Infomenia

Kamis, 28 Desember 2017

Terlanjur Heboh, Pihak Kampus UPN Blak Blakan Tentang Gerakan CELUP Oleh Mahasiswanya, Jangan Kaget Fakta Sebenarnya Yaa....

celup, kampanye celup

Infomenia.net -Jagat maya dihebohkan dengan viralnya poster berisi kampanye anti asusila bernama Cekrik Lapor Upload (CELUP). Kampanye tersebut diprakarsai oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya.
Poster tersebut lantas mendapat berbagai respons dari netizen. Umumnya, menganggap kampanye anti asusila dengan cara yang ditawarkan CELUP tidak tepat. Poster tersebut makin bikin heboh karena terdapat logo media seperti Jawa Pos, Detik.com, dan TV9. Seolah-olah media ikut memberikan dukungan.
Tidak hanya itu, kampanye juga mengklaim bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, C20 Library, serta Aiola Eotory. Sama dengan media, logo mereka ada di poster kampanye CELUP. Padahal, semua media dan instansi tersebut tidak pernah menjalin kerja sama.
celup, kampanye celup
Klarifikasi yang disampaikan tim CELUP, Rabu (27/12) sebelum akun instagramnya tidak lagi aktif. (Instagram cekrek.lapor.upload)
Dari penelusuran JawaPos.com di akun Instagram-nya @cekrek.lapor.upload. mereka mengajak warga untuk memotret, melaporkan, dan meng-upload jika mendapati kegiatan asusila saat car free day di Taman Bungkul. Namun, setelah ramai-ramai dibicarakan, akun Instagram tersebut sudah tidak aktif lagi.
Saat dikonfirmasi JawaPos.com, Dosen Prodi DKV UPN Veteran Jawa Timur Aryo Bayu Wibisono meminta maaf atas beredarnya foto tersebut secara viral di media sosial. "Itu sebenarnya tugas kuliah. Kami mengakui ada kesalahan dengan pencatutan logo yang tersebar itu. Tidak ada peran dan maksud apa pun," tutur Aryo.
Aryo memaparkan, tugas tersebut mengajarkan tentang cara membuat media promosi yang tepat. Fokusnya ada pada pembuatan poster. Kampanye anti asusila itu sama sekali tidak ada. "Untuk pembuatan Instagram itu inisiatif mahasiswa sendiri. Tapi tidak ada niatan untuk menyebarkannya," tambahnya.
Permintaan maaf juga diunggah melalui Instagram @cekrek.lapor.upload. Pengelola akun menegaskan tidak ada kaitan apa pun antara instansi atau media yang dicatut dengan kampanye itu.
’’Kami CELUP hari ini mengonfirmasi bahwa kami tidak ada keterkaitan dengan media Jawa Pos, Detik.com, TV 9, C2O, Aiola Eatory, dan Pemerintah Kota Surabaya. Logo tersebut dicantumkan karena salah paham hanya untuk izin penempelan poster dan peliputan media. Selebihnya tidak ada dukungan apa pun. Kami juga mengklarifikasi bahwa CELUP belum pernah sama sekali meng-upload foto tindak asusila yang terjadi di lapangan. Jika di-upload pun foto kami sensor dan hanya menunjukkan lokasi kejadian yang bertujuan untuk membantu pengelola tempat untuk menganggulangi tindak asusila. Terima kasih,’’ tulis tim Celup di akun Instagram yang kini sudah tidak ada sekitar pukul 20.30 WIB.
Secara terpisah, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mewanti-wanti agar masyarakat tidak ceroboh membuat sebuah gerakan, terlebih kampanye anti asusila yang mengunggah foto. Ruth Yeni menjelaskan, namanya sebuah kampanye tidak bisa digerakkan satu individu, harus digerakkan bersama instansi terkait seperti Pemkot maupun kepolisian.
"Nanti ada ruang untuk berdiskusi, bagaimana membuat gerakan yang tepat sasaran. Namanya kampanye sosial ini kan tujuan akhirnya mengubah budaya," jelas Ruth Yeni.
Dalam konteks kampanye anti asusila, budaya yang ingin diubah memang membuat semua orang peka dengan tindakan asusila di sekitarnya. Tapi, mengunggah foto asusila ke media sosial bukan hal yang bijak. Sebab medsos adalah ruang publik.
Bisa jadi orang yang difoto tidak terima dan malah melaporkan si pengunggah foto tersebut. Bisa jadi yang dipotret ternyata memang suami istri. Masyarakat tidak boleh gegabah. "Walaupun toh fotonya diblur tetap bisa dianggap mengandung konten pornografi. Kalau di-upload, bisa saja yang mengakses justru anak-anak. Bisa saja melanggar UU ITE dan pornografi, makanya harus berhati-hati," imbuh polisi asal Banyuwangi tersebut.
(did/ce1/JPC)

Comments
0 Comments

0 komentar