Jokowi Minta Rakyat Pakai Baju Putih Saat Coblosan, Andi Arief 'Nyinyir' Bilang Gini

Hasil gambar untuk andi arief

Infomenia.net -  Capres petahana Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengajak pendukungnya datang ke TPS pada 17 April mendatang dengan menggunakan kostum putih.
Permintaan Jokowi ini ditanggapi politikus Partai Demokrat, Andi Arief. Dalam laman Twitternya, Andi menilai permintaan Jokowi itu tersebut lebih berbahaya ketimbang terorisme.
"Ide berbaju putih lebih bahaya ketimbang terorisme," tulis Andi Arief di laman Twitternya (26/3).
Andi tidak menjelaskan detail hubungan baju putih dengan terorisme. Namun dia menegaskan demikian, "Bagi yang tak berbaju putih apakah dijamin bebas dari intimidasi?" imbuhnya.
Politikus yang terjerat kasus narkoba jenis sabu itu mengatakan pemilihan presiden berdasar baju yang digunakan pernah terjadi di Thailand dan efeknya adanya konflik horizontal, yakni baju kuning vs baju merah.
"Demikian juga di Brazil. Ide baju putih ingin menjadikan Indonesia seperti Thailand?" ujar dia.
Di sisi lain, pakar Semiotika ITB Acep Iwan Saidi menilai, imbauan Jokowi seolah memaksa publik untuk menunjukkan pilihannya sebelum mereka memilih. Prinsip langsung, umum, bebas, dan rahasia akan ternodai jika hal itu direalisasikan.
"Di sisi lain, imbauan tersebut sebenarnya bisa menjadi bumerang bagi Jokowi sendiri. Sebab mungkin saja nanti orang memakai baju putih, tapi bukan untuk memilih pasangan calon (paslon) 01, tapi justru untuk mengelabuinya. Selain itu, baju putih juga bukan hanya `milik` atau identik dengan Jokowi," ujar Acep, dalam keterangannya, Kamis (28/3), seperti dikutipdetik.com.
Acep mengatakan warna putih sendiri memiliki makna tersendiri dalam semiotika perircean alias ilmu tanda dalam hal ini simbol, ikon dan indeks. Putih, kata dia, merupakan tanda kepertamaan. Putih akan menjadi tanda jika secara logis telah `duduk` dalam konteks atau argumen tertentu.
Acep mencontohkan dalam konteks Islam. Warna putih memiliki makna islami ketika ia didesain sebagai baju koko. Namun, jika didesain sebagai kemeja, warna putih tidak lantas bermakna islami.
"Bagaimana dengan `putih Jokowi`? Baju putih yang identik dengan Jokowi adalah kemeja putih yang dipakai dengan cara dilipat bagian ujung lengannya, tidak dimasukkan ke dalam celana, dan biasanya dipadu dengan celana hitam dari kain atau jeans. Lain dari bentuk ini, baju putih bersifat netral," katanya.
Karena itu, menurut Acep, baju putih tidak bisa diidentikkan dengan seseorang atau paslon tertentu. Sama halnya dengan baju koko putih yang tidak bisa diidentikkan dengan Ma`ruf Amin. Sebab, kata Acep, cara berpakaian Ma`ruf Amin yang memadukan peci hitam, sarung dan sorban merupakan visualisasi dari Islam nusantara.
"Jika koko dipadu dengan peci putih (topi haji), misalnya, kesannya justru akan sebaliknya dari paslon 01, yakni menjadi milik paslon 02. Perhatikan fashion ulama dan santri 212. Secara umum, mereka tidak memakai peci hitam. Sebagian malah memakai gamis meskipun segelintir ada juga yang memakai sorban hijau (sebab banyak aktivis 212 juga dari NU). `Putihkan Monas`, adalah metafora milik 212, yang visualisasi dan sintaksis fesyennya koko putih yang dipadu dengan peci putih (dalam berbagai bentuk)," tutur Acep.
"Walhasil, baju putih tidak bisa disederhanakan dengan mengidentikkannya kepada Jokowi atau paslon 02," imbuh dia.(law-justice.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel