Carudin Ngaku Suka Sesama Jenis Meski Punya 4 Istri, Ibunda Nekat Sewa Algojo untuk Bunuh Putranya Hingga Ritual Di Hutan


Infomenia.net -  Sebuah pembunuhan oleh sang ibu berinisial DRH (50) kepada anak kandungnya, Carudin (32) terjadi di kawasan Hutan Lindung Gunung Kalong, Desa Cikawung, Blok Ciselang, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Senin (26/8/2019).

Diketahui sang ibu membunuh anaknya dengan sejumlah alasan, satu di antaranya karena orientasi sang anak yang menyimpang atau LGBT.

Padahal, korban disebutkan sang pelaku, telah memiliki empat orang istri.


Dikutip TribunWow.com dari TribunJabar.id, Sabtu (28/9/2019), kronologi pembunuhan bermula saat istri ketiga korban, mengadukan pada mertuanya, DRH.

DRH mengatakan istri ketiga mengadu bahwa korban telah berperilaku menyimpang alias LGBT.

Perilaku korban itu membuat sang istri ketiga ingin menceraikannya.

"Baru ketahuan beberapa tahun terakhir, istrinya yang ketiga bicara langsung ke saya," kata DRH saat konferensi pers di Mapolres Indramayu, Jumat (27/9/2019).

DRH lantas ingin membuktikan sendiri informasi tersebut, karena tak percaya.

Ia lantas bertanya sendiri kepada korban.

Korban lantas mengakui perilaku LGBTnya ketika sang ayah telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Padahal saat itu korban sudah memiliki empat orang istri dan dua anak.

DRH menuturkan saat itu korban mengaku sudah tak bisa menyukai perempuan.

"'Mah, saya itu tidak bisa suka sama perempuan. Saya pengennya suka sama sesama jenis," ucap DRH menirukan ucapan korban.



DRH geram akan pengakuan korban.

Dan sejak saat itu perilaku korban semakin menjadi dan justru sering menguras harta DRH untuk memuaskan orientasi menyimpangnya.

Korban juga hidup dengan glamour hingga sawah milik keluarganya dijual dengan harga Rp 100 juta.


Bahkan korban juga menagih harta warisan tanah kepada DRH.

DRH mengatakan bahwa korban juga melakukan kekerasan saat meminta harta.

Ancaman akan membunuh DRH juga pernah disebutkan korban.


Akan tetapi DRH tak ingin melaporkannya ke polisi lantaran ia anak semata wayangnya.

DRH mengaku tak tega jika korban harus mendekam di penjara.

Kemudian DRH menemui seorang pelaku yang mengaku orang pintar yang bisa menyembuhkan korban berinsial W.

Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki saat melakukan konferensi pers ibu bunuh anak kandung yang LGBT di Mapolres Indramayu, Jumat (27/9/2019). (Tribuncirebon.com/Handhika Rahman)

Hal ini diungkapkan Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki, dikutip TribunWow.com dari TribunJabar Video, Jumat (27/9/2019).


"Awal kejadian, bermula 3 bulan (bulan Mei) sebelum kejadian ibu korban selalu datang ke seseorang bernama W ini, yang mengaku sebagai orang pintar yang mengaku bisa mengobati," ungkapnya.

Saat itu DRH meminta kepada W agar korban diobati karena sering memukulnya.

"Ibu korban memang meminta untuk anaknya diobati karena sering memukul, menganiaya ibunya sering mengancam, dan sering menjual barang-barang milik orangtuanya ini," jelas DRH.


Hingga pada akhir Agustus, ternyata korban tak sembuh juga.

Hingga munculah niat DRH ingin meleyapkan nyawa korban.

"Tersangka meminta kepada W dan juga IG (DPO) untuk melakukan pembunuhan, untuk menghabisi nyawa anaknya."

IG mengumpulkan teman-temannya sebanyak 5 orang dan pada hari Senin (26/8/2019) pagi.


DRH lantas menyewa lima pembunuh bayaran berinisial WRSN (55), WRD (27), PJ (17), BJ (16), dan IG (30).

Terjadilah kesepakatan antara DRH dan lima pembunuh tersebut dengan bayaran uang Rp 20 juta.

Eksekusi dilakukan lima pembunuh tersebut pada Senin (26/8/2019).

Kelimanya telah menyiapkan skenario dengan mengajak korban melakukan sebuah ritual penyembuhan.


Korban yang menyanggupi ajakan itu kemudian pergi dengan pembunuh bayaran menemui seorang dukun di padepokan milik IG di Hutan Lindung Gunung Kalong, Desa Cikawung, Blok Ciselang, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.

Mereka mengendarai mobil Toyota Camry miliknya.

Dan para pembunuh mengendarai motor.


Saat itu sang dukun telah diperankan oleh pelaku bernisial WRSN.

Setelah sampai di lokasi, para pembunuh langsung melakukan aksinya.

Mereka menyerang korban dengan menggunakan batu besar untuk memukul kepala bagian belakang.

Korban kemudian lemas dan tewas.

• Tiga Pelaku Pembunuhan Bocah 5 Tahun di Sukabumi Ternyata Sering Lakukan Hubungan Inses

Mereka menutupi mayat korban dengan dedaunan kering untuk menutupi jejak.

Setelah melancarkan pembunuhan sadis di Indramayu, para eksekutor langsung menghubungi DRH.

Pelaku lantas meninggalkan korban di hutan tersebut.

Hingga di hari yang sama, disebutkan oleh Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki, pihaknya mendapatkan laporan adanya penemuan mayat di hutan tersebut pukul 11.00 WIB.

"Kita mendapatkan informasi telah ditemukannya sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki telah meninggal dunia akibat penganiayaan," ujar Yoris, Jumat (27/9/2019), 

Kemudian pihak polisi melakukan penyelidikan.

"Yang pertama kita mengidentifikasi korban dulu, siapa korban. Ternyata korban korban berusia 32 tahun berinisial C, warga Indramayu," ungkap Yoris.

Yoris mengatakan bahwa saat itu ditemukan mobil korban yang dititipkan seorang pelaku kepada saksi.

Dari situ polisi mengendus pelaku yang berinsial W.

"Setelah itu dilakukan perkembangan, didapatkan satu unit mobil milik korban yang dititipkan oleh salah seorang pelaku kepada saksi, dari situ kita mulai melakukan penangkapan, terhadap 2 orang pelaku yang pertama, berinisial dua-duanya W," paparnya.


Sehingga ditemukannya pelaku utama yakni orangtua korban, DRH.

"Dan pada saat itu dilakukan perkembangan lagi, telah dilakukan penangkapan ternyata orangtua kandung dari korban," pungkasnya.

Yoris menjelaskan bahwa korban saat dibunuh, dengan berbagai serangan.

Yakni dengan membacok korban hingga memukul dengan batu berukuran besar berulang kali.

"Mereka ,elakukan penganiayaan, yang pertama membacok, dan jga pelaku lain memukul dengan batu yang sangat besar. Berkali-kali hingga meninggal dunia," ujar Yoris.

Sedangkan diketahui setelah korban terbunuh, DRH segera menemui pelaku dan memberikan uang sebanyak Rp 20 juta, untuk uang kesepakatam.

"Selama ini korban atau tersangka, DRH mendatangi pelaku dan memberi uang sebanyak Rp 20 juta. Sebagai ongkos melakukan pembunuhan," ujarnya.

Hingga Sabtu (28/9/2019), polisi juga meringkus tiga pelaku, yakni DRH,  WRN dan WRD.

Sedangkan tiga pelaku lainya masih DPO.

Polisi juga menyita alat bukti di antaranya satu unit mobil milik korban, uang tunai, batu yang digunakan dan beberapa lainnya.

Pelaku diancam Pasal 340 KUHP, Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup hukuman atau paling lama dua puluh tahun.

Dan juga Pasal 365 ayat (4) KUHP, Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau paling lama dua puluh tahun.

Selain itu juga dikenakan Pasal 55 KUHP (yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan tindak pidana).

(TribunWow.com/ Roifah Dzatu Azmah)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...