang kehidupan di masa lalu ketika ia masih bersama keluarganya yang disinyalir berada di Yogyakarta. Perempuan ini juga menulis di detil biografi Twitter-nya bahwa dirinya lahir di Kota Pelajar itu.

"Ketika aku membuka mata aku ingat.. Aku ingat engkau merawatku dengan kehangatan yang luar biasa. Aku ingat Kraton dan berlutut untuk Sultan," begitu kalimat pembuka surat itu yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Pergi ke Lampung dengan Kapal




Selepas dari Yogyakarta, Widya mengaku masih mengingat dirinya pernah pergi ke Lampung menggunakan kapal dan tinggal di sana.

Hanya saja beberapa waktu setelah masa-masa bersama keluarganya, ia dan sang ibu mengalami perjalanan hidup yang berbeda dari sebelumnya.

"Aku ingat menonton TV untuk pertama kalinya di atas kapal, yang merupakan pengalaman yang ajaib bagiku. Aku ingat kepingan kehidupan kita di Lampung, dan rumah yang dikelilingi ladang nanas - yang daunnya tajam sering melukai kakiku,” tulis Widyastuti dalam suratnya.

Momen Perpisahan dengan Sang Ibu


Hingga pada suatu saat, ibunya membawa Widya ke sebuah stasiun. Di sana mereka bertemu dengan seorang perempuan Tionghoa yang disebut-sebut bernama Utari.

Ibunya meminta agar Widya ikut dengan perempuan itu. Tanpa ia sadari, itu adalah saat terakhir Widya melihat wajah ibunya tanpa perpisahan.

“Hari itu kamu membawaku ke stasiun kereta kecil, dan menyuruhku pergi dengan seorang perempuan Tionghoa. Sebagai anak yang baik aku mengikuti perintahmu. Engkau tidak mengucapkan selamat tinggal, jadi aku pikir itu hanya sementara dan engkau akan menjemputku. Seperti yang selalu engkau lakukan. Aku terus menunggu dan menunggu, tetapi engkau tidak kunjung datang,” tulis Widya lagi.

Tinggal di Panti Asuhan



Selama tinggal bersama perempuan Tionghoa itu, Widya ada di sebuah panti asuhan yang bernama Panti Asuhan Kasih Bunda. Widya mengaku kerap menangis karena merindukan ibunya.

“Saat tinggal di rumah perempuan Tionghoa itu, aku harus menangis karena aku merindukanmu. Setelah berhari-hari menangis dan dihukum karenanya, aku tidak menangis lagi,” tambahnya lagi.

Diadopsi Pasangan WN Belanda


Tiga minggu setelah peristiwa itu, sepasang orang tua dari Belanda datang mengadopsinya. Widya dibawa ke Belanda.

"Aku berada di tempat yang asing. Aku tidak mengerti bahasanya dan berada dengan orang tua baru. Di sini, aku tetap harus menunggumu untuk datang dan menjemputku. Tahun berganti, harapanku pupus," lanjut Widya.

Meski begitu, Widya mengaku beruntung diadopsi oleh orang Belanda tersebut. Hanya saja, ia masih selalu teringat ibunya.

Mulai Mencari Sang Ibu Kandung



Widya memutuskan untuk memulai pencarian terhadap ibu kandungnya yang orang Indonesia. Pada tahun 1991, Widya bersama orang tua asuhnya terbang ke Indonesia, menuju panti asuhan yang pernah ia tempati. Ia bertanya kemungkinan dirinya bertemu ibu kandungnya lagi.

Ia kemudian dipertemukan dengan seorang sosok yang disebut 'ibu'. Hanya saja ia meragukan orang tersebut benar ibunya.

Pasalnya, perempuan 'ibu' tersebut pernah mengiriminya surat berbahasa Inggris  yang menyebut bahwa dia sakit dan butuh uang. Sementara Widya tahu bahwa ibu kandungnya tidak bisa berbahasa Inggris.

Semakin Widya menggali identitas dirinya dan ibunya, semakin ia tahu bahwa ternyata dokumen tersebut tidak benar. Panti Asuhan menyebut bahwa dokumen tentang Widya adalah palsu. Dokumen adopsinya di agensi Belanda pun tak bisa ditemukan hingga saat ini.

Widya kembali melanjutkan proses pencarian ibu kandungnya dengan berbagai cara seperti bergabung di komunitas  adopsi orang Indonesia, berencana melakukan tes DNA dengan sosok 'ibu' yang ditemuinya pada tahu 1991. Kini Widya mengandalkan sosial media untuk mendapat jawaban pencariannya. Berikut adalah tulisan surat Widya untuk ibunya.(Merdeka.com)