Usut Tuntas! Sekolah Radikal! Lecehkan Simbol Negara: Ganti Gambar Jokowi dengan Tokoh Kartun

Sekolah Radikal! Lecehkan Simbol Negara: Ganti Gambar Jokowi dengan Tokoh Kartun

Infomenia.net - Benar apa yang disampaikan oleh presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bahwa perhelatan Pilpres kali ini jauh lebih panas ketimbang Pilpres-pilpres sebelumnya. Politisasi SARA begitu marak terjadi. Permasalahan intoleransi semakin merebak. Tempat-tempat ibadah kini berubah fungsi menjadi tempat penyebaran hoax dan kebencian.

Belum adanya kedewasaan sebagian besar rakyat Indonesia serta para politikus di negeri ini menjadi pemicu utama terjadinya polarisasi di tengah masyarakat saat ini. Ketidakdewasaan sebagian besar rakyat itu semestinya menjadi tugas para elite di negeri ini untuk mematangkannya, dan mendewasakan cara mereka memandang perbedaan. Namun apa yang terjadi? Para elite itu justru memanfaatkannya demi kepentingan politik mereka.

Rakyat yang masih gamang itu lalu mereka cekoki dengan narasi-narasi busuk, dengan berita-berita bohong, fitnah, dan kebencian. Dan sekarang, kita dapat melihat dengan begitu terang-benderang, sedikit banyak, pengaruh buruk yang ditularkan oleh para politikus bejat itu telah tumbuh, berakar, menjalar ke mana-mana, dan berbuah.

Pada saat sekarang ini, kita tidak sulit menemukan warga yang pada 4 atau 5 tahun lalu masih berpikir waras dan normal, masih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya, yang masih menjalin tali silaturahmi di antara warga yang memiliki latar belakang yang berbeda, namun kini berubah menjadi warga yang intoleran dan berpikiran sempit.

Mereka berubah menjadi kaum radikalis, kaum yang menganggap diri, keluarga, atau kelompoknya sebagai pihak yang paling benar, sementara kelompok lain salah dan harus dibenci, dihina, dan dicela. Mereka berubah menjadi kelompok yang seolah-olah menganggap bahwa kebhinnekaan itu adalah aib yang mesti dimusnahkan.

Saya berpikir jika hal ini terus terjadi, jika hal ini terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin bangsa ini akan benar-benar berubah seperti Syiria. Selain sudah merasuk ke tempat-tempat ibadah, virus radikalisme itu juga sudah menjalar hingga ke dunia pendidikan, sebuah tempat yang seharusnya menjadi wahana untuk menciptakan generasi handal yang berwawasan kebangsaan.

Namun apa yang terjadi, para anak didik itu justru dididik untuk membenci sesamanya, bahkan juga dididik untuk membenci pemerintahnya. Setahap demi setahap, virus perpecahan itu ditularkan lewat seluruh sektor termasuk sektor pendidikan. Dan saya berpikir, jika sektor pendidikan sudah rusak, maka seluruh sendi bangsa ini lambat laun akan rusak pula.

Kemarin (23/3), di media sosial facebook, sebuah fanspage bernama “Indonesia Headline News” mengunggah sebuah foto yang membuat hati terasa tersayat-sayat. Foto yang diberi caption “Sampai segitunya membenci. Konon ini sekolah di Jakarta” itu, merupakan sebuah gambar ruangan kelas. Dalam ruang kelas tersebut terlihat ada dua orang perempuan (kemungkinan besar guru) sedang asyik mengobrol.

Masalahnya bukan pada ibu guru - yang nampaknya sedang berbicang cukup serius - yang mengenakan hijab berwarna hitam dan pink itu, bukan pula pada suasana ruangan belajar yang dipenuhi gambar di dindingnya, atau pada deretan meja dan kursi siswa yang tergolong cukup bagus itu. Namun pada gambar presiden yang ada di ruang kelas tersebut.

Adalah hal yang lazim di setiap kantor-kantor pemerintahan atau ruang-ruang kelas di sekolah terdapat gambar presiden dan wakil presiden. Karena pada saat ini Presiden dan Wakil Presiden Indonesia adalah Jokowi dan Jusuf Kalla, maka gambar keduanyalah yang harus dipajang di setiap kantor atau ruangan kelas sebagaimana dimaksud tadi.

Nah, yang terjadi di sebuah ruang kelas, seperti terlihat pada gambar yang diunggah oleh Indonesia Headline News tersebut, yang tertempel bukan gambar Jokowi, namun gambar yang lain. Di samping gambar “Jokowi” ada gambar Wapres Jusuf Kalla. Dan di atas gambar keduanya ada gambar lambang negara, Garuda Pancasila.

Saya tidak bisa melihat gambar itu secara jelas, gambar apa sebenarnya yang ditempelkan di foto Jokowi tersebut. Saya sudah coba men-zoom-nya, namun tetap juga tidak dapat terlihat dengan baik. Namun jika saya mencoba mengamatinya, gambar itu mirip seperti gambar tokoh kartun, atau seperti gambar tokoh idola anak-anak.

Akun Indonesia Headline News tidak menjelaskan secara gamblang nama sekolah itu apa, dan tepatnya terletak di mana di Jakarta. Namun, mengamati gambar itu, sepertinya sekolah itu adalah sebuah Sekolah Dasar (SD), sebab di majalah dinding di dalam ruang kelas tersebut ada terdapat begitu banyak gambar-gambar, serta ada tertulis “H-31 USBN.”

Sekolah itu juga sepertinya bukan sekolah negeri, tapi sebuah sekolah swasta yang kemungkinan besar adalah yayasan keagamaan Islam. Ada sebuah gambar di dinding kelas tersebut dengan sebuah tulisan “Ciri-ciri Pribadi Muslim.” Di sekolah-sekolah negeri, kita jarang menemukan gambar-gambar berbau agama seperti terlihat di gambar itu di dalam ruang-ruang kelasnya.

Terlepas dari apakah sekolah itu sebuah sekolah milik pemerintah atau swasta, jika memang gambar sebagaimana diunggah oleh Indonesia Headline News tersebut memang benar adanya, saya berpikir, sekolah itu harus segera ditindak dan diberi sanksi yang keras, sebab mereka telah mendidik para anak didik di sana dengan cara-cara esktrim dan radikal.


Salam Indonesia satu!


#01JokowiLagi



(Hermanto Purba)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...