Infomenia

Senin, 05 November 2018

Ini Dia Jenderal Rasis Centengnya Prabowo Yang Awal Mula Sebar Berita "Warga Boyolali Pendemo Prabowo PKI"

 Catat...Ini Dia Jenderal Rasis Centengnya Prabowo Yang Awal Mula Sebar Berita "Warga Boyolali Pendemo Prabowo PKI"

Infomenia.net -  Seolah belum puas menista dan melecehkan masyarakat Boyolali, kini giliran para pendukung fanatik Prabowo Subiyanto kembali menyebar fitnah terhadap rakyat Boyolali.

Secara terstruktur, sistematis dan masif mereka menggiring isu Boyolali sebagai Sarang PKI.

Berdasarkan pelacakan jejak digital sejumlah netizen, isu ini diduga berkembang dari postingan Letjen (purn) Johannes Suryo Prabowo yang memposting foto dirinya tengah menyantap soto boyolali yang ia bumbui dengan sebuah foto Kliping Koran lawas hasil pemilu 1955 di Karesidenan Surakarta yang ketika itu dimenangkan oleh PKI.
Dalam postingannya yang menggunakan bahasa yang sangat "halus", ia menulis:

gara-gara ribut “Tampang Boyolali”
sehabis kondangan .....
saat perjalanan kembali kerumah di Cijantung, malam ini saya sempatkan nyruput “Soto Boyolali” bentar, sambil ngliat kliping koran tahun 1955.

itu aja .....
“They do first blood, not me” (Rambo 1982)

https://muhidindahlan.radiobuku.com/2014/04/11/di-karesidenan-surakarta-pki-juara/

Entah apa tujuan pria kelahiran Semarang 64 tahun lalu itu membangkitkan isu PKI di saat masyarakat Boyolali tengah terluka atas kasus Penghinaan 'Tampang Boyolali' yang dilakukan oleh junjungannya itu.

Namun akibatnya sangat Fatal.

Banyak pengikutnya yang kemudian akhirnya mengira Boyolali saat ini masih menjadi Sarang PKI.

Tak butuh waktu lama, Postingan tersebut kemudian berkembang liar menjadi fitnah yang dibagikan oleh ribuan pendukung fanatik Prabowo.

Hal ini terlihat jelas dari caption dan komentar akun-akun yang membagikan postingan mantan jenderal itu.

Postingan mantan jenderal yang diduga memiliki ilmu kebal hukum ini telah dibagikan lebih dari 3200 kali.

sumber: https://www.facebook.com/suryo.prabowo.18/posts/10215569398886311 (semoga belum dihapus)

Sumber: winston zippi johannes

Comments
0 Comments

0 comments