Pasca Kekalahan Ahok di Pilgub DKI, Hukum Rimba kembali Berlaku di Tanah Abang



Infomenia.net -PEMILIHAN umum kepala daerah (pilkada) usai, kini masalah pun bermula. Hal itu yang terjadi di kawasan perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagai salah satu contoh.

Tanah Abang yang dalam 2-3 tahun terakhir sempat teratur, tertib, dan bebas dari kemacetan, kini semrawut, kumuh, hingga macet.

"Sudah kayak di neraka. Pedagang kaki lima (PKL) berjualan sampai ke badan jalan dan angkot yang ngetem seenaknya. Sudah 20 menit motor saya terjebak di kemacetan ini," keluh Sutarman, seorang pengendara sepeda motor yang tengah melintas di kawasan Pasar Tanah Abang, kemarin.

Sepanjang Jalan Jati Baru hingga KS Tubun macet tak terelakkan. Ruas jalan menyempit gara-gara PKL meluber hingga ke badan jalan dan sopir angkot serta tukang ojek yang tak lagi resah untuk ngetem berlama-lama.

Selama 3 jam pemantauan di sana, tak satu pun petugas, baik dari kepolisian maupun Dishubtrans DKI, yang terlihat. Bukan saja jalanan yang kembali macet parah dalam beberapa hari terakhir. Trotoar Pasar Tanah Abang yang sempat cantik dan asri kini kumuh dan semrawut.

Apalagi setelah badan trotoar selesai dilebarkan pada 2016 lalu, dari 3 meter menjadi 9-10 meter. Trotoar yang sejatinya untuk memanjakan pejalan kaki kini malah memanjakan PKL, mulai pedagang sandang hingga panganan gorengan.

Akibatnya, para pejalan kaki kini harus berjalan di bahu jalan karena trotoar sudah disesaki oleh 'kerajaan PKL'.

"Dulu trotoar sempat rapi, tetapi setelah pilkada selesai dan sudah bisa diperkirakan siapa pemenangnya, pedagang kembali berjualan di trotoar. Sebelum pilkada, Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) rajin patroli, sekarang mah jarang," ujar Hasbul, 41, seorang pedagang minuman saat ditemui di jalur pedestrian di samping Stasiun Tanah Abang.

Ia mengaku sempat pulang ke kampung asalnya di Jawa Timur saat Satpol PP bertindak tegas menertibkan kawasan itu. Namun, setelah pilkada selesai, ia dan kawan-kawan kembali ke Tanah Abang untuk kembali berjualan.

"Sudah ada seminggu kami kembali jualan. Dulu sempat digusur, gerobak diangkut Satpol PP. Sempat pulang kampung, sekarang ya ngadu nasib lagi saja," kata Hasbul. Ia yakin beda pemimpin DKI tentu akan beda pula tindakannya. Kondisi itu yang dimanfaatkan olehnya untuk berjualan.

Keyakinan tidak digusur
Di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, kawasan yang sempat diratakan oleh Pemprov DKI Jakarta pada April 2016, kini telah berdiri sekitar 150 bangunan liar yang dihuni oleh 169 keluarga.

Bangunan-bangunan baru yang terbuat dari tripleks dan beratap seng itu dibangun dalam sepekan terakhir, tak lama setelah pilkada putaran kedua usai pada 19 April silam.
Tono, salah satu warga yang baru saja selesai membangun bedengnya di sana kemarin, mengatakan warga yang membangun bedeng itu sebagian besar warga relokasi yang tak betah tinggal di rumah susun.

"Bahkan warga yang punya rezeki lebih, bukan bedeng yang dibangun. Mereka bikin rumah permanen, itu beberapa malah sedang bangun fondasi rumah dari batu bata," ujarnya.
Sama halnya dengan PKL di Tanah Abang, warga di permukiman liar itu yakin gubernur yang akan datang tak akan menertibkan mereka. (MTVN/J-1)



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pasca Kekalahan Ahok di Pilgub DKI, Hukum Rimba kembali Berlaku di Tanah Abang"

Posting Komentar