Infomenia

Rabu, 18 April 2018

Miris! Anies 'Paksa' Warga Buka 'Luka Lama' di Era Ahok, Beginikah Sikap Seorang Pemimpin itu?

 Hasil gambar untuk anies di kampung akuarium

Infomenia.net - Ternyata kemenangan dalam Pilkada lalu tak serta-merta membuat kebencian gubernur Anies terhadap Ahok dan Djarot surut. Buktinya, bukannya mengajak masyarakat melupakan pemerintahan yang lalu dan maju bersama Anies- Sandi, Anies malah sengaja membangun “monumen” penggusuran di Kampung Aquarium untuk mengingat masa lalu yang mungkin saja menyakitkan bagi sebagian warga.

“Karena itu peristiwa di Kampung Akuarium ini harus menjadi pengingat. Ini bukan untuk menengok masa lalu. Tapi peristiwa itu enggak boleh dilupakan,” kata Anies, saat menghadiri peringatan dua tahun penggusuran Kampung Akuarium di Shelter Akuarium, Jakarta Utara, Sabtu 14 April. Anies-CNN Indonesia.com

Padahal andai saja Anies mau obyektif menilai dan hatinya tidak tertutup oleh kebencian, sesungguhnya relokasi ini adalah demi kebaikan bersama. Selain pemukimannya kumuh, rumah ini ilegal karena menempati tanah negara, di Kampung Aquarium ini juga ditemukan situs bersejarah. Sehingga Ahok berpendapat tidak mungkin negara membangun pemukiman penduduk di atas tanah negara. Ini sama saja dengan menggunakan uang negara untuk melanggar hukum. Salahnya dobel dua kali lipat…

Tetapi sayangnya gubernur Anies bukanlah seorang negarawan yang memiliki kemampuan untuk berpikir jauh kedepan. Anies terus saja membawa-bawa nama keadilan untuk membangun citra dirinya. Bahkan Anies ingin warga terus memelihara rasa dendam dan sakit hati terhadap Ahok meski sejujurnya Ahok tak sepenuhnya bersalah melakukan penggusuran disana.

Sekarang kita jadi paham mengapa Djarot tidak hadir dalam acara pelantikan dan serah terima jabatan tahun lalu dan lebih memilih liburan bersama keluarga ke Labuhan Bajo. Mungkin Djarot berpikir orang seperti Anies yang menang dengan cara yang tidak fair tidak perlu diberi penghormatan, kalau dihormati malah akan semakin songong.

“Dua tahun yang lalu. Tidak ada hati manusia yang tidak menangis. Akal sehat hati nurani harus dikunci untuk bisa mengerjakan apa yang terjadi. Ini pelajaran bagi republik Indonesia dan dunia. Tidak boleh ini berulang dimanapun bumi pertiwi ini,” ucap Anies. Tirto.id
Begitulah bahasa Anies menyampaikan retorikanya, mengaduk-aduk perasaan warga Kampung Aquarium yang mungkin saja malah sudah lupa dengan peristiwa dua tahun yang lalu. Mencoba membangkitkan lagi amarah yang sebetulnya sudah mulai pudar…

Saya percaya dalam hati warga pasti merasa bersalah sudah mendirikan bangunan di atas tanah negara, tetapi karena ada seorang gubernur berjanji mengakomodir permintaan mereka, ya terang saja warga semakin ngelunjak. Lihat saja sekarang mereka sudah memiliki desain rumah sesuai dengan keinginan mereka tanpa peduli status tanah disana…

Boleh saja membangun rumah dan mengistimewakan warga Kampung Aquarium atas nama keadilan, tetapi mengadakan syukuran dengan maksud agar warga semakin benci dengan pemerintah sebelumnya bukanlah sikap yang bijaksana. Menunjukkan sekali lagi kepada kita bahwa gubernur Anies tidak memiliki sikap seorang negarawan.

Terkadang memang butuh waktu untuk melihat kebaikan pada sebuah peristiwa pedih. Ibarat sebuah buku, penggusuran ini barulah lembaran pertama. Masih akan banyak ceritera pada lembaran-lembaran berikutnya…

Kelak saat Kampung Aquarium dilanda banjir rob, disaat warga terlibat sengketa berebut hak atas tanah, saat keputusan pengadilan mengharuskan warga berpindah, disaat muncul berbagai permasalahan dan disaat rumah susun sudah tidak tersedia lagi, barulah semua akan tersadar bahwa keputusan relokasi Kampung Aquarium yang dilakukan Ahok sudah tepat.

Semoga warga Kampung Aquarium menyadari bahwa shelter yang dibangun Anies hanyalah bersifat sementara. Anak cucu merekalah yang kelak akan merasakan beban akibat kebijakan yang keliru dan tidak tepat ini. Dan saat penyesalan itu datang, Anies sudah bukan lagi gubernur Jakarta…


Selamat atas terbangunnya shelter sementara!! 

(Dan Setiawan, indovoices.com)


Comments
0 Comments

0 komentar