Jalan Dua Kecamatan di Riau Rusak! Harga Kebutuhan Pokok Naik 100 Persen, Masih Nyinyir Gak Butuh Infrastruktur?

 Kondisi Mengenaskan Jalan Bak Bubur , 2 Kecamatan di Riau Ini Langsung Lumpuh , Harga Kebutuhan Pokok Naik 100 Persen,  Masih Mau Nyinyir Kagak Butuh Infrastruktur ?

Infomenia.net - Dua Kecamatan di Kabupaten Kampar Riau saat ini terancam rawan pangan.

Jalan akses desa rusak parah akibat hujan yang memutus akses kendaraan.

"Sejak musim penghujan ini, kendaraan tidak bisa melintas di daerah kami. Jalan tanah sepanjang lebih 40 km berlumpur seperti sawah," kata Kades Tanjung Karang, Kecamatan Kampar Kiri Hilu, Busrianto kepada detikcom, Kamis (20/12/2018).




Kondisi jalan berlumpur yang mematikan transportasi, kata Busrianto, juga dirasakan Kecamatan Kampar Kiri yang masih tetanggaan.

Kondisi jalan bak sawah ini dirasakan sejak Riau memasuki musim penghujan.

"Tak satu mobil bisa masuk ke desa kami kalau sudah turun hujan. Akibatnya hasil pertanian warga seperti karet dan sawit tidak bisa dijual," kata Busrianto.

Tidak hanya itu saja, kebutuhan bahan pokok saat ini juga melonjak naik. Harga kebutuhan pokok bisa naik 100 persen sejak akses jalan terputus lebih dari dua bulan.

"Jika harga beras per kilonya biasanya Rp 7.500 sekarang sejak akses jalan terputus naik menjadi Rp 15 ribu per kilonya. Jadi semua kebutuhan sembako naik, gara-gara tidak bisa kendaraan melintas ke kampung kami," kata Busrianto.

Dia menyebutkan, lebih 40 km akses jalan di desanya yang menghubungkan ke Sumatera Barat kini lumpuh total. Padahal status jalan merupakan jalan provinsi.

"Akses yang yang belum diaspal ini, kalau sudah hujan tidak bisa melintas. Truk banyak terjebak di jalan tak bisa bergerak sama sekali," kata Busrianto.

Busrianto menceritakan, kondisi jalan yang rusak ini membuat repot masyarakat yang mengalami sakit.

Warga yang sakit butuh segera penanganan dokter terpaksa dipanggul dengan berjalan kaki.

"Jadi pernah warga desa sakit, tidak bisa kendaraan masuk, warga yang jatuh sakit terpaksa dipanggul seperti bawa orang meninggal. Warga memanggulnya dengan berjalan kaki sampai keperbatasan Sumbar. Setelah dapat jalan yang berasalpal, barulah diantar pakai mobil ke rumah sakit," cerita Busrianto.(detik.com)






Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel