Infomenia

Minggu, 18 November 2018

Biadab! Guru Ngaji Lukai Leher Pasutri Hidup-hidup, Ditemukan 40 Luka Bacok

Tim forensik dari Polda Jawa Timur dan Unair Surabaya melakukan otopsi mayat pasutri yang tewas mengenaskan. (Agus Dwiyono/Radar Trenggalek)
Tim forensik dari Polda Jawa Timur dan Unair Surabaya melakukan otopsi mayat pasutri yang tewas mengenaskan

Infomenia.net -  Perbuatan Matal (60) benar-benar keji. Pria yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dan guru ngaji itu tega menghabisi pasangan suami istri (pasutri) Barno (75) dan Musini alias Cimpling (65).

Pasutri digorok hidup-hidup hingga leher nyaris putus. Dari hasil otopsi yang dilakukan tim Unair Surabaya dan tim forensik Polda Jatim, ditemukan 40 luka di tubuh kedua pasutri lansia tersebut.

Tim forensik menemukan 24 bacokan di leher Barno. Sedangkan di tubuh Musini alias Cimpleng ditemukan 16 bacokan di lehernya.

Otopsi tersebut dilakukan di Instalasi Pemulasan Jenazh (IPJ) RSUD dr Iskak Tulungagung, yang dimulai pukul 10.00 dan berakhir 13.30, Sabtu (17/11).

Dokter Spesialis Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kediri, Tutik Purwanti membeberkan hasil otopsi jenazah pasutri Barno dan Musini di RSUD dr Iskak Tulungagung.

Tutik mengatakan, pemeriksaan dilakukan hingga siang hari. Hasilnya, pasutri yang merupakan warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu meninggal akibat kehabisan darah.

“Banyak kehabisan darah, dan banyak ditemukan luka akibat benda tajam,” jelas Tutik.

Matal ditangkap polisi
Matal ditangkap polisi

Dia mengaku, luka-luka yang ditemukan di tubuh pasutri itu bervariasi, mulai di daerah leher, kepala, tangan kanan dan kiri, serta di bagian pundak. Dari kedua jenazah itu ditemukan pola lukanya sama.

“Pasutri ini pola lukanya sama, yakni di leher dan kepala,” jelasnya.

Untuk jenazah laki-laki memiliki pola luka yang lebih menyebar di bagian tubuh jika dibandingkan dengan yang perempuan. Yakni di sekitar tangan kanan dan kiri, serta di kepala dan leher.

“Lebih menyebar lukanya bagi yang jenazah laki-laki,” katanya.

Sedangkan jenazah perempuan juga memiliki pola luka yang hampir sama yakni lebih cenderung di bagian leher. Selain itu di bagian kepala dan pundak.

“Itu penyebab leher yang jenazah putri hampir putus,” ungkapnya.

Menurut dia, yang rusak di bagian leher dari pasutri itu mulai dari otot, tulang leher, batang tenggorok, saluran nafas serta pembuluh darah.

“Ini yang menjadikan korban lebih banyak mengeluarkan darah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dari pemeriksaan yang di lakukan pihaknya lain ditemukan pula luka bacokan sebanyak 24 di jenazah laki-laki, sedangkan jenazah perempuan sekitar 16 bacokan. Total 40 bacokan.

“Bacokan sebanyak ini ditemukan di bagian kedua leher pasutri,” katanya.

Jenazah pasutri yang digorok tetangga di Tulungagung, dievakuasi. (Radar Tulungagung)
Jenazah pasutri yang digorok tetangga di Tulungagung, dievakuasi. (Radar Tulungagung)

Di singgung mengenai penyebab kematian secara pasti, dokter dengan paras ayu itu belum berani mengungkapkan apa penyebabnya. Sebab, akan bisa disimpulkan jika semua pemeriksaannya sudah lengkap.

“Kalau semua pemeriksaan lengkap baru bisa disimpulkan,” ujarnya.

Hingga kini motif pelaku menghabisi nyawa pasutri lansia itu belum terungkap. Namun pelaku diduga menghabisi nyawa pasangan suami istri itu karena pernah mencuri berasnya.

“Saya pernah menanyai pelaku terus dijawab oleh pelaku jika korban pernah mencuri berasnya,” ucap saudara korban, Anggi, sambil menirukan jawaban dari Matal.

Warga setempat, Dwi menuturkan, pelaku dikenal baik dengan warga sekitar. Namun, pelaku pernah mengalami gangguan kejiwaan dan sudah sembuh total. Bahkan, di lingkungan sekitar diketahui sebagai tokoh agama.

“Setiap hari kelakuannya baik. Bahkan setiap malam Jumat pelaku jadi pemimpin kegiatan yasinan dan tahlilan dan sering azan waktu salat tiba,” jelasnya.

Dia tidak mengira jika Matal yang dikenal sebagai tokoh agama itu tega melakukan pembunuhan secara sadis. Bahkan, setiap malam Matal juga menjadi guru ngaji anak-anak di masjid setempat.

“Baik dalam kesehariannya. Dia itu terkenal khusyuk berkaitan dengan agama. Bahkan dia juga guru ngaji anak-anak kecil,” ungkapnya. (pojoksatu.com)




Comments
0 Comments

0 comments