Wajib Dibaca dan Dishare! Analisa Cerdas Soal Pembebasan ABB, Mengapa Jokowi Bebaskan Ba'asyir Sekarang?

 Hanya Dua Kali Pertemuan dengan Yusril Ihza, Jokowi pun Setuju Pembebasan Baasyir

Infomenia.net - ANALISA REKAN WARTAWAN ‘DEUTCHE WELLE’ : Saya ditanya untuk menanggapi ribut-ribut di media (sosial) soal pembebasan Ba'asyir, terpidana pendukung terorisme dan bapak ideologis para jihadis Indonesia. 

Mengapa Jokowi membebaskan Ba'asyir sekarang ?

Ya, memang alasan yang dikemukakan adalah alasan "kemanusiaan". Tapi kita tahu, Jokowi tidak pernah melakukan sesuatu yang menghebohkan tanpa perhitungan politik. Dan dia memang sudah sering mengejutkan para pengamat dan lawan-lawan politiknya dengan "move" yang tidak terduga-duga.

Menghitung sebuah ‘move’ politik, yang pertama-tama perlu kita amati adalah: Siapa yang paling diuntungkan dengan 'move' itu? Nah, ini yang sering dilalaikan para pengamat politik. Jawabannya sebenarnya mudah saja: Yuhril Ihza Mahendra. Pembebasan Ba'asyir sebenarnya adalah hadiah untuk YIM, sesuatu yang memang sudah dijanjikan kepadanya ketika berbalik mendukung capres nomor urut 1
Mengapa penting untuk mengangkat citra YIM? Karena dia satu-satunya politisi yang unya kapasitas menggembosi Gerindra, walaupun dalam hitungan dua-tiga persen saja, namun dalam situasi pertarungan politik saat ini, setiap persen sangat berguna untuk mengamankan kursi kepresidenan. 

Jadi pada beberapa hari ke depan, yang akan kita alami adalah bangkitnya seorang politisi yang energik, yang sebenarnya sempat loyo dan lunglai, kembali ke panggung politik Indonesia. Lihat saja, beberapa hari ini nama YIM akan menghiasi headlines di media-media di Indonesia seperti pada masa-masa jayanya. 

Jadi yang penting bukanlah sang Ba'asyir, melainkan si ganteng YIM. Bagi Jokowi, sangat penting membesarkan lagi YIM agar bisa menarik sepersekian suara dari Gerindra dan aliansinya. Dan menurut saya, itu memang langkah politik yang jitu dan bakal membuat kubu lawan politiknya kebingungan dan merasa BT.

Tetapi memang ada faktor kemanusiaan dalam move politik Jokowi. Hanya saja, jauh dari yang disebut-sebut para pengamat politik.

Dengan membebaskan Ba'asyir, Jokowi sebenarnya sedang mengalihkan perhatian publik dari pembebasan BTP. Karena dia sadar betul, sosok BTP masih tetap berpotensi menjadi mobilisasi politik pihak lawan. 

Dan yang lebih penting lagi, bagi Jokowi sendiri BTP merupakan seorang sahabat baik, sekaligus sosok yang tegar, konsisten serta konsekuen, sesuatu yang tidak akan pernah dicapai Jokowi sendiri, karena dia merasa harus selalu melakukan kompromi ini-itu demi mempertahankan kepemimpinannya. Sedangkan seorang BTP, seperti yang kita kenal, adalah sosok berani mati dalam mempertahankan apa yang dia yakini, tanpa peduli pangkat atau jabatan. Itulah hal yang sangat dikagumi sekaligus dicintai Jokowi pada sosok BTP.

Memang, Jokowi tidak akan pernah berani secara terang-terangan menyatakan kekaguman dan kecintaannya kepada BTP, karena dia selalu memperhitungkan dan mengkhawatirkan dampak politiknya. Tapi langkah membebaskan Ba'asyir adalah move politik yang jitu untuk meringankan langkah BTP menuju ke alam bebas.

Pada akhirnya, dari aspek perhitungan politik, harus diakui bahwa Jokowi selalu menemukan celah yang mengejutkan dan tidak diduga para lawan maupun para pengamat politik. Disitulah, saya sering angkat jempol untuk orang nomor 1 RI ini. Akan halnya soal 'kemanusiaan', ya kalau ada yang percaya dengan itu, tentu akan sangat menguntungkan posisi Jokowi juga.

Dan ini teori lain :

INDONESIA JAUH LEBIH PENTING DARI SUARA PILPRES!

Ada banyak kesempatan jika Jokowi hanya memikirkan soal elektoral. Tapi ia memilih kerja keras. Lebih memilih pembangunan yang adil. 

Kalau Jokowi mau menang Pemilu mudah. Simpel saja. Fokuskan saja anggaran untuk membangun daerah yang padat penduduknya seperti Jawa dan Sumatera. Atau kota-kota padat di Sulawesi dan Kalimantan.
Tapi itu tak dilakukan.

Jokowi membagi kartu Keluarga Harapan. Setiap keluarga akan mendapat Rp10 juta setahun, dibagi setiap tiga bulan sekali. Kartunya berbentuk seperti kartu ATM.

Tapi saat Jokowi mempertimbangkan untuk membebaskan Abubakar Baasyir, sebagian orang malah menudingnya itu cuma langkah meraup suara.

Bahkan yang menyebalkan, mereka menuding suara yang mau diraup Jokowi adalah suara kaum radikal. Padahal mana ada gerombolan radikal itu mau ikut Pemilu? Mereka mengharamkan NKRI. Wong, kabarnya Baasyir sendiri menolak menandatangani kesetiaan pada negara ketikka proses pembebasaannya.

Justru langkah membebaskan Baasyir berpeluang menggerus suara Jokowi dari kelompok minoritas. Tapi kenapa tetap dilakukan oleh Jokowi?

Saya meyakini ini bukan soal Copras-capres belaka. Keputusan itu menyangkut persoalan yang lebih besar dari sekadar Pilpres.

Baasyir itu salah satu pemimpin yang omongannya didengarkan gerombolan teroris. Ia pernah memegang posisi sebagai Imam yang meliputi Asia Tenggara. Artinya di mata gerombolan itu, posisi Baasyir sangat penting.

Persoalannya sekarang Baasyir sakit keras. Sementara masa tahannya masih 6 tahun lagi. Bayangkan jika ia mati di Penjara. Isunya akan dimainkan bahwa pemerintah Indonesia menjalimi ulama sampai mati.

Isu itu akan digoreng habis-habisan untuk membangkitkan seruan jihad.
Gerombolan teroris se-Asia akan bergerak memasuki Indonesia. Mereka juga didukung teroris dunia yang memang sedang mencari sarang baru. Setelah kehancuran di Suriah dan Irak.

Jadi jika Baasyir mati di penjara, isunya dimungkinkan akan dibakar gila-gilaan. Seperti mengundang burung pemakan bangkai mematuki tubuh kita. Jihadis dunia jadi punya motivasi masuk ke Indonesia. Disambut gerombolan politisi ‘ngehe’ yang ngebet berkuasa. Lalu esok, kita membaca berita negeri ini sudah tersandra gerombolan teroris.

Jadi naif jika kita memandang bahwa pembebasan Baasyir adalah langkah untuk menarik suara. Lho boro-boro nambah. Malah ada resiko berkurang. Coba lihat saja obrolan di medsos.

Persoalannya, sebagai Presiden Jokowi tak mungkin membiarkan kemungkinan buruk melanda negerinya. Jika pun langkah itu justru merugikan posisi politiknya. Kerugian kehilangan potensi suara, jauh lebih sedikit ketimbang kerugian kehilangan Indonesia.

Sebab Indonesia jauh lebih berarti dari sekadar Pilpres. Jauh lebih penting dari sekadar memuaskan rasa sakit hatimu. ***

(fb. Dimas Supriyanto)



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel