Infomenia

Selasa, 20 November 2018

Modusnya Terkuak! Tunggangi Prabowo, Titiek Soeharto Mau Kembalikan Indonesia Ke Jaman Gelap Orde Baru




Infomenia.net - Berawal dari Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Titiek Soherto yang mengungkit zaman Orde Baru yang pernah swasembada pangan saat mengampanyekan Prabowo di Cilegon. 

Keberhasilan swasembada itu sampai mendapat penghargaan internasional.

Pencapaian dan keberhasilan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto disebut akan kembali tercapai jika Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden.

Ia meminta relawan melakukan kampanye, jika terpilih sebagai presiden, Prabowo akan meneruskan program-program yang telah berhasil dicapai Soeharto.

“Sebenarnya kita bisa swasembada asal mau, jadi kita berkampanye bahwa kita akan meneruskan program Pak Harto yang berhasil untuk menyejahterakan rakyat,” kata dia.

Jadi jelas ya pembaca, bila selama ini menjadi pertanyaan, apa sebabnya trah Soeharto berkumpul dalam sebuah partai yang bernama Berkarya dan mendukung Prabowo, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengembalikan kejayaan orde baru. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada artikel yang sudah pernah saya tulis.

Sebelum melanjutkan, saya ingin menjelaskan dahulu soal swasembada pangan yang disebutkan oleh Titiek Soeharto. Klaim Titiek Soeharto bahwa Indonesia pernah mengalami swasembada pangan dalam hal ini beras adalah benar. Namun informasi yang diberikan tidak dijelaskan secara utuh.

Selama 32 tahun kekuasaan Soeharto, Indonesia memang pernah mengalami swasembada pangan, yakni di tahun 1984. Bahkan ketika direktur FAO Direktur Jenderal FAO Dr. Eduard Saoma dua tahun berikutnya berkunjung ke Indonesia. Dirinya atas nama FAO sempat menyerahkan penghargaan medali emas dengan gambar timbul Pak Harto di satu sisi dan gambar petani sedang menanam padi beserta tulisan ”From Rice Importer to Self Sufficiency” di sisi keping yang lain.

Namun sayangnya kemampuan swasembada tersebut hanya bertahan sesaat saja. Di tahun 1988 Indonesia terpaksa kembali mengimpor beras dari negara lain. Bahkan, pada tahun 1995, ketergantungan terhadap impor beras melambung hingga mencapai angka sekitar 3 juta ton. Puncaknya rekor impor beras Indonesia tertinggi sepanjang zaman terjadi pada 1998 dengan jumlah sekitar 6 juta ton. Dan itu semua terjadi di masa bapaknya berkuasa.

Jadi bila defenisi Titiek Soeharto bahwa Swasembada beras itu adalah tidak mengimpor beras. Mungkin dia lupa atau tidak pernah baca berita, bahwa hal ini sudah dijalani oleh pemerintahan Jokowi yang tidak melakukan impor beras di tahun 2016 dan 2017.


Malah ada baiknya Titiek Soehartongaca dulu dengan membandingkan data saat bapaknya berkuasa 32 tahun dengan masa pemerintahan Jokowi yang baru berjalan empat tahun. Hal ini perlu dipertanyakan mengingat sangat minimnya kemajuan Indonesia selama 32 tahun Soeharto berkuasa.
Istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sudah dianggap idiom dengan orba. Bahkan Soeharto dinobatkan sebagai Presiden Terkorup Sedunia Abad 20, berdasarkan temuan Transparency International 2004 dengan total perkiraan korupsi sebesar 15-25 miliar dolar AS.
Salah satu kasus korupsi besar yang dilakukan Soeharto yakni penyelewengan Dana Reboisasi Departemen Kehutanan dan pos bantuan presiden yang dipergunakan untuk membiayai tujuh yayasan milik Soeharto, yakni Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial, Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti, Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, dan Yayasan Trikora.

Tindakan KKN yang dilakukan Soeharto ini mendapat sorotan tajam, lantaran dilakukan dengan terang-terangan dengan melibatkan perusahaan-perusahaan miliknya yang dipegang oleh para anaknya, serta perusahaan para koleganya.

Ini kita masih berbicara hal yang berkaitan dengan ekonomi, belum soal lain-lainnya seperti dikekangnya kebebasan berekspresi. Jangan harap saya bisa menulis seperti ini, karena sedikit kritikan saja bisa berakibat orang yang mengkritik hilang dijemput oleh suruhan Soeharto.

Lantas pembaca pasti akan berkomentar, meski bapaknya diktator belum tentu anak-anaknya akan mengikuti jejak yang sama. Jawaban saya, jangan terburu-buru percaya dulu, karena Ketua Umum Partai Berkarya yang sebelumnya Neneng A Tutty tidak menampik anggapan tersebut. Tanpa ragu, Neneng menjelaskan bahwa Partai Berkarya memang akan menjadi partainya para Soehartois.

“Karena ada lambang Pak Harto dan Mas Tommy, pasti orang mempunyai pemikiran seperti itu, Soehartois. Ya memang kami membangun dengan militansi Soehartois,” tutur Neneng.
(https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180307140501-32-281127/partai-berkarya-reinkarnasi-cendana-di-kancah-politik-negeri)


Apalagi sekarang jabatan Ketua Umum sudah diambil alih oleh Tommy Soeharto, artinya tekad mengembalikan Indonesia ke zaman Soeharto akan semakin menguat dengan menunggangi iparnya, seandainya menang nanti.
Kaum Diktator Soehartois bukanlah satu-satunya yang haus untuk berkuasa kembali. Kita harus ingat masih ada kaum radikalis semacam HTI dan PKS yang menyimpan impian untuk mendirikan Khilafah, serta kaum kapitalis yang diwakili oleh Prabowo-Sandi. Hal ini disebut oleh Prabowo sendiri yang mengakui diri adalah Kapitalis, meskipun ada embel-embel nasionalis dan pancasilais.

Tiga kelompok besar yang saling bertolak belakang semata-mata bisa bersatu hari ini karena punya musuh yang sama, yakni Jokowi. Apa Anda pikir kalau mereka berhasil menang, sesama mereka tidak akan gontok-gontokan, saling tikam menikam? Lihat saja perebutan kursi Cawagub DKI saat ini, saling sikut, saling klaim antara PKS dan Gerindra.

Meski melalui pertemuan antara Gerindra dan PKS beberapa waktu yang lalu telah disepakati kursi wagub DKI untuk PKS. Gerindra terlihat tidak rela dengan mensyaratkan bahwa calon dari PKS harus menjalani Fit and Proper Test. Belum cukup sampai di situ, Gerindra menambahkan persyaratan agar PKS mengajukan setidaknya empat nama untuk diseleksi dari yang semula dua nama yang sudah disodorkan oleh PKS.

Itu baru di tingkat provinsi. Itu baru di posisi cawagub. Ributnya sudah bukan main. Bisa Anda bayangkan kejadian yang sama terjadi di tingkat nasional? Di tingkat yang lebih tinggi? Dengan begitu banyak pihak yang bermain, dengan begitu banyak kepentingan yang minta dipenuhi, masih adakah waktu untuk memperhatikan rakyat kecil? Masih adakah pikiran untuk memajukan bangsa? BULLSHIT…!!!

Pada akhirnya, Jokowi masih merupakan pilihan terbaik untuk memimpin bangsa ini sekali lagi, setidaknya melalui pembangunan di segala bidang, Indonesia mengalami kemajuan luar biasa terutama sudah dialami langsung oleh saudara-saudara kita yang tinggal di daerah 3T (Terpencil, tertinggal dan keluar).

Ibarat menanam, perlu waktu, perlu pupuk, perlu air dan perawatan. Meski belum semua merasakan dampaknya secara langsung, namun saya yakin, buah dari hasil kerja keras pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi akan kita nikmati di periode kedua nanti. Bukankah begitu kawan? (Robin.indovoices.com)





Comments
0 Comments

0 comments