Infomenia

Minggu, 25 Februari 2018

Banyak Kebijakannya yang "Nyeleneh", DPRD DKI Gulirkan Hak Interpelasi ke Anies – Sandi Pekan Depan

 PDIP Gulirkan Hak Interpelasi ke Anies-Sandi Pekan Depan

Infomenia.net - Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono memperkirakan sejumlah anggota dewan bakal menggulirkan hak interpelasi terhadap kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno, pekan depan. Salah satunya kebijakan terkait penataan kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Sudah jalan, mungkin minggu depan sudah bisa digelar. Kemungkinan begitu karena sudah beberapa orang melakukan koordinasi untuk menyampaikan bahwa mereka sudah tanda tangan dan lain sebagainya," kata Gembong ketika dihubungi, Jumat (23/2).

Menurutnya, persyaratan pengajuan hak interpelasi sudah dipenuhi oleh dewan. Mengacu pada UU MD3 nomor 17 tahun 2014 Pasal 330, hak interpelasi bisa diusulkan oleh sedikitnya 15 orang anggota DPRD provinsi dan lebih dari satu fraksi untuk DPRD provinsi yang beranggotakan di atas 75 orang.

Adapun total keseluruhan kursi anggota DPRD DKI periode 2014-2019 adalah 106 kursi anggota dari 10 partai politik.

"Kan, sekurang-kurangnya 15 anggota dari dua fraksi, itu kelihatannya sudah terpenuhi. Kan, ada beberapa anggota sudah menyampaikan, tinggal nanti kita melakukan koordinasi," kata anggota DPRD Komisi A itu.

Gembong mengaku, tidak ada agenda lain yang akan dibahas selain meminta penjelasan Anies atas kebijakan yang diputuskannya.

Salah satu pembahasan utamanya adalah penutupan lajur Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang untuk pendirian tenda pedagang kaki lima (PKL) yang tidak ada payung hukumnya.

"Karena kalau bicara Tanah Abang itu jelas nyata, semua orang tahu Pak Anies melanggar aturan. Masa ada gubernur yang melanggar aturan, diam saja? Kan, enggak benar juga," kata Gembong.

Gembong pun mengklaim fraksi yang mengajukan hak interpelasi bukan hanya PDIP dan Nasdem.

"Banyaklah, bukan hanya PDIP dan Nasdem. Ada empat sampai enam fraksi, bahkan. Kan, ini hak anggota, bukan hak fraksi," ujarnya.(cnnindonesia.com)
com - Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah mengatakan, partainya membuka semua kemungkinan menjaring calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, lanjutnya, semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik parpol maupun profesional turut dipertimbangkan. Bahkan, ketua umum parpol belum tentu menjadi cawapres. Baca juga: PDI-P: Zulkifli Hasan Minta Diprioritaskan Bertemu Megawati "Ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri) sudah merombak tradisi itu. Menjadi ketua umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2/2018). Ia menilai apa yang dilakukan Megawati merupakan tradisi baik yang harus dipertahankan dengan tidak memberikan keistimewaan kepada ketua umum partai. Selain itu, lanjutnya, ketua umum partai juga menjadi penentu keputusan penting, seperti penetapan capres atau cawapres pada pemilu. Baca juga: Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi "Menurut saya ini tradisi yang baik apabila ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega, menjadi queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Megawati Rombak Tradisi Ketum Partai Otomatis Capres"", http://nasional.kompas.com/read/2018/02/24/23223471/megawati-rombak-tradisi-ketum-partai-otomatis-capres.
Penulis : Rakhmat Nur Hakim
Editor : Kurnia Sari Aziza
- Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah mengatakan, partainya membuka semua kemungkinan menjaring calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, lanjutnya, semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik parpol maupun profesional turut dipertimbangkan. Bahkan, ketua umum parpol belum tentu menjadi cawapres. Baca juga: PDI-P: Zulkifli Hasan Minta Diprioritaskan Bertemu Megawati "Ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri) sudah merombak tradisi itu. Menjadi ketua umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2/2018). Ia menilai apa yang dilakukan Megawati merupakan tradisi baik yang harus dipertahankan dengan tidak memberikan keistimewaan kepada ketua umum partai. Selain itu, lanjutnya, ketua umum partai juga menjadi penentu keputusan penting, seperti penetapan capres atau cawapres pada pemilu. Baca juga: Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi "Menurut saya ini tradisi yang baik apabila ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega, menjadi queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Megawati Rombak Tradisi Ketum Partai Otomatis Capres"", http://nasional.kompas.com/read/2018/02/24/23223471/megawati-rombak-tradisi-ketum-partai-otomatis-capres.
Penulis : Rakhmat Nur Hakim
Editor : Kurnia Sari Aziza
om - Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah mengatakan, partainya membuka semua kemungkinan menjaring calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, lanjutnya, semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik parpol maupun profesional turut dipertimbangkan. Bahkan, ketua umum parpol belum tentu menjadi cawapres. Baca juga: PDI-P: Zulkifli Hasan Minta Diprioritaskan Bertemu Megawati "Ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri) sudah merombak tradisi itu. Menjadi ketua umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2/2018). Ia menilai apa yang dilakukan Megawati merupakan tradisi baik yang harus dipertahankan dengan tidak memberikan keistimewaan kepada ketua umum partai. Selain itu, lanjutnya, ketua umum partai juga menjadi penentu keputusan penting, seperti penetapan capres atau cawapres pada pemilu. Baca juga: Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi "Menurut saya ini tradisi yang baik apabila ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega, menjadi queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Megawati Rombak Tradisi Ketum Partai Otomatis Capres"", http://nasional.kompas.com/read/2018/02/24/23223471/megawati-rombak-tradisi-ketum-partai-otomatis-capres.
Penulis : Rakhmat Nur Hakim
Editor : Kurnia Sari Aziza
.com - Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah mengatakan, partainya membuka semua kemungkinan menjaring calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, lanjutnya, semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik parpol maupun profesional turut dipertimbangkan. Bahkan, ketua umum parpol belum tentu menjadi cawapres. Baca juga: PDI-P: Zulkifli Hasan Minta Diprioritaskan Bertemu Megawati "Ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri) sudah merombak tradisi itu. Menjadi ketua umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2/2018). Ia menilai apa yang dilakukan Megawati merupakan tradisi baik yang harus dipertahankan dengan tidak memberikan keistimewaan kepada ketua umum partai. Selain itu, lanjutnya, ketua umum partai juga menjadi penentu keputusan penting, seperti penetapan capres atau cawapres pada pemilu. Baca juga: Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi "Menurut saya ini tradisi yang baik apabila ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega, menjadi queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Megawati Rombak Tradisi Ketum Partai Otomatis Capres"", http://nasional.kompas.com/read/2018/02/24/23223471/megawati-rombak-tradisi-ketum-partai-otomatis-capres.
Penulis : Rakhmat Nur Hakim
Editor : Kurnia Sari Aziza
.com - Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah mengatakan, partainya membuka semua kemungkinan menjaring calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, lanjutnya, semua tokoh dari berbagai latar belakang, baik parpol maupun profesional turut dipertimbangkan. Bahkan, ketua umum parpol belum tentu menjadi cawapres. Baca juga: PDI-P: Zulkifli Hasan Minta Diprioritaskan Bertemu Megawati "Ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri) sudah merombak tradisi itu. Menjadi ketua umum partai tidak otomatis menjadi calon presiden dan cawapres," kata Basarah di Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Sabtu (24/2/2018). Ia menilai apa yang dilakukan Megawati merupakan tradisi baik yang harus dipertahankan dengan tidak memberikan keistimewaan kepada ketua umum partai. Selain itu, lanjutnya, ketua umum partai juga menjadi penentu keputusan penting, seperti penetapan capres atau cawapres pada pemilu. Baca juga: Usung Jokowi sebagai Capres, PDI-P Jalin Komunikasi dengan Parpol Luar Koalisi "Menurut saya ini tradisi yang baik apabila ketum partai menjadi queen maker seperti Ibu Mega. Bayangkan ketum partai lain bisa seperti Bu Mega, menjadi queen maker, maka lahir pimpinan bangsa," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Megawati Rombak Tradisi Ketum Partai Otomatis Capres"", http://nasional.kompas.com/read/2018/02/24/23223471/megawati-rombak-tradisi-ketum-partai-otomatis-capres.
Penulis : Rakhmat Nur Hakim
Editor : Kurnia Sari Aziza

Comments
0 Comments

0 comments