Infomenia

Selasa, 12 Desember 2017

UIN Sumut Adakan Diskusi 'Jejak Pelac*r Arab', Selanjutnya Ini yang Terjadi

PIhak Kampus UIN Sumut melayangkan surat permohonan maaf resmi atas diskusi kontroversial berjudul 'Jejak Pelacur Arab Dalam Seni Baca Alquran'. (CNN Indonesia / Zulkarnain

Infomenia.net -Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) menyampaikan permohonan maaf atas penyelenggaraan diskusi dengan judul 'Jejak Pelacur Arab Dalam Seni Baca Alquran' yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Sosial (FIS), UIN Sumut, Medan Senin (11/12) kemarin.

Permohonan maaf ini disampaikan Dekan FIS UIN Sumut, Ahmad Qorib, dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Selasa (12/12). Permohonan maaf tertulis itu dibenarkan Wakil Dekan III FIS UIN Sumut, Faisal Hamdani.

Dalam pernyataannya, Ahmad Qorib menyatakan meminta maaf atas kelalaian pimpinan sehingga acara tersebut yang dilaksanakan tanpa menyeleksi materinya.



"Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumut bersikap tegas terhadap kekeliruan topik kontroversial yang disampaikan dan memanggil saudara Yasir Arafat sebagai narasumber untuk memberikan keterangan secara tertulis dari materi yang disampaikan," ujar Qorib.

Selain itu, kata Qorib, pihaknya juga memberikan teguran lisan serta meminta Yasir Arafat untuk meminta maaf kepada publik khususnya umat Islam dan memberikan klarifikasi tertulis.







Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) menyampaikan permohonan maaf atas penyelenggaraan diskusi dengan judul 'Jejak Pelacur Arab Dalam Seni Baca Alquran' yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Sosial (FIS), UIN Sumut, Medan Senin (11/12) kemarin.

"Akan kita teliti lebih lanjut itu, dan akan kita bantah," terangnya.

Wakil Dekan III FIS UIN Sumut Faisal Hamdani menyatakan ada dua kesalahan Yasir Arafat sebagai narasumber dalam diskusi tersebut.

Kesalahan pertama terkait pemilihan judul dan kesalahan kedua terkait rujukan. 

Yasir dalam diskusi itu menyimpulkan bahwa ulama Arab mengambil nada lagu-lagu pelacur menjadi nada atau langgam dalam bacaan Alquran. Faisal mengatakan dalam penelitiannya Yasir telah mengambil rujukan dari kaum orientalis, dan bukan rujukan ulama otoritatif. 

"Enggak mungkin ulama menggunakan nada lagu pelacur jadi nada Alquran. Sedangkan langgam Jawa saja ditolak," kata Faisal.

Lebih lanjut, Faisal mengakui ada kelalaian fakultas yang tidak berkoordinasi sejak awal terkait materi yang dibawakan Yasir. Fakultas baru mengetahui judul materi setelah latar belakang (backdrop) acara dipasang.

Foto backdrop itu lalu viral dan menjadi kontroversi. Faisal mengatakan diskusi adalah kegiatan internal yang melibatkan dosen dan mahasiswa di FIS UIN Sumut.

"Awalnya kita enggak tahu judul yang diseminarkan. Karena sudah terlanjur, ya dilaksanakan," katanya.

Setelah ini menurut Faisal, secara akademis mereka akan meneliti kesimpulan Yasir Arafat yang mengangkat tema tersebut. 

"Akan kita teliti lebih lanjut itu, dan akan kita bantah," terangnya.

MUI Menegur Kampus

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara (Sumut) telah menegur pihak UIN dan menyerahkan perihal tindakan yang akan dilakukan terkait penyelenggaraan diskusi tersebut kepada universitas.

"Setelah kita tabayyun, jadi itu hasil penelitan dari Yasir Arafat," ujar Sekretaris Umum MUI Sumatera Utara Ardiansyah saat dihubungi CNNIndonesia.com.


Ardiansyah mengatakan MUI Sumut menyesali pemilihan kalimat yang diterapkan pada backdrop. Kalimat tersebut, katanya, tak tepat dan terkesan tendensius. MUI juga lalu berkoordinasi dengan Rektor UIN Sumut, serta meminta teguran keras diberikan.

"Kita meminta kepada UIN agar setiap kegiatan yang bersifat universitas, fakultas, atau mahasiswa harus ada kontrol sehingga tak ada lagi jawaban 'kecolongan'," ujar Ardiansyah seraya juga mengimbau kepada masyarakat agar tak terprovokasi. (Zul)







Comments
0 Comments

0 comments