Infomenia

Selasa, 04 Desember 2018

Surat Terbuka untuk Ibu Ratna Dewi Pettalolo – Bawaslu RI. Isinya Nyelekit Banget!




Infomenia.net - Selamat Pagi Bu Ratna Dewi Pettalolo, semoga sukses selalu sebagai Komisioner Bawaslu RI. Wow, itu kalau di perusahaan, tinggi juga loh jabatannya bu. Itu ibarat yang bisa menyuruh seluruh bawahan untuk mengikuti visi misi perusahaan dari pucuk pimpinan. Mestinya sih bagus ya bu? 

Apalagi Bawaslu itu kan juri kan ya bu? Ibarat pertandingan Pencak Silat, ibu itu tim jurinya, bisa melihat mana gerakan yang tidak sesuai dan mana yang sesuai dengan persyaratan didalam Olahraga Pencak silat, jadi mestinya Fair dan Sportif dong ya bu. Tapi gimana ya bu kalau misalnya Juri olahraga itu ternyata orang tua, guru, suami/istri, adik/kakak dari atlit yang bertanding? kira kira akan dimenangkan gak ya bu? misalnya saja itu atlet ternyata melanggar persyaratan pertandingan pencak silat? Nanya saja bu.

Ibu Ratna Dewi Pettalolo juga termasuk Wanita yang berbahagia, apalagi bisa bersuamikan Ketua Ombudsman Sulteng – Bapak Sofyan Farid Lembah. Benar benar pasangan yang berbahagia sekali ya.

Ibu sudah baca belum postingan bapak di Medsos

 Ya memang saya akui, seorang istri memang harus mengikuti suaminya. Apalagi suami ibu bangga sekali loh waktu ibu dilantik Pak Presiden Jokowi sebagai Komisioner Banwaslu RI, sampai sampai ibu dibilang Singa Betina.

Tapi yang bikin saya kaget itu, komentar ibu Dewi di DETIKCOM bahwa ibu sudah memantau dari TV dan tidak ada kampanye di Reuni 212. TV mana yang ibu tonton? TVOne atau MetroTV? Jika MetroTV aplagi Indosiar memang tidak memutarnya, karena media kan harus adil bu, satu media fokus ke mereka yang berafiliasi ke oposisi maupun yang tetap ke pemerintahan. Itulah demokrasi.

Saya sedih sekali kenapa ibu tega membohongi kami. Kami hanya ingin bertanding dengan jujur bu. 

Bertanding program bukan bertanding Politik atas nama agama. Tolong berikanlah kami bimbinganmu sebagai Singa Betina sejati yang mengajarkan kejujuran, keadilan sosial, Sumpah Jabatan, Agama yang kita sama sama anut walaupun berbeda, pelestarian kemanusian yang adil dan beradab, Pancasila karena kita tinggal di Indonesia dan bukan di Syria.

Saya tidak meminta ibu memilih mendukung Prabowo atau mendukung Jokowi. Saya ingin ibu menjadi Juri. Juri itu ditengah. Juri itu tidak memihak. Juri itu memberikan siapa yang salah dibilang salah, siapa yang benar dibilang benar, bukan dibilang salah karena ibu benci dan dibilang benar karena ibu satu paham ideologi dan kepercayaan dengannya.


Berita mengenai Kampanye Politik di acara 212 banyak sekali loh bu, kenapa ibu sampai bilang tidak ada kampanye?

Sebenarnya link masih banyak, dan ibu bisa mencari sendiri di Google atau di Grup WAG, saya yakin sebenarnya beberapa broadcast harusnya sampai ke ibu, JIKA IBU NETRAL, saya yakin ibu pasti menerima semua WAG dan broadcast yang ada, karena saya rakyat kecil yang bukan siapa siapa dan hanya bermodalkan HP jadul saja masih menerima dari kedua kubu.

Ibu Dewi, akhir kata, saya meminta ibu jadi Juru damai, menjadi Juri yang adil, juri yang melihat dengan mata hati dan tidak memihak. Tulisan saya mungkin bisa merubah ibu dan mungkin juga tidak akan membuat ibu berubah, hanya Gusti Allah yang tahu. Mengenai pilihan politik, itu ibarat makanan, saya tidak bisa memaksa ibu menyukai Gado gado walaupun saya suka sekali dengan makanan itu. Tetapi mohon ibu bisa profesionalisme dalam pekerjaan ibu dalam Bawaslu. Berikanlah statement yang benar, itu cukup simple dan mudah dilakukan, jika memang ada, infokan ada, jika tidak ada, infokan tidak ada, jangan sebaliknya hanya karena ibu tidak suka sama fakta yang ada di Lapangan sehingga ibu press conference hal sebaliknya.

Jakarta, 4 Desember 2018.

Terimakasih.

(Y. Suherman, indovoices.com)  

Comments
0 Comments

0 comments