Fakta-fakta Dibalik Jasad Bayi Dibawa Pakai Angkot, Bikin Trenyuh!

Fakta-fakta Dibalik Jasad  Bayi Dibawa Pakai Angkot, Bikin Trenyuh!

Infomenia.net -Pemberitaan tengah dihebohkan dengan adanya kabar orangtua yang tidak mampu membayar sewa ambulans untuk membawa jenazah bayinya.
Mereka adalah pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31) yang terpaksa membawa jenazah putrinya, Berlin Istana, bayi berusia satu bulan asal Abung Timur, Lampung Utara, terpaksa dibawa naik angkutan kota di dalam Kota Bandar Lampung, Rabu (20/9/2017).
Melansir dari Tribun Lampung, membawa bayinya naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jalan Rivai menuju Bundara Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer.
Berikut tim TribunWow.com himpun fakta-fakta terkait peristiwa nahas ini.
Simak selengkapnya di sini!
1. Kronologi kejadian
Melansir dari Tribun Lampung, Ardiansyah menuturkan awal permasalahan terjadi ketika ia mengurus administrasi kepulangan jenazah bayinya dari RSUDAM pada Rabu (20/9/2017).
Saat itu, petugas RSUDAM pun mengatakan adanya perbedaan nama yang tercantum antara kartu BPJS dengan nama yang tertera di bagian formulir pendaftaran.
"Nama yang tertera saat pendaftaran adalah Delpasari, sementara di kartu BPJS tertera Berlin Istana," kata Ardiansyah saat ditemui di rumah duka, Rabu malam. Delpasari adalah nama ibu sang bayi.
Petugas rumah sakit pun menjelaskan bahwa jika terjadi peristiwa seperti itu harus diurus ulang dan memakan waktu yang lama.
Di sela-sela negosiasi oknum sopir sempat minta uang untuk memperpendek urusan.
Saat itu Delpa yang sudah berada di dalam mobil ambulans milik RSUDAM diminta turun oleh suaminya karena tidak memiliki uang.
"Istri saya yang gendong Berlin naik angkot," ujarnya.
Saat di dalam angkot tersebut, ada seorang perempuan yang memberitahukan adanya layanan Ambulans Gratis Pemkot Bandar Lampung.
Sang sopir angkot pun langsung menelepon layanan ambulans tersebut.
Kepala Pengawas Mobil Ambulans Gratis Kota Bandar Lampung, Agus Putra (45) mengatakan sebelumnya pihaknya membenarkan mendapatkan telepon dari seorang warga Hajimena, Natar.
Ia menyebutkan terdapat sepasang keluarga sedang membutuhkan pertolongan, yakni butuh mobil ambulans.
"Tujuan mereka hendak ke Lampung Utara, namun mereka hendak menaiki mobil bus," cerita Agus saat ditemui Tribun di posko pelayanan di Tugu Adipura, tadi malam.
Setelah mendapat informasi, pihaknya langsung meminta izin kepada Wali Kota Bandar Lampung Herman HN mengingat perjalannya cukup jauh.
"Ternyata mendapat persetujuan oleh beliau untuk mengantarkanya dan petugas yang mengantarkan adalah bernama Jefri," ujarnya.
Jefri yang iba dengan kondisi keluarga Ardiansyah pun mengantarkan keluarga tersebut ke Dusun Labuhan Dalam, Desa Gedung Nyapah, Kecamatan Abung Timur, Lampung Timur.
Jefri mengatakan, sekitar pukul 20.30 WIB pihaknya sudah sampai di Desa Bumi Agung.
"Kalau perjalanan dari Bandar Lampung berangkat sekitar pukul 17.15 WIB. Jadi kurang lebih perjalanan memakan waktu 3 jam lebih," ujar Jefri.
2. Adanya oknum sopir ambulans yang minta sogok
Melansir dari Tribun Lampung, Ardiansyah pun membenarkan bahwa memang adanya oknum sopir ambulans yang meminta uang sebesar Rp 2 juta untuk mempercepat urusan keluarga ini.
Delpa pun mengiyakan dan langsung masuk ke dalam mobil milik RSUDAM tersebut.
Namun, karena Ardiansyah tidak mampu memenuhi permintaan sang sopir, ia pun meminta sang istri untuk turun dan memilih untuk membawa jenazah bayinya pulang dengan menggunakan angkot saja.
3. Tanggapan RSUDAM
Kembali melansir dari Tribun Lampung, Direktur Pelayanan RSUDAM, Pad Dilangga menjelaskan peristiwa meninggalnya pasien bayi yang kemudian dibawa menggunakan angkutan umum ini karena masalah kesalahpahaman.
Ia menjelaskan bahwa pasien tersebut meninggal karena kelainan bawaan yakni meningocele di ICU sekitar pukul 15.15 WIB.
"Kemudian kami akan pulangkan dengan ambulans. Keluarga sudah mengurus ambulans dan jenazah dibawa ke ambulans. Tetapi ternyata ada sedikit miss dalam hal administrasi," kata Pad Dilangga dalam klarifikasi pihak RSUDAM, Rabu malam.
Menurutnya, ada miss administrasi pada nama jenazah. Jenazah merupakan bayi yang baru lahir dan masih menggunakan nama ibunya.
"Lalu sopir ambulans mau klarifikasi dulu agar tidak salah. Ini juga perlu mengantisipasi agar tidak salah nama, kemudian petugas ambulans memanggil ayah pasien," katanya.
Padilangga mengatakan, sopir ambulans kemudian memohon pada keluarga pasien untuk menyelesaikan administrasi yang miss tersebut.
"Memang, kalau pasien siapapun, baik jenazah maupun pasien, harus tertib administrasi. Nah, mungkin kurang sabar orang tuanya, sehingga jenazah sang bayi itu dibawanya langsung," ujarnya.
Ia juga mengatakan, bahwa sebenarnya penyelesaian maslaah tersebut tidak membutuhkan waktu yang tidak lama.
"Mungkin keluarga sudah panik, bingung, dan buru-buru sehingga memakai kendaraan umum. Jadi kami memaklumi, sementara kami juga punya SOP," ujarnya.
Ucok (30), sopir ambulans, mengatakan, jenazah sudah sempat masuk kedalam ambulans.
"Berkasnya ada yang salah, atas nama almarhum. Kemudian saya ajak bicara untuk menyelesaikan masalah administrasi ini. Semua sudah siap jam 16.00 WIB bisa keluar, tapi orangnya pergi dulu," katanya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Lampung, Achmad Chrisna Putra, berharap penjelasan dari pihak Rumah Sakit bisa berimbang.
"Jadi masyarakat bisa menerima secara bijak kabar ini, saya memposisikan diri dalam permasalahan ini hanya hadir untuk mendampingi pihak Rumah Sakit memberikan klarifikasi kepada media, karena peranan ini penting dalam penyebarannya," ujar Chrisna.
4. Penyebab Berlin meninggal
Masih melansir dari Tribun Lampung, diketahui, Berlin lahir pada tanggal 17 Agustus 2017 silam di RSU Ryacudu Kotabumi.
Ia lahir dengan adanya benjolan di kepala.
Karena tidak sanggup, akhirnya Berlin dirujuk ke RSUDAM di Bandar Lampung dan Berlin sudah dua kali konsultasi ke dokter di RSUDAM.
Konsultasi yang pertama, dilakukan pada Jumat tanggal 25 Agustus 2017, kedua kalinya pada Senin 19 September 2017.
Keberangkatan yang kedua kalinya orangtua Berlin menggunakan kereta api dan angkot.
Saat turun naik angkot itulah, bayi Berlin mengalami kejang.
"Anak saya langsung masuk ruang Alamanda RSU Abdoel Moeloek," kata Ardiansyah.
Aang Fatiya Gunanda (28), adik sepupu Delpa, menambahkan, pihak Rumah Sakit Ryacudu merujuk Berlin ke RSUDAM.
Pihak RSUDAM lalu mengambil tindakan operasi.
Berlin pun sempat dirawat selama satu minggu usai operasi dan diperbolehkan pulang.
Pihak RSUDAM mewajibkan Berlin untuk kontrol pascaoperasi.
Pada saat kontrol inilah, nyawa Berlin tidak bisa diselamatkan.
Rabu malam setiba di rumah duka, Berlin langsung dimakamkan letaknya di belakang rumahnya.
Kondisi pemakaman, saat itu sedang hujan deras. Seusai pemakaman, langsung digelar tahlilan di rumah orangtua Berlin.
Keluarganya mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten. (Tribunnews.com)



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Fakta-fakta Dibalik Jasad Bayi Dibawa Pakai Angkot, Bikin Trenyuh!"

  1. Pak jokowi tlng sediakan ambulans gratis u/ di taroh di setiap rs. Utung pengguna bpjs kelas 2-3. Agar rakyat yang tidak mampu dapat pelayanan antar jenazah dengan layak.

    BalasHapus