Infomenia

Minggu, 08 Juli 2018

AS Ancam Perang Dagang, Ini 5 Strategi Cerdas Pemerintah Jokowi

 Hasil gambar untuk as ancam perang dagang indonesia


Infomenia.net - Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi, mengatakan Donald Trump saat ini tengah mengambil ancang-ancang untuk mencabut beberapa tarif khusus yang diberikan Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia. Ini dilatarbelakangi atas putusan AS agar Indonesia tak membanjiri negeri tersebut dengan produk ekspor asal Tanah Air.

"Dia (AS) buat seenaknya saja. Termasuk dengan kita. Dia sudah kasih kita warning. Kita kalau ekspor tidak boleh lebih banyak kepada dia. Dia sudah kasih warning, ada aturan yang dia berikan, beberapa special tarif arrangement yang dia mau cabut. Terutama di bidang tekstil," ungkapnya dalam Halal Bihalal APINDO, di Jakarta, Kamis (5/7).

Dia menjelaskan memang saat ini keadaan perekonomian global tengah berada dalam ketidakpastian (uncertainty). Pemicunya kerap berasal dari kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump yang memang susah ditebak.

"Dia (AS) buat seenaknya saja. Termasuk dengan kita. Dia sudah kasih kita warning. Kita kalau ekspor tidak boleh lebih banyak kepada dia. Dia sudah kasih warning, ada aturan yang dia berikan, beberapa special tarif arrangement yang dia mau cabut. Terutama di bidang tekstil," ungkapnya dalam Halal Bihalal APINDO, di Jakarta, Kamis (5/7).

Dia menjelaskan memang saat ini keadaan perekonomian global tengah berada dalam ketidakpastian (uncertainty). Pemicunya kerap berasal dari kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump yang memang susah ditebak.

 Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah Jokowi pun telah menyiapkan berbagai strategi. Berikut 5 strateginya.


1. Presiden Jokowi gelar rapat khusus
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan baru akan membahas mengenai tarif bea masuk terhadap 124 produk asal Indonesia, pekan depan. Pembahasan akan dilakukan secara khusus sehingga diharapkan ada jalan keluar dari permasalahan ini.

"Saya kira nanti Senin kita bicara secara khusus mengenai hal itu," ujar dia di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jumat (6/7).

2. Mengirim surat ke pihak AS
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan untuk menyelesaikan ancaman perang dagang tersebut, pihaknya telah mengirim surat kepada pihak AS.

"Yang GSP nya, kita termasuk dalam daftar negara yang memiliki surplus yang besar. Tapi kami juga sudah kirim surat dan kita sudah menyampaikan mengenai yang pasti ada perbedaan angka dulu, bagaimana menghitungnya, jumlah defisit mereka dengan surplus kita berbeda angkanya," kata Mendag Enggar.

Dia mengaku telah melakukan pendekatan dengan pemerintah AS. Bahkan duta besar Indonesia untuk AS pun turun tangan melakukan pendekatan.

"Dubes kita di Amerika juga menyampaikan pendekatan, dan saya sendiri melakukan komunikasi dengan Amerika untuk meyakinkan, sebab pada dasarnya kita tidak setuju dengan perang dagang, semua pihak akan dirugikan, kita lebih senang dengan kolaborasi," ujarnya.

Kendati demikian, jika Amerika tetap menekan bea masuk dari Indonesia, Mendag Enggar menyatakan siap melawannya. Dia mencontohkan salah satu perlawanan yang pernah dilakukan terhadap pemerintah Norwey.

Di mana mereka melarang masuknya impor sawit dari Indonesia, maka pihak Indonesia juga mengancam tidak akan megizinkan komoditi andalan mereka yaitu ikan salmon masuk ke Indonesia. Akhirnya, perlawanan tersebut berhasil dan pihak Norwey batal melakukan pemblokiran kelapa sawit.

3. Membentuk working group
Merdeka.com - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, pemerintah akan membentuk working group untuk menghadapi perkembangan global termasuk perang dagang dengan Amerika Serikat. Working group ini juga akan membahas upaya memperkecil defisit perdagangan Indonesia.

"Belum bisa dibilang lah (anggota working group). Sebenarnya untuk menghadapi perkembangan yang sedang dan akan terjadi dengan adanya perang dagang, dengan adanya kenaikan kebijakan di AS, tentu saja kita harus menjawabnya," ujar Menko Darmin di Kantornya, Jakarta, Jumat (6/7).

pemerintah juga masih mengamati bahan impor yang nantinya akan diperlambat. Terkait hal ini. Menko Darmin juga akan memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan, sebab sektor yang paling banyak melakukan impor adalah sektor migas.

"Kedua kalau impornya yang bisa agak diperlambat yang mana saja. Nah nanti kita akan ada rapat lagi mungkin lebih luas, tadi kan fokus pada industri, fokus pada pariwisata. Mungkin minggu depannya Pertanian, ESDM. Nanti sore malah kita mau rapat dengan Menteri ESDM," jelasnya.

4. Rapat korrdinasi dengan stakeholder
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan pemerintah juga akan melakukan rapat koordinasi dengan stakeholder terkait untuk membahas hal tersebut.

"Kita yakin bahwa trade war itu bukan hal yang kita pilih. Ya itu kita tunggu hari Senin. Nanti kita akan rapat hari Minggu. Rapat koordinasi," ujarnya ketika ditemui di ICE, BSD, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/7).

5. Cari produk baru
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mencari upaya lain untuk mengantisipasi dampak kebijakan perang dagang Amerika Serikat terhadap Indonesia. Mengingat Amerika Serikat memiliki banyak kepentingan ekonomi di Indonesia.

"Tentu kita cari produk baru dan tentu dalam tanda petik kita akan cari langkah berikutnya. Kita harus antisipasi. Nah kan banyak sebetulnya kepentingan ekonomi Amerika Serikat di Indonesia," katanya.(merdeka.com)





Comments
0 Comments

0 comments