Infomenia

Kamis, 13 September 2018

Erick Thohir: Bukan untuk Pak Jokowi Saja, Saya Diminta Bekerja untuk Rakyat Indonesia

Hasil gambar untuk erick thohir


Infomenia.net -  "Saya bukan hanya bekerja untuk Pak Jokowi. Tapi saya diminta bekerja untuk rakyat Indonesia," ujar Erick Tohir. Saya mendengar, seorang ketua tim kampanye bukan hanya bicara bagaimana memenangkan Pilpres. Tapi juga bagaimana menciptakan suasana politik yang bersahabat dan adem.
Saya rasa itulah pentingnya kehadiran Erick Tohir. Dia adalah pengusaha bidang Media. Dia juga owner club sepak bola Inter Milan yang kemudian duduk sebagai Presiden club raksasa asal Italia itu. Dia juga menjadi pemilik DC United, club sepak bola AS dan pernah menjadi pemiliki club basket Philadelphia 76ers.


Dalam dunia olahraga, pertarungan tidak sama dengan permusuhan. Para olahragawan sadar, di lapangan mereka dituntut untuk menang. Tapi di atas semua itu adalah sportifitas. Sebuah sikap bahwa pertandingan harus berjalan fair agar kemenangan bukan merupakan hasil dari kelicikan.

Pertandingan sepakbola boleh berlangsung keras dan panas. Tapi setelah pluit usia ditiup, seluruh pemain saling berpelukan. Saling menukar kaos kesebelasan yang basah keringat itu.

Para petinju boleh saling memukul dam menjatuhkan. Tapi ketika ronde akhir diketuk, mereka saling memberi hormat. Dengan wajah babak belur keduanya disatukan lagi. Pukulan mereka tidak mewakili kemarahan. Hook dan jab mereka tidak mewakili kebencian.

Ada semacam kesadaran disana. Bahwa pertarungan di atas ring atau di lapangan hijau yang saling memperhadapkan, tidak mengurangi sikap saling hormat dan respek. Bahwa waktu 15 ronde atau 2x45 menit itu hanya permainan. Jauh di atas itu adalah sebuah kehidupan olahraga yang bermartabat. Sebuah nilai dan makna tentang pertandingan yang jauh dari keinginan saling melumat.

Sebagai pengusaha yang mencintai olahraga Erick Tohir berada di tengah suasana mental seperti itu. Dia ingin clubnya menang. Dia ingin clubnya menjadi juara. Tapi dia tahu, kemenangan tersebut harus diraih dengan cara bermartabat. Dengan taktik yang elegan. Bukan dengan cara licik dan kotor.

"Ini bukan pertempuran," kata Erick menjawab pertanyaan wartawan mengenai posisinya sebagai ketua tim sukses Jokowi-Ma'ruf. "Ini hanyalah pertandingan biasa. Sebuah pertandingan antar sahabat. Jika Pak Jokowi berpelukan dengan Pak Prabowo. Saya juga akan berpelukan dengan Pak Sandi di lapangan basket," selorohnya.

Bagi saya, ditunjuknya Erick Tohir sebagai ketua tim kampanye Jokowi-Ma'ruf adalah sebuah penegasan bahwa Pilpres hanyalah momentum politik lima tahunan. Jauh di atas itu adalah masa depan bangsa. Pilpres memang mirip pertandingan. Tapi mestinya pertandingan dilakukan dengan cara bermartabat. Hanya dengan cara itu sebuah kemenangan dalam Pilpres jadi punya arti. Bagi bangsa. Bagi rakyat.

Erick Tohir adalah antitesa dari sikap sebagian orang yang menganggap Pilpres adalah tikaman untuk saling mematikan. Erick bukanlah Mardani Ali Sera, ketua tim kampanye Anis-Sandi pada Pilkada Jakarta. Untuk mencapai tujuan duduk kursi Gubernur, Mardani merusak bangsa dengan politisasi agama yang kelewatan. Publik dipompakan kebencian. Bahkan Tuhan dan jenazah tidak luput dari politisasi.

Jokowi juga bukan Anies Baswedan. Jokowi sadar kemenangannya tidak berarti jika bangsa ini saling berpecah dan rajutan NKRI terkoyak. Sementara Anies rela menegasikan hak seorang anak bangsa untuk dipilih hanya karena dia bergama kristen. Pilkada Jakarta menorehkan luka politik yang sangat dalam.

Sebetulnya Anies-Sandi bisa saja menjadi pemenang yang elegan tanpa harus menyetujui kampanye bernuansa agama yang kebangetan. Tapi bagi mereka kemenangan di atas segalanya. Meskipun dilakukan dengan merusak tenun kebangsaan sendiri.

Menjelang Pilpres kita sudah kenyang dengan hoax. Akun Gerindra menyebar hoax harga Premium Rp 9.500, padahal harganya Rp 6.550. Sandiaga Uno menyebar informasi bohong duit Rp 100 ribu cuma bisa beli cabe-bawang. Padahal di pasar, uang sebesar itu bisa beli bahan makanan lengkap untuk seluruh keluarga.

Gerombolan PKS dan HTI tak henti-henti menyebarkan kebencian bernuansa agama. Mereka mengubah masjid menjadi posko kampanye. Mereka merusak kekhusukkan ibadah dengan kebencian politik.

Orang-orang seperti ini tidak peduli Indonesia terkoyak dan tenggelam dalam kebencian, yang penting bisa berkuasa. Mereka berkuasa untuk berkuasa. Bukan berkuasa untuk memperbaiki masa depan bangsa.

Pilpres 2014 lalu kebencian dan fitnah juga sudah disebarkan. Tabloid Obor Rakyat yang isinya fitnah keji digunakan untuk menyerang Jokowi. Untung saja rakyat cerdas. Kita tidak ikhlas kursi Presiden diduduki oleh kelompok yang suka menebar fitnah. Jika dengan kekejian mereka bisa berkuasa, apa yang dikakukan setelah itu.

Kekejian akan melahirkan kekejian berikutnya.

Penunjukan Erick Tohir sebagai ketua tim kampanye Jokowi-Maruf adalah sebuah pesan tegas. Di atas tujuan kemenangan dalam Pilpres, yang lebih penting adalah kemenangan bagi Indonesia.

Bagi Jokowi, duduk sebagai Presiden tidak ada artinya jika bangsa ini terkoyak. Jabatan tidak lebih besar dari masa depan bangsa. Makanya dia sering berkata, jadikan ajang Pilpres ini penuh kegembiraan. "Kita ciptakan demokrasi yang menggembirakan," ujarnya.

Nah, Erick Tohir punya tugas seperti itu. Menjadikan Pilpres yang menggembirakan.

"Sandi juga membuat Pilpres ini jadi lucu, mas. Kemarin dia makan kartu ATM goreng tepung. Cabe rawitnya, minta sama bu Lia," ujar Abu Kumkum.(Eko Kuntadhi)

Comments
0 Comments

0 comments