Infomenia

Jumat, 21 April 2017

Infomenia.net - Menjaga kebersihan lingkungan merupakan sebagian dari iman.
Lingkungan yang bersih akan membawa kita pada kondisi tubuh yang sehat dan bugar.
Kebiasaan baik ini seharusnya juga dipraktekan di manapun berada.
Tak terkecuali ketika pergi ke luar negeri.
Segala sesuatu yang dilakukan haruslah tak merugikan orang lain apalagi hingga mempermalukan identitas negara lewat kelakuan buruk diri sendiri.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Seorang warga negara Indonesia bernama Tyas Palar membeberakan perilaku jorok turis Indonesia tatkala dirinya sedang makan di Bandara Haneda, Tokyo.
Curhatannya itu ia tulis di status jejaring sosial Facebook hingga akhirnya menjadi perbincangan banyak orang.
Ia menceritakan, saat itu dirinya dan sang ibunda berencana kembali ke Jakarta melalu bandara Haneda,Tokyo.
Sebelumnya mereka menyempatkan diri sarapan di sebuah restoran yang berada di lantai atas bandara.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada segerombolan turis Indonesia yang juga sedang menyantap makanan.
Sekilas memang tak ada yang aneh dengan kegiatan itu.
Namun, setelah gerombolan turis Indonesia itu pergi, Tyas dikagetkan dengan meja dan sampah yang berserakan.
"Salah satu rombongan turis Indonesia itu telah pergi, menyisakan meja yang berantakan seperti yang saya foto. Bukannya membuang sampah sendiri ke meja makan dan mengembalikan baki ke restoran awal seperti seharusnya. Mungkin mereka berpikir ini seperti di Indonesia, akan ada pelayan atau petugas yang membersihkan. Padahal tidak ada," ujarnya.
Perlu diketahui bahwa adab makan di Jepang pada umumnya pelanggan membersihkan dan membuang sampahnya sendiri terutama restoran cepat saji.
Tak hanya itu, pembeli juga diharuskan mengembalikan perkakas makanan termasuk baki, mangkuk dan gelas.
Berbeda dengan di Indonesia yang memiliki petugas untuk membersihkan sisa makanan, di Jepang mereka tak menerapkan hal itu ke seluruh restoran.
Hingga lebih dari setengah jam Tyas dan ibundanya meninggalkan tempat tersebut, meja yang berantakan tak juga ada yang membersihkan.
Yang lebih disayangkan lagi, posisi meja tersebut hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat sampah.
"Dan perhatikan deh.. rombongan turis ini bahkan tidak merapikan peralatan makan bekas dan sampah mereka ke atas baki. Teman saya, seorang mahasiswi Indonesia yang belajar di Jepang dan bekerja sambilan sebagai pramusaji, mengeluh: "Yang seperti ini paling merepotkan, bikin lama, karena pelayan harus membereskan dulu ke atas baki." Calon orang yang duduk berikutnya juga kesulitan untuk sekedar meminggirkan saja baki-baki tersebut, karena kalaupun baki dipinggirkan, tetap ada sampah yang bertebaran di atas meja. Walhasil, meja-meja itu tidak digunakan orang sampai saya dan ibu pergi," lanjutnya.
Kejadian ini tentunya sangat disayangkan ya guys, meskipun statusnya sebagai turis tetapi alangkah baiknya untuk menjaga lingkungan sekitar demi kenyamanan bersama.
Setelah peristiwa tak menyenangkan tersebut, beberapa saat kemudian Tyas kembali mengalami hal serupa yang tak kalah memalukan.
Tyas mengatakan disebelahnya juga ada dua orang pria paruh baya asal Indonesia yang rupanya melakukan hal yang sama, tak membuang sampah pada tempat seharusnya.
"Salah seorang laki-laki itu berdiri, melangkah menjauh, meninggalkan serpihan sampah berupa robekan kertas pembungkus sedotan, bon, dan entah apa lagi di atas mejanya," ujarnya.
Melihat hal tersebut Tyas langsung memanggil pria tersebut dan menunjukan letak tempat sampah agar ia mau membereskan sehingga nyaman untuk orang-orang sekitar.
Namun, jawaban yang didapatkan tak memuaskan.
Sebaliknya, pria itu malah berputar dan tersenyum sinis sambil berkata "Terus kenapa? Nanti juga ada yang beresin!" balasnya ketus.
Tak mau kalah, Tyas menjawab " nggak ada yang beresin. Lihat itu dari tadi meja-meja itu nggak ada yang beresin!" jawabnya.
Akhirnya pria tersebut kembali ke mejanya dan memunguti sampah dengan wajah tak rela.
"Kenapa ya, banyak orang Indonesia, kelas menengah dan berduit sekalipun yang dalam harapan kita tentunya lebih terdidik dan tahu adat, yang susah tertib? Padahal tertib itu sesungguhnya memudahkan bagi diri kita sendiri dan juga semua orang. Dalam kasus makan di tempat publik ini, orang berikutnya dapat langsung menggunakan meja dalam keadaan bersih. Bayangkan kalau ini terjadi pada kita, sedang kesulitan cari meja untuk makan, eeeeh semua meja kotor dan berantakan!" tulisnya kesal.
Tak ingin kejadian memalukan itu terjadi lagi, Tyas mengajak seluruh warga Indonesia untuk menjaga ketertiban dan kebersihan terutama jika sedang berlibur ke negara tetangga.
"Yuk, tetap jaga ketertiban dan kebersihan di mana pun kita berada. Yes, termasuk di Indonesia sendiri. Jangan tunggu ke negara lain baru tertib dan taat aturan," tutupnya.
Status facebook yang ia unggah pada 18 April 2017 lalu menuai beragam reaksi netter.
Berikut komentar para netizen.
@Tania Komala Sari: "Tartip Jangankan tertib begitu bunbkus es yg hbs terpakai aja suka di buang lewat jendela mobil... gimna mau memperbaikinya kalau org terdekatnya juga begitu... negara yg lucu... bersyukur org tua saya sll teriak2 masalah sampah yg hanya sebesar kulit permen jd sampai sekarang saya terbiasa membiang sampah ditempatnya... hal yg sepele tp indahhh kalau jadi kebiasaan... ayo para org tuaa didik anak usia dini"
@Falah Nur Rahmah: "Sebenernya orang yang bisa jalan-jalan ke luar negeri, selain punya duit buat beli tiket pesawat yo duitnya juga beliin buat kuota internet lah. Browsing dulu budaya, kebiasaan, peraturan2 tdk tertulis yg mungkin ada di suatu negara. Jadi pas nyampe sana, gak dengan polosnya bilang 'loh kan di indonesia ada petugas yang bersihin'. Ya kalo memang gatau, jangan ngeyel kalo diberi tau... daripada malu2in negara sendiri di negri orang"
Wah, parah banget ya guys.
Padahal dengan menjaga ketertiban lingkungan tak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga orang lain.
Wah, bisa jadi ladang kebaikan juga untuk kita kan. 

Comments
0 Comments

0 comments