Infomenia

Rabu, 26 Desember 2018

Merinding! Sederet Musikus Akui Kekuatan Magis Lagu Seventeen 'Kemarin', dan Kini Menjadi Nyata. Begini Liriknya

Hasil gambar untuk seventeen

Infomenia.net - Tsunami yang terjadi di selat sunda menewaskan 373 warga negara Indonesia.

Sebagian besar korban adalah para wisatawan yang sedang menikmati momen liburan di area pantai.

Beberapa personel band Seventeen juga menjadi korban tsunami Banten, diantaranya Herman selaku gitarist, Bani selaku bassist, Andi selaku drummer, Oki selaku roadmanager, dan Ujang.
Ifan berhasil selamat dalam insiden tersebut.

Sayangnya, Ifan harus menerima kenyataan pahit karena ditinggal teman seperjuangan serta sang istri tercinta, Dylan Sahara.

Kesedihan Ifan yang kehilangan orang-orang tersayangnya sekaligus mampu mencabik hati siapa pun yang melihatnya.

Seolah masyarakat juga ikut merasakan kepedihan hati Ifan dan berharap Ifan bisa kuat menghadapi semua musibah ini.

Para warganet kemudian teringat akan lagu Seventeen yang berjudul 'Kemarin'.

Sebab, lagu yang rilis di tahun 2016 tersebut seolah menjadi kenyataan.

Bahkan, para musisi papan atas Tanah Air mengakui adanya kekuatan magis pada lagu tersebut.

Lagu band Seventeen yang berjudul 'Kemarin' diciptakan oleh sang gitaris yang kini telah tiada, Herman Sikumbang.

Lagu itu menceritakan tentang kepedihan seseorang yang ditinggal pergi orang yang disayang untuk selamanya.

Berikut penggalan lirik lagu 'Kemarin':

"Kemarin engkau Masih ada disini
Bersamaku Menikmati rasa ini
Berharap semua Takkan pernah berakhir
Bersamamu Bersamamu

Kemarin Dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu Merasakan ini semua
Melewati hitam Putih hidup ini
Bersamamu Bersamamu

Kini Sendiri disini
Mencarimu Tak tahu dimana
Semoga tenang Kau disana
Selamanya


Aku Slalu mengingatmu
Doakan mu Setiap malamku
Semoga tenang Kau disana
Selamanya."


Anji selaku musisi kemudian mengunggah video lirik lagu 'Kemarin' dan mengungkapkan perasaan merinding setelah mendengarnya.

Pelantun lagu 'Diaaaaaaaaaaaaaa' ini juga ungkap fakta mencengangkan mengenai tanggal rilis lagu 'Kemarin'. Ternyata, lagu tersebut dirilis Seventeen pada 21 Desember 2016, dimana hampir tepat dua tahun sebelum tsunami terjadi.

"MERINDING DENGAR LAGU INI. Salah satu lagu @seventeenbandid yang sebelumnya saya tidak tahu.
 
Tanggal rilisnya, 21 Desember 2016. Tepat 2 tahun sebelum kejadian besar kemarin. Siapa sangka lagunya jadi sangat relevan dengan keadaan @ifanseventeen saat ini.

Kuat ya, Bro @ifanseventeen . Teman-teman lo banyak yang siap menghibur bila lo membutuhkan. Just tell us," tulis Anji.

Unggahan Anji tersebut kemudian diunggah ulang oleh vokalis band Armada, Rizal.


Melalui unggahannya Rizal menuliskan ungkapan doa untuk keluarga Seventeen.

Selaku musisi sekaligus sahabat Ifan Seventeen, Ifan Govinda juga mengunggah video dirinya menyanyikan lagu 'Kemarin'.

Ifan Govinda mengungkapkan lagu tersebut dirilis tepat dua tahun sebelum kejadian. Lagu tersebut sangat menggambarkan perasaan mereka saat ini.

"K E M A R I N , lagu ini tepat di release 2 tahun lalu oleh sahabat sahabat @seventeenid , dan hari ini lagu ini sangat menggambarkan bagaimana perasaan kami yang kehilangan saudara saudara kami, sahabat sahabat kami yang kami sayangi.

Ya Allah sang maha penyayang, terima lah sahabat sahabat kami di sisiMU, ampunkan segala dosa mereka, terima amal ibadah mereka yang lebih dulu menghampiriMU, dan masukan mereka ke dalam Surga terbaikMU.

Saya dan banyak sahabat yang lain sanggup bersaksi bahwa, mereka adalah hamba hamba MU yang baik, lembut hati nya, ramah tingkah laku nya.

Teruntuk sahabat sahabat ku, @hermanseventeen , @baniseventeen @andi_seventeen , @oki_wijaya , @rukmanarustam , dan @dylan_sahara , Selamat berpisah..
InshaAllah, Allah karuniakan ketenangan, Allah lapangkan kubur masing masing.
Kami semua merindukan kalian..

Layaknya lirik penghujung lagu ini, yang menjadi doa untuk kalian yang terlebih dulu menghampiri Sang Maha Penyayang... Semoga Tenang Kau Disana.. InshaAllah di JannahNya.." tulis Ifan Govinda.

Dua Gelombang Dahsyat

Bencana tsunami yang menimpa Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) menyisakan banyak kisah mendalam di baliknya.

Beberapa di antaranya mengaku mengalami pengalaman pribadi, menyaksikan saat-saat sebelum bencana nahas ini terjadi.

Salah satunya adalah dialami oleh Oystein Lund Andersen, fotografer gunung api dari Norwegia yang berada di Pantai Anyer Jawa Barat.

"Saya berada di pantai. Saya sendirian, keluarga saya tidur di kamar," begitulah katanya dikutip dari BBC World pada Senin (24/12/2018).

"Saya mencoba memotret gunung berapi Anak Krakatau yang meletus," katanya.

"Sebelumnya di malam hari, ada aktivitas erupsi yang cukup berat. Tapi sesaat sebelum ombak menghantam pantai, tidak ada aktivitas sama sekali. Di luar sana hanya gelap," katanya lagi.

"Dan tiba-tiba saya melihat gelombang ini datang, dan saya harus berlari," tambahnya.

Oystein mengaku melihat dua gelombang sesaat sebelum bencana tsunami melanda.
Menurutnya, gelombang pertama tidak begitu kuat, jadi dia bisa berlari sekuat yang dia bisa, oleh karena itu ia berlari sekuatnya.

Namun, gelombang kedua adalah gelombang besar yang berakibat pada tsunami, namun beruntung Oystein berhasil menghindari gelombang kedua.

"Saya berlari langsung ke hotel, tempat di mana istri saya menginap, dan putra saya sedang tidur,"katanya.

"Saya membangunkan mereka, dan saat itulah saya mendengar gelombang besar datang. Saya melihat gelombang besar datang," katanya lagi.

"Melihat ke luar jendela ketika gelombang kedua menghantam. Itu jauh lebih besar," tambahnya.

Ombak terlihat melewati hotel, mobil terdorong keluar dari jalan, dan bersama orang-orang lainnya Oystein mencari tempat yang lebih tinggi.

"Kami dan orang lain di hotel langsung menuju ke hutan di sebelah hotel. Ada bukit dan kami berada di atas bukit sampai sekarang,"tambahnya.

Selain Oystein beberapa warga lain juga dilaporkan melarikan diri ke hutan menurut laporan AFP.

Sejauh ini bencana tersebut telah mengakibatkan 281 korban meninggal dan 1.016 orang luka-luka, 57 dilaporkan hilang serta 4.411 orang mengungsi menurut kabar dari Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Sedangkan kerugian meterian hingga malam tadi, terdiri dari 528 unit rumah rusak berat, 1 rumah hilang dan 82 rumah rusak ringan. (tribunnews.com)



Comments
0 Comments

0 comments