Infomenia

Minggu, 18 Maret 2018

Sandiaga Singgung Pemerintah Sebelumnya, Tuding Sampah Teluk Jakarta Sudah Ada Sejak 2014. Padahal Begini Faktanya




Infomenia.Net - Sebagai pejabat publik adalah penting bagi kita untuk tetap mengkonfirmasi dan mengklarifikasi semua informasi yang didapatkan sebelum membuat pernyataan kepada publik melalui media massa atau media sosial. Salah menanggapi dan memberikan pernyataan akan membuat publik bisa ilfill dan tidak percaya lagi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno adalah salah satu pejabat di negeri ini yang menurut saya harus belajar cek dan ricek. Kalau terkendala harus lihat file di Balai Kota, Sandiaga cukup pakai aplikasi Google saja, atau kata orang “tanya mbah google”. Tidak susah dan tidak perlu bertanya kepada TGUPP berjumlah 74 orang itu.

Hal ini menjadi perlu menurut saya, karena Sandiaga sekali lagi keliru menyatakan sesuatu. Kali ini persoalan sampah di Teluk Jakarta daerah Muara Angke. Sandiaga yang mendapatkan informasi dari pengelola sampah disana bahwa tidak ada penanganan soal sampah dan sampah tersebut sudah ada sejak tahun 2014.

“Konon kabarnya dari pengelola sampah di sana dari 2014, tetapi kita yakin bahwa sebelumnya pemerintah sudah memberi perhatian tetapi belum eksekusi saja, jadi kita jangan saling menyalahkan, kita kerjakan saja sekarang,” kata Sandiaga di Jakarta Timur, Sabtu (17/3/2018).

Padahal kalau Sandiaga mau googling sebentar saja, dia bisa menemukan fakta bahwa pemerintah sebelumnya sudah menangani persoalan sampah di Teluk Jakarta. Bahkan sudah juga melakukan solusi dengan merelokasi dan membayar ganti rugi para nelayan yang membuat pemukiman di atas laut. Tetapi para nelayan kembali buat pemukiman setelah menerima uang ganti rugi tersebut.

“Pernah tidak mereka (aktivis) mengatakan kerang hijau di Teluk Jakarta tidak bisa dikonsumsi karena mengandung logam berat di atas ambang batas. Sekarang masih mending Teluk Jakarta lebih bersih. Dulu sebelum kita datang, kapal-kapal bisa macet, baling-baling nyangkut, di mana KNTI?” ujar Ahok di Balai Kota, Selasa (19/4/2016).

Jangan begitu kali Sandiaga kalau memang tidak begitu suka dengan pemerintah sebelumnya. Mendapati informasi tidak berdasar seperti itu langsung dimanfaatkan menuding pemerintah sebelumnya. Cek dulu apakah memang sebelumnya tidak ditangani masalah ini. Karena akan berbahaya kalau sampai salah informasi dan terlihat belum move on dari kesuksesan pemerintah sebelumnya.

Dan bukan hanya salah menuding pemerintah tidak menangani masalah tumpukan sampah tersebut, Sandiaga juga ternyata tidak tahu kalau itu bukanlah sampah sejak tahun 2014, melainkan karena fenomena angin barat yang terjadi setiap tahunnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Risnandar yang menyebutnya dengan fenomena baratan.

“Dari Desember sampai Februari terjadi yang namanya baratan. Kalau nelayan bilang itu angin besar, ombak besar yang merapat ke Jakarta. Baratan itu menggulung sampah-sampah yang ada di pesisir ini,” kata Risnandar saat ditemui di lokasi, Sabtu (17/3/2018).

“Sampah ini terjadi spontan bukan seperti yang dipikirkan orang ini ditumpuk berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Jadi spontan dalam kurun beberapa hari saja sampah sudah numpuk,” katanya.

Benci kok sebegitunya Sandiaga?? Tuh dengar bahwa ini adalah fenomena alam. Sudah salah menuding pemerintah sebelumnya, malah sekarang terlihat bodoh dengan pernyataannya. Apakah tidak ada staf yang bisa ditanya soal ini sebelum membuat pernyataan?? Ataukah memang kalau sudah dipancing ini tidak ditangani oleh pemerintah sebelumnya langsung percaya saja??

Memprihatinkan memang melihat pemerintahan yang kerjaannya hanya menikmati hasil kerja orang dan suka menuding kegagalan yang tidak pernah dilakukan. Kalau masih begini juga, maka Sandiaga akan terus jadi orang yang salah ucap dan terlihat bodoh dengan pernyataan. Punya TGUPP dan tim staf kok bisa terus salah membuat pernyataan.

Memang benar-benar ini adalah contoh fatalnya salah memilih pemimpin. Janganlah diulangi lagi untuk daerah lain.


Salam Salah Milih.


Comments
0 Comments

0 komentar