Duh Ngenes, Partai Syariah 212, Belum Seminggu Deklarasi Sudah Alami Nasib Sial Ini



Infomenia.net -Gedung Joang 45 di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi saksi lahirnya partai baru. Namanya Partai Syariah 212. Identitas itu dipilih lantaran banyak diisi para anggota jebolan aksi Desember tahun lalu.
Tepat tanggal 17 Juli 2017, partai terbentuk. Tujuh orang menjadi deklarator adalah Siti Asmah Ratu Agung, Ma'ruf Halimuddin, Agung Suyono, Sidiq Waluyo, Ruli Munandzir, Andi Darmawati dan Hafidz. Mereka berharap partai ini bisa menjadi wadah baru bagi umat muslim. 

Belum juga berkembang konflik antar-deklarator terjadi. Ketegangan muncul antara kubu Ma'ruf dan Bunda Ratu. Ma'ruf mengumumkan pengunduran diri. Dia meminta maaf telah ikut mendorong terbentuknya partai. Perpecahan diduga karena rebutan jabatan pimpinan.

Menjabat Ketua Pelaksana Deklarasi Partai Syariah 212, Ma'ruf keluar hanya lima hari usai deklarasi partai. Tak lupa, dia juga meminta maaf kepada para peserta aksi 212 dan ulama. Dia merasa tak lagi sejalan dengan Bunda Ratu selaku penggagas lahirnya Partai Syariah 212.

Ketua Aktivis 212 Indonesia itu merasa lahirnya Partai Syariah 212 bakal menimbulkan perpecahan umat muslim. Terutama bagi mereka yang pernah ikut aksi 212. Selain itu, banyak keanehan awal terbentuknya partai ini.

Kegelisahan itu dimulai sejak dua hari sebelum deklarasi. Ma'ruf merasa janggal dengan sikap Bunda Ratu. Sosok itu merasa yakin dengan pelbagai langkahnya. Keganjilan bermula saat dirinya ingin membuat surat undangan kepada para tokoh ulama, habib, ormas dan tokoh 212 sebelum menggelar deklarasi partai.

Ma'ruf menilai mengundang para tokoh sangat perlu untuk meminta restu. Langkah ini dianggap wajib. Sebab, setiap aksi maupun gerakan berlandaskan aksi 212, biasa meminta restu dari para ulama.
Bunda Ratu tidak melakukan itu. Justru mengklaim telah mendapat dukungan. Kondisi ini membuat Ma'ruf heran. Akhirnya hari dinanti tiba. Deklarasi dilakukan. Tanpa dihadiri para ulama.

"Saya tanya ini yang mau diundang siapa saja? Dia bilang enggak ada, enggak usah diundang, semua itu enggak penting," kata Ma'ruf kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Sikap Bunda Ratu membuatnya bertanya-tanya. Apa tujuan wanita itu mengajaknya mendirikan partai Islam? Namun dalam prosesnya ogah meminta pendapat para ulama. "Loh, ini yang mau dijual siapa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Dalam pertemuannya dengan kami sore itu, Ma'ruf membeberkan sosok Bunda Ratu. Dia mengakui bahwa sosok itu misterius. Dalam lingkungan pertemanannya, Bunda Ratu memang dikenal sebagai 'pemain'. Lantaran pernah berkecimpung di banyak partai.

Keinginannya mendirikan sebuah partai ini juga terkesan terburu-buru. Ma'ruf menduga pendirian partai merupakan pesanan dari seseorang melalui Bunda Ratu, untuk memecahkan para umat muslim.

"Saya simpulkan, ada orang besar di belakangnya dan tujuannya membenturkan umat," tegas Ma'ruf.

Informasi dihimpun merdeka.com, Bunda Ratu pernah menjadi sekretaris Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Peduli, bagian dari Dewan Koperasi Indonesia dan seorang pengusaha. Tak hanya itu, dia juga merupakan salah satu pendukung Prabowo Subianto saat Pilpres tahun 2014 lalu.

Ma'ruf pun mengakui sosok Bunda Ratu memang memiliki berbagai ide dan gebrakan luar biasa. Hanya saja pelbagai ide cemerlang tersebut digunakan untuk hal menyimpang. Terutama untuk mencari keuntungan. 

"Bunda Ratu ini sepertinya ada sesuatu yang menyuruh. Jadi setelah dia bikin di sini, kotori di sini, cemplung lagi di sini, kotori lagi di sini. Nah, ending terakhir itu dia mau bikin Partai Syariah 212," ungkapnya.

Berbagai kejanggalan dirasakan itu akhirnya memuncak lima hari setelah deklarasi. Merasa tak lagi sejalan, Ma'ruf dengan empat temannya memutuskan cabut. Mereka adalah Agung Suyono, Sidiq Waluyo, Ruli Munandzir dan Andi Darmawati. Empat sekawan ini akhirnya membuat ormas Islam bernama Aktivis 212 Indonesia.

Partai Syariah 212 kini tinggal digawangi dua orang, yakni Bunda Ratu dan Hafidz, putranya. Pendirian partai juga diambang kehancuran. Ma'ruf pesimis sosok itu bisa melanjutkan. Apalagi pada jajaran pengurus pusat masih belum menemukan kata sepakat.

Bunda Ratu memang sulit dijumpai. Kami bahkan harus berkali-kali menghubungi. Banyak alasan disampaikan ketika kami ingin menemuinya langsung.

Alamat Kantor DPP Partai Syariah 212 akhirnya didapat. Kami mendatangi langsung. Beralamat di Jalan Mampang Prapatan II nomor 32, Jakarta Selatan, kantor dimaksud ternyata sebuah rumah dijadikan klinik kecantikan bernama 'ARA'.

Plang nama Klinik kecantikan itu tampak pudar. Hanya tinggal terlihat tulisan 'ARA'. Kantor tersebut merupakan rumah mediterania dua lantai, bercat putih dan mulai tampak mulai pudar. Beberapa bagian rumah juga tampak tak terawat.

Kanopi garasi di kantor itu terlihat bolong. Pagar rumah setinggi satu meter dibiarkan terbuka. Belum lagi sampah dibiarkan berserakan dan lampu halaman dibiarkan menyala di siang hari.

Kala itu ada mobil Grand Livina berwarna abu-abu terparkir. Di sisi lainnya, tampak sebuah sedan tertutupi sarung mobil. Beberapa kali kami mengetuk pintu rumah dan menekan bel. Namun, tak juga ada penghuni rumah keluar. Lokasi sekitar juga terlihat sepi.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, keluarlah seorang remaja laki-laki dari dalam rumah itu. Bocah laki-laki itu menyebut Bunda Ratu sedang ke Lampung untuk beberapa hari ke depan. "Bunda Ratu lagi ke Lampung, Ahad malam baru sampai ke sini," ujar bocah tersebut.

Sementara dari keterangan warga sekitar, Bunda Ratu memang dikenal sebagai pemilik klinik kecantikan ARA. Dulu, klinik tersebut ramai didatangi pengunjung. Salah seorang pemilik warung nasi enggan disebutkan namanya, mengaku pernah ditawari bedak. Harganya sekitar Rp 200 ribu.

"Saya dulu pernah ditawari bedak tapi saya takut. Dia bilang itu bedak bagus, racikan dokter. Saya beli Rp 200 ribu. Bedaknya emang bagus sih, tapi kan mahal," cerita wanita berambut pendek itu.

Beruntung Bunda Ratu akhirnya bisa dihubungi. Dia mengaku hanya mau diwawancarai lewat sambungan telepon. Dalam perbincangan kami, Bunda Ratu menyebut bahwa Partai Syariah 212 pada Kamis 3 Agustus, mendaftarkan ke Kantor Kementerian Hukum dan HAM melalui notaris. Ini sengaja dilakukan agar bisa ikut dalam bursa Pileg dan Pilpres pada 2019 mendatang.

"Kami sudah memiliki 34 kantor DPD di seluruh provinsi," kata Bunda Ratu.

Menurut dia, partai besutannya ini telah diketuai Dr. Junaedi. Sayangnya dia enggan memberikan kesempatan kami untuk berkomunikasi langsung dengan Junaedi. Sehingga untuk urusan Partai Syariah 212, hanya melalui dirinya. "Sebelum legalnya terbit, suara keluar cukup (lewat) Bunda Ratu," tegasnya.

Bunda Ratu membeberkan kondisi partai besutannya. Dia mengaku Kementerian Hukum dan HAM telah menerima pengajuan pendirian Partai Syariah 212. Hanya saja, ada sejumlah berkas harus dilengkapi untuk bisa memperoleh legalitas dari pemerintah. Hal ini juga membuat kantor DPP Partai Syariah 212 di Mampang, Jakarta Selatan, bersih dari atribut partai.

Soal tudingan Maruf Halimudin, Bunda Ratu menyebut bahwa mantan rekannya di partai itu hanya panitia penyelenggara. Dia tegaskan bukan bagian penggagas Partai Syariah 212.

Dalam perjalanannya, saat pemilihan ketua partai, Bunda Ratu mengakui membuat aturan kriteria calon pemimpin partai. Salah satunya berpenghasilan minimal Rp 100 juta setiap bulan. Menurutnya, aturan ini membuat Ma'ruf keluar dari partai lantaran tak memenuhi kualifikasi sebagai pemimpin partai.

"Nampaknya Ma'ruf ada ambisi, enggak masuk kualifikasi dia marah dan keluar. Orang ini ambisius untuk berkuasa. Kalau Bunda enggak, hanya untuk bantu umat. Bunda enggak tertarik untuk jadi ketua umum atau ketua pembina, sebagai penggagas saja sudah," ujarnya.

Tak hanya itu, dia juga membantah bila dalam mendirikan partai enggan melibatkan para ulama, ormas maupun tokoh aksi 212. Dirinya berdalih ulama memiliki peran lebih penting ketimbang turun tangan di partai politik. Hal ini menjadi dasarnya tak mengundang mereka saat deklarasi pada 17 Juli yang lalu.

"Partai itu kecil hanya kendaraan. Bunda enggak mau dong nyeret-nyeret mereka ke urusan partai. Kalau Bunda mengajak mereka berarti Bunda mengecilkan arti mereka. Urusan mereka bukan partai tapi negara," tegasnya.

Bunda Ratu mengklaim selama ini komunikasi dengan para ulama masih berjalan dengan baik. Keterlibatan ulama dalam partai, menurutnya, juga tak elok. Dia bermimpi membangun sistem politik baru dengan profesional dan konstitusional. Sehingga tak mengedepankan keberadaan tokoh tertentu sebagai pemikat.

Apalagi pandangannya selama ini para partai politik sangat dipengaruhi tokoh tertentu. Sehingga, ketika tokoh tersebut pamornya turun maka berdampak pula pada elektabilitas partai. 

"Partai Syariah 212 yang inisiatornya tidak tertarik dengan jabatan, yang semuanya umat muslim, membela muslim," tegasnya.

Untuk itu, Bunda Ratu berharap Partai Syariah 212 bisa diminati umat muslim di Indonesia. Nantinya bisa menjadi kendaraan politik umat muslim untuk mendapatkan jabatan demi kejayaan Islam di Indonesia. 

"Ayo umat Islam, mari kita rapatkan barisan, Bunda Ratu telah sediakan kendaraan politik menuju NKRI Jaya. Jihad ekonomi, jihad politik, Allahuakbar!" serunya mengakhiri pembicaraan dengan kami. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Duh Ngenes, Partai Syariah 212, Belum Seminggu Deklarasi Sudah Alami Nasib Sial Ini"

Posting Komentar