Infomenia

Selasa, 31 Juli 2018

Apes, Anies Nyebrang di Zebra Cross Sendirian, Pejalan Kaki Minggir Maksimal!

 

Infomenia.net - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan terlihat sendirian nyebrang di zebra cross sementara para pejalan kaki kompak menepi sampai keluar zebra cross. Anies mungkin berharap ada yang nyamperin, minta selfie atau ajak foto bareng tapi nyatanya enggak. 

Dia ngeloyor sendiri sementara pejalan kaki yang lainnya menepi maksimal dengan ekspresi senyam senyum, ketawa-ketiwi yang lainnya cuek bebek, EGP, parah banget Cuy! Padahal dia adalah Gubernur Indonesia yang bahkan dipuji Rizal Ramli sekelas jenderal tapi kok tak ada yang tertarik berfoto bersama.

Dari foto tersebut ini adalah kejadian kemarin saat peninjauan pembuatan pelican crossing yang berada tidak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. 

Aura negatif dari sang pemimpin yang selalu menimbulkan kehebohan dan kebijakan kontroversial ini membuat rakyat jadi tak simpatik. Apalagi sikapnya yang nyinyir dan nyindir pemimpin sebelumnya menambah aura negatif melekat membuat rakyat ogah mendekat. Ditambah aura Kali Item (Komentar Lanina di kolom Disqus, wkwk).

Momen yang seharusnya bisa jadi modal pencitraan di Instagram akhirnya batal dan buyar karena semua pejalan kaki pada minggir, entah karena alergi atau ilfil melihat sosok yang satu ini tiba-tiba muncul. 

Tapi warga pejalan kaki itu kompak bersama menepi sembari hepi dan membuat jarak yang besar dengan sang Gubernur. Ini adalah simbol pemimpin yang berjarak dengan rakyat maka rakyat juga akan memasang jarak dengannya.

Tak ada yang mau menyerbu mendekat, selain beresiko gak mau ditabrak bareng Gubernur tapi ini natural, pejalan kaki ini jelas tak antusias melihat ada penampakan Gubernur yang tiba-tiba menyebernag bareng.
Pemimpin yang dicintai rakyat akan membuat rakyat antusias mendekat dan merapat seperti pak Jokowi dan Pak Ahok. So pasti keduanya itu akan diajak selfie, wefie dan langsung live di facebook atau Insta story.

Tapi gubernur zaman now, sepi, menyendiri dan ditinggalkan. Dia hanya bisa menatap dengan tabah ke depan ingin segera sampai secepat-cepatnya. Sementara pejalan kaki yang lain ngakak dan ketawa sembari yang lain nggak enak akhirnya tertawa dalam hati.

Begitulah momen cuplikan foto itu sudah berbicara banyak, nanti pemujanya pasti akan membela junjungannya setengah mati. Seharusnya pendukungnya kompak untuk beramai-ramai nyebrang zebra corss bareng Gubernur, hehe.

Sambutan tak antusias warga yang melihat Gubernur menegaskan warga DKI itu tidak bahagia dengan kehadirannya bahkan perihnya, tak dianggap. Siape luh, katanya! Malah warga hepi sendiri seolah mengatakan, sorry kami nggak butuh loe, Governor! Mereka malah menepi dan menjauh. Gubernur juga terpaksa pasrah sembari mengeraskan hatinya untuk tabah sampai ke seberang jalan.


Pemandangan ini menunjukkan ironi pemimpin yang seharusnya peduli dan dicintai pasti dan otomatis akan menjadi magnet bagi rakyatnya. Ini pemimpin yang rupanya magnetnya terbalik jadi malah pada menjauh semua.

Aura negatif yang semakin tebal itu membuat dirinya juga jadi tebal muka dan tebal hati untuk setiap masukan dan koreksi yang diberikan oleh berbgaai pihak. Pemerintah Pusat sebagai atasannya juga dicuekin, membuat dirinya makin sombong dan arogan.

Upaya menghadirkan dua pelican crossing yang dibangun di sisi Utara dan Selatan Jalan MH Thamrin tepatnya didepan gedung Hotel Pullman itu memang untuk kepentingan praktis pengguna jalan. 

Mempercepat penyeberangan tapi malah efeknya menambah macet. Pelican cross ini sebenarnya bukanlah hal baru, sudah pernah ada di Indonesia.

Pelican crossing sendiri hampir sama dengan zebra cross, hanya saja dilengkapi dengan lampu lalu lintas, tombol penyeberangan dan pengeras suara. Sementara pada dua pelican crossing sudah dibuka hari ini.
Dalam prakteknya pelian cross itu menimbulkan kemacetan dan waktu menyeberang yang terlalu singkat. Ini perlu menjadi catatan dalam pelaksanaannya apalagi kalau ada ibu hamil atau orang yang sudah tua menyebernag, kan kasihan.

Menurut Anies, untuk sementara pihaknya akan menyiagakan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) dengan tujuan membiasakan pejalan kaki dan pengguna jalan dengan pelican crossing. 

“Karena itu petugas hadir untuk memberikan rasa tenang, pada saat mereka menyeberang. Menyeberang jalan di Indonesia ini menegangkan. Karena itu mereka (Dishub) hadir untuk membantu supaya mereka (pejalan kaki) tenang karena ada petugas. Petugasnya ada 24 jam,” ujar Anies.

Menegangkan karena ada Gubernur yang membuat kebijakan yang ajib dan aneh-aneh, haha, jadi tegang deh pejabat Anda karena sewaktu-waktu bisa dipecat. Menegangkan juga karena waktu penyeberangan Cuma 15 detik Gabener, kalau jalannya lambat bisa ditabrak tuh, wkwk..

(Ronindo, seword.com)


Komisoner Komisi Aparatur Sipil Negara ( KASN) I Made Suwandi mengemukakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melampirkan guntingan koran (kliping) sebagai dasar pencopotan penjabat di lingkungan Pemprov DKI pada 7 Juli 2018. Salah satu kliping berita yang disampaikan berisi permintaan Partai Gerindra meminta pencopotan Anas Effendi sebagai Wali Kota Jakarta Barat. "Macam-macamlah, "Gerindra Desak Sanksi Tegas buat Anas", macam-macamlah. Jadi banyak nih," kata Made saat dihubungi, Selasa (31/7/2018). Ada pula berita Anas dinilai jadi tim sukses karena datang ke kampanye Djarot Saiful Hidayat pada kampanye Pilkada DKI 2017. Baca juga: KASN: Mutasi Kepala BKD DKI Jadi Wali Kota Jakut Langgar Aturan Menurut Made, berita itu harusnya jadi awalan pihaknya untuk memeriksa pejabat yang bersangkutan. "Langkah awal silakan saja berita koran, tapi harus diklarifikasi lewat berita acara pemeriksaan. Bukti itu yang kami minta," kata Made. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah, dan Pelaksana tugas Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Budihastuti sebelumnya telah diperiksa oleh KASN terkait dugaan pelanggaran itu. Namun, Pemprov DKI dinilai gagal menjelaskan sehingga KASN menyimpulkan bahwa proses perombakan pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta tidak sesuai prosedur. Pemprov DKI seharusnya memberikan bukti berupa berita acara pemeriksaan terhadap pejabat yang bersangkutan. Namun, yang terjadi Pemprov DKI hanya mengirimkan potongan berita media massa.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Guntingan Koran yang Jadi Dasar Pencopotan Pejabat DKI Berisi Permintaan Partai Gerindra", https://megapolitan.kompas.com/read/2018/07/31/16532801/guntingan-koran-yang-jadi-dasar-pencopotan-pejabat-dki-berisi-permintaan.
Penulis : Nibras Nada Nailufar
Editor : Egidius Patnistik

Comments
0 Comments

0 comments