Infomenia

Sabtu, 04 Agustus 2018

Setelah Diminta KPK, Anies Baru Laporkan Tongkat dari Ulama Afrika. Mengapa?

 Hasil gambar untuk mengapa anies baru melaporkan hadiah dari
 

Infomenia.net - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Jumat (3/8) mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia ingin melaporkan hadiah yang pernah diterimanya dari seorang pendakwah asal Ghana, Muhammad Harun, yakni berupa tongkat dengan ukiran harimau di atasnya. 

"Ini dari Ghana dan diberikan oleh seorang kepala suku dari Ghana yang datang ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Cara pakai (tongkatnya) begini (disangkutkan ke pundak)," ujar Anies ketika mempraktikan cara penggunaan tongkat pemberian ulama tersebut ke media pada sore tadi.
Mantan Menteri Pendidikan Nasional itu mengaku diberi hadiah tersebut pada 5 Juli lalu. Namun, dengan alasan kesibukan, ia baru bisa melaporkan ke gedung anti rasuah hari ini. 

"Kami baru melaporkan sekarang, karena baru sempat," kata Anies lagi. 

Lalu, apa ia juga melaporkan pemberian lainnya? Sebab, pendakwah asal Ghana itu tidak hanya menghadiahi Anies tongkat, tetapi juga kopiah, syal dan dua kemeja khas Ghana. 

1. Anies sempat menganggap hadiah tongkat itu adalah inventaris kantor

Mengapa Anies Baru Melaporkan Hadiah dari Ulama Ghana ke KPK Hari Ini?(Tongkat hadiah untuk Anies Baswedan) Komisi Pemberantasan Korupsi

Kepada media yang menemuinya di gedung KPK, Anies menganggap pemberian dari ulama asal Ghana itu adalah inventaris kantor. Sehingga tidak perlu dilaporkan ke lembaga anti rasuah.

"Saya pikir ini sebelumnya bakal jadi inventaris kantor, bukan (untuk milik) pribadi. Ternyata inventaris kantor juga perlu dilaporkan," kata Anies yang mengenakan seragam dinas Gubernur DKI.
Ia mengaku tidak tahu berapa harga dari tongkat antik tersebut. Namun, ia mengaku nyaman ketika menggunakan tongkat itu.

Lalu, mengapa Anies baru melaporkannya ke KPK sekarang? Ia mengaku baru memiliki waktu.
"Kami baru sempat melaporkan sekarang," tutur dia.

Anies nyaris berurusan dengan lembaga anti rasuah, karena ia melaporkan hadiah itu di hari-hari terakhir. Ia mengaku menerima hadiah itu pada 5 Juli, artinya paling lambat dilaporkan ke KPK pada 5 Agustus. Seandainya ia terlambat melaporkan, maka lembaga anti rasuah bisa memprosesnya telah menerima gratifikasi.

2. KPK apresiasi sikap Anies Baswedan yang melaporkan hadiah

Sikap Anies itu diapresiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan sesuai dengan aturan UU barang yang dilaporkan akan dianalisa lebih dulu selama 30 hari kerja.
"Kalau memenuhi pasal 12B, maka akan ditetapkan oleh negara dan sebaliknya," tutur Febri melalui keterangan tertulis pada hari ini.

Pasal 12 B yang dirujuk yakni di dalam UU nomor 20 tahun 2001 mengenai tindak pemberantasan korupsi. Di dalam pasal itu, jelas tertulis bahwa penyelenggara negara dilarang menerima berbagai hadiah yang terkait dengan jabatannya.

3. Semula Anies enggan melaporkan tongkat itu ke KPK


Pada 6 Juli lalu, Anies pernah mengatakan ia enggan melaporkan tongkat pemberian ulama dari Ghana tersebut, Alasannya ketika itu hadiah tersebut diberikan bukan untuk dirinya secara pribadi, tetapi juga untuk Gubernur DKI Jakarta.

"Saya akan taruh ini di Balai Kota. Kalau (hadiah) untuk Anies akan saya laporkan. Ini kan buat Gubernur DKI. Maka, ini jadi inventaris Pemprov DKI," kata Anies tempo hari.

Anies menjelaskan tongkat yang diberikan kepadanya merupakan tongkat yang biasa dipegang oleh kepala suku. Sementara, harimau adalah simbol jadi pemimpin yang ditaati, dihormati, dan diikuti rakyatnya.

"Kepada saudaraku Muhammad Harun, yang memberi hadiah setelah berpidato dengan Bahasa Afrika, maka akan saya berikan topi penanda Gubernur DKI, tanpa perlu ikut Pilkada," kata Anies ketika itu yang direspons dengan tawa.(idntimes.com)

Comments
0 Comments

0 comments