Infomenia

Selasa, 07 Agustus 2018

Bravo! Hanya Di Era Jokowi Aset-Aset yang Dikuasai Asing Mulai Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Ini Daftarnya

Hasil gambar untuk blok rokan



Infomenia.net - Tidak salah rasanya memuji keseriusan pemerintah untuk benar-benar mengembalikan aset negara yang dikelola asing menjadi milik sendiri. Awal cerita perjuangan manis itu dimulai dari diserahkannya pengelolaan Blok Mahakam ke anak usaha PT Pertamina (Persero), Pertamina Hulu Mahakam per 1 Januari 2018.

Blok yang merupakan salah satu pemilik cadangan migas terbesar di Indonesia itu telah dikelola selama 50 tahun oleh Total E&P Indonesie (TEPI) dan Inpex. Keduanya merupakan perusahaan energi yang berasal dari Perancis dan Jepang.

Pada November 2017, WK Mahakam tercatat berproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel minyak per hari dan 1.360 juta kaki kubik gas bumi per hari. Potensi di Blok Mahakam masih cukup menjanjikan. Cadangan terbukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barel minyak dan 45 juta barrel kondensat.

Tak berhenti sampai disitu, pemerintah juga membuka peluang besar untuk mengembalikan Freeport Indonesia ke pangkuan ibu pertiwi. Tepat pada Kamis, 12 Juli 2018, pemerintah Indonesia menyetujui nilai divestasi saham yang disepakati PT Freeport McMoran Inc (FCX) untuk meningkatkan kepemilikan saham di PT Freeport Indonesia dari sebelumnya 9,36 persen menjadi 51 persen. Kesepakatan itu ditegaskan melalui penandatanganan perjanjian Head of Agreement (HoA)

Dalam perjanjian tersebut, Holding Industri Pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) akan mengeluarkan dana sebesar USD 3,85 miliar atau sebesar Rp 53,9 triliun (kurs Rp 14 ribu). 

Anggaran itu akan digunakan untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di PTFI sebesar 40 persen dan 100 persen saham FCX di PT Indocoopper Investama yang dikonversi menjadi 9,36 persen.

Dari nilai total itu, USD 3,5 miliar merupakan milik Rio Tinto, sedangkan Indocoopper sebesar USD 350 juta. Dengan demikian, Indonesia secara keseluruhan akan memiliki 51,38 persen saham Freeport Indonesia.
“Jadi memang melalui penguasaan mayoritas di Inalum ini, dan holding pertambangan, pemerintah berharap PTFI bisa mengelola sebaik-baiknya, juga bisa bermanfaat dan bisa menjadi kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

Upaya pemerintah ini patut diapresiasi dalam menindaklanjuti keseriusan menaikkan kepemilikan saham Indonesia di Freeport. Kini, mereka hanya tinggal menindaklanjuti sebelum akhirnya Freeport resmi kembali dimiliki secara mayoritas oleh Indonesia.

Selanjutnya, pada Selasa (31/7) malam, Kementerian ESDM mengumumkan kabar baik yang menyebutkan jika Blok Rokan diserahkan kepada Pertamina. BUMN migas itu berhasil memenangkan proyek dengan kontraktor eksisting Chevron. Dengan demikian, Pertamina akan mulai resmi mengelola Blok Rokan pada 2021 mendatang hingga tahun 2041.

“Setelah melihat proposal hari ini, jam 5 sore maka pemerintah lewat Menteri ESDM menetapkan pengelolaan Blok Rokan mulai tahun 2021 selama 20 tahun ke depan akan diberikan kepada Pertamina,” kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Perlu diketahui, Blok Rokan merupakan salah satu lapangan migas terbesar yang ada di Indonesia. Untuk Blok Rokan itu sendiri, terdapat dua lapangan minyak raksasa di Blok Rokan, Riau. Kedua lapangan itu adalah Minas dan Duri. Lapangan Minas yang telah memproduksi minyak hingga 4,5 miliar barel minyak sejak mulai berproduksi pada 1970-an adalah lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara.

Produksi minyak Lapangan Minas pernah menembus angka 1 juta barel per hari (bph). Sekarang lapangan tua ini masih bisa menghasilkan minyak sekitar 45.000 bph.

Kini, keseriusan pemerintah tengah dinanti dalam keberhasilan mengambil alih Freeport. Tidak hanya itu, upaya lainnya dalam mengembalikan kekayaan alam negara juga masih terus ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Indonesia kembali menambah daftar aset yang sebelumnya dikelola asing kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Setelah Newmont, Blok Mahakam dan Freeport, pengelolaan yang diambil negara selanjutnya adalah Blok Rokan, Riau.

Blok ini telah dikuasai perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Chevron sejak 1971. Penguasaan Chevron di blok yang menjadi salah satu andalan produksi minyak dalam negeri pun berakhir tahun ini.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak Chevron di Blok Rokan yang habis pada 2021 dan menjadikan Pertamina sebagai kontraktor selanjutnya. 



Selain Blok Rokan, pemerintah juga telah memulangkan aset seperti tambang emas di tanah Papua yang selama ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Melalui PT Inalum, Indonesia akan menjadi pemegang saham mayoritas Freeport dengan menguasai 51% saham.

Untuk membeli saham mayoritas tersebut, Inalum harus mengeluarkan Rp55 triliun. Pendanaan tersebut pun akan di danai oleh bank asing. Hingga kini proses negosiasi masih dilakukan antara Inalum dan Freeport.



Tak hanya kedua aset tersebut, negara lebih dulu telah memulangkan Newmont dan Blok Mahakam ke tanah air. Untuk Newmont dilakukan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk yang mengakuisisi saham PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) dengan nilai USD2,6 miliar.

Hal tersebut pun menjadi sejarah baru asset kekayaan alam Indonesia kembali ke perusahaan tambang lokal.

Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan, transaksi ini secara langsung memberikan nilai tambah strategis terhadap perseroan, mengingat operasi NNT yang berskala dunia.

Produksi Konsentrat Newmont

Kemudian untuk Blok Mahakam, Mulai 1 Januari 2018, pengelolaan ladang migas terbesar ini telah beralih dari Total E&P Indonesie ke Pertamina. Serah terima pengelolaan dilakukan di Club House Total, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Prosesi diawali dengan penyerahan pengelolaan Wilayah Kerja Mahakam dari TEPI dan Inpex kepada pemerintah yang diwakili Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi yang selanjutnya menyerahkan ke Pertamina yang diwakili Direktur Hulu Syamsu Alam.

Blok yang kini berganti nama menjadi Wilayah Kerja (WK) dikelola oleh Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang disebut-sebut sebagai cucu perusahaan Pertamina. Sebelumnya pengelolaan dipegang TEPI dan Inpex selama 50 tahun.(fajar.co.id & okezone.com)



Comments
0 Comments

0 comments