Ia Yang Rela Mati Di Garis Depan Mengawal Ahok



Infomenia.net -Suatu malam awal Desember lalu di Jakarta Selatan. Mak ditemui oleh beberapa rekan sahabat Facebook, kira kira 40an orang.
Datang juga seorang pria tinggi gagah berkacamata, seseorang membisiki emak, itu bang Birgaldo Sinaga. Mak ini ak uk ak uk saja karena susah banget nyebut namanya itu, tebalik balik mak nyebutnya wkwk, akhirnya mak panggil dia Bang Bir.
Dialah yang sering turun ke jalan mengawal sidang Ahok, blusukan memberi pencerahan pada pemilih mengapa hidup kita akan lebih baik bila Ahok jadi gubernur, kampanye pula di medsos tiada henti.
Birgaldo Sinaga inilah yang dulu menembus barikade untuk berada bersama Pak Ahok di sidang pertamanya dan ikut terus hingga sempat memotret Pak Ahok dan kakak angkatnya yang perempuan menangis memeluknya saat itu. Foto itu ia yang buat dan sebarkan.
Ketika ia duduk di sebelah emak, ia berkata ia dan kawan kawannya akan selalu kawal sidang Pak Ahok, memperjuangkan Pak Ahok.
Mak tanya, gimana nanti kalau onta-onta ngamuk, katanya tak tahulah, resiko perjuangan itu, kalau tumbang di jalan ya bagaimana, namanya berjuang, pasang badanlah, sudah nekad, kalau musti matipun ya resiko.
Mak garuk2 palak, gimana abang ini pikir mak, punya istri dan anak cantik masi kecil, dianya koq mau-maunya turun ke jalan ngadepin onta2 ngamuk.
Pada saatnya mak mengerti, alasannya berjuang sama dengan mak, memperjuangkan dunia yang lebih baik, bagi rakyat, bagi anak2 kami, dan saat ini bagi Jakarta agar tetap dipegang oleh Gubernur yang telah kami liat ADA GUNANYA bagi Jakarta. Yang bener bener tiap hari ngurusin rakyatnya sampe ke pitik2 soal gaji pasukan oranye yang dari dibawah sejuta jadi 3 juta lebih diurusin, bahkan mau teratur dikasi karcis bioskop pasukan oranye dan pasukan biru itu buat hiburan kata pak Ahok. Ibu2 komplen suami kawin lagi ngadu ke balai kota, biarpun sambil bengong, Pak Ahok tetep aja dengerin.
Bagi kami baik namanya Ahok kek, dono kek, atun kek, amir kek, Peter kek, Zaenuri kek, bodo amat, kalau seorang gubernur itu bisa memperbaiki hidup rakyat kami berdiri tegar mendukungnya.
Saat hari pilkada kemaren, demi mengetahui akan ada 2 putaran kami tertunduk. Mak datang dari Bali, khusus untuk nyoblos. Setelahnya bersama teman-teman nobar dan menarik nafas panjang, ternyata PERJUANGAN BELUM SELESAI….
Kami semua harus tetap menyalakan semangat. Esoknya Bang Bir di facebook memposting status, betapa sulitnya jadi relawan yang logistiknya tak ada. Memang segala sesuatu nanggung sendiri, menggalang dana toh tidak boleh kecuali bila ada yang dijual, misal buku,
merchandise dll. Barulah bisa dananya digunakan untuk pergerakan.
Saat beliau down, mak meneteskan air mata karena berpikir, siapa nanti kawal pak Ahok sidang. Massa onta banyak, massa kita tak kawal pak Ahok, Bang Bir juru bicara Bara-Badja, bila ia dan kawan kawan tak disana, bagaimana ini. Pak Ahok perlu di support bagaimanapun juga.
Bang Bir kan harus bekerja, ia seorang mechanical engineer yang punya usaha yang harus ditongkrongin juga.
Tapi ia luangkan waktunya lebih banyak buat bela Ahok. Hampir sebagian besar malah, karena memang intense sekali. Dibutuhkan juga para relawan relawan mengunjungi pemilih secara langsung untuk sosialisasi program pak Ahok. Berpanas-panas, keluar masuk kampung tiap hari menjelang Pilkada. Setiap hari Selasa mengawal sidang. Nah ini semua perlu dana, dana dari kantong sendiri, bah…
Orang banyak sinis berkata: “Siapa suruh jadi relawan?”
Sebelum kita bicara sinis, ingat saudara-saudara, kalau kita bicara relawan ya tak ada yang suruh, yang disuruh pun belum tentu mau. Itu dari hati. Kalau semua sinis pada relawan takkan merdeka negeri kita ini dulu. Bagaimana mau merdeka kalau Bung Karno, Bung Hatta dkk. tak mau jadi relawan, bagaimana mau merdeka kalau Jendral Soedirman dkk. tak mau rela berjuang. Semua itu karena kerelaan, itulah yang melahirkan negeri kita ini
dan negeri negeri lain seperti Afrika Selatan yang dalam perjalanannya diperjuangkan Nelson Mandela, Amerika oleh George Washington dkk. Juga para mahasiswa yang pada tahun 98 menumbangkan rezim orde baru.
Hanya dengan adanya orang-orang yang rela berjuanglah maka akan ada keberhasilan.
Relawan sejati itu “Hanya memberi tak harap kembali…”
Berbeda jauh dengan politisi, tanam sekarang menuai nanti, kalau dipecat ya coba lagi…
Mak liat foto bang Bir dan kawan kawan mengawal sidang Pak Ahok, sudah 12 kali mereka tak pernah absen mengawal. Berpanas panas, berusaha tenang diantara pihak yang tak henti menghujat Pak Ahok.
Lalu di suatu sidang yang mereka kawal di depan gedung Kementan. Di siang yang panas itu, Bang Bir dan 2 temannya makan siang, di pinggir jalan, beli nasi bakulan, rogoh kantong sendiri, lalu jongkok di pinggir jalan makan. Massa lawan teriak teriak di depan mereka.
Mak terharu….mata mak berkaca kaca.
Itulah perjuangan….makan seadanya, nanggung sendiri pulak, tenaga habis, muka hitam gak karuan terbakar matahari, meninggalkan anak isteri yang mungkin ketakutan selalu, jangan-jangan sang suami kenapa-napa, namanya berhadapan dengan lawan. Tapi Bang Bir dan kawan-kawan tetap semangat, demi sebuah cita-cita, agar Jakarta lebih baik, agar Pak Ahok dan Pak Djarot yang telah membuktikan bahwa mereka ini berguna bagi DKI dapat meneruskan programnya, dapat membuat orang miskin juga menikmati Jakarta dengan hidup layak, anak-anak orang miskin bisa sekolah, Banjir makin sedikit, MRT dibangun, bus way dan jalan layang membantu mengurangi kemacetan……
Inilah bayaran perjuangan nanti bila saatnya tiba, bila Pak Ahok dan Pak Djarot
diijinkan meneruskan program-programnya, Jakarta yang lebih baik!!
Berkali-kali mak dan kawan kawan seperjuangan menawarkan bantuan karena mengerti susah sekali kalau selalu harus rogoh kantong sendiri terus menerus.
Tawaran itu tak pernah bersambut, Bang Bir bilang hal itu tak dibolehkan dan ia rela saja, yang penting cita cita perjuangan bisa gol.

Mak mikir lah lama lama apa gak bocor kantong, segala swadaya. Bang Bir dan kawan-kawan tak bergeming.
Seminggu lalu Bang Bir bilang, “Mak abang bikin buku, buku perjalanan perjuangan mengapa sampai abang mau membela Ahok mati-matian, rela pasang badan, rela apa saja fisik dan mental, agar Pak Ahok bisa meneruskan pembangunan Jakarta dan memberi contoh daerah lainnya.
Buku ini untuk pergerakan mak, semua hasilnya nanti untuk dana kita mengawal pak Ahok, tak ada untuk lainnya. Kita gak boleh berhenti, kita harus upayakan apapun yang baik agar ada dana nanti untuk kita berjuang.”
Bukunya berjudul
“Mengapa Aku Membela Ahok”
Perjalanan seorang Birgaldo Sinaga sampai berani mati turun ke jalan membela legacy seorang Ahok.
Mak banggakan ia, karena sesungguhnya alasan dukungan kami atas Ahok itu sama. Kami berjuang karena asal kami dari orang melarat, orang susah, maka kami ingin kalau ada yang susah dan melarat di DKI ini Pak Ahok bisa menolong mereka dengan berbagai cara dan MAU melakukannya. Ada banyak yang bisa tapi tak mau. Pak Ahok bisa dan mau.
Kami tau rasanya melarat tak bisa sekolah tak bisa berobat, dan Pak Ahok akan menolong orang-orang susah, agar hidup layak.
Mak dalam satu pikiran, tak mau Balai Kota DKI menjadi kandang sapi…..bocor semua nanti segala gala ditandukin sama sapi. Rakyatnya nambah susah, diwacanakan pula nanti segala vertical housing apalah tauk ok oc puyeng gw, gak ada yang gw ngerti hooh hooh aja abis gak ngerti gimana.
Saudara-saudara, kukatakan padamu. Tegarlah kita berdiri bersama Ahok dan Djarot.
Bila kita tak bisa turun mengawal karena bekerja, kesibukan dan kesempatan tak memungkinkan. Kita dukung saudara-saudara kita yang mengawal langsung perjuangan memenangkan Ahok Djarot.
Buku ini adalah simbolisasi dukungan kita, agar para relawan bisa berrgerak leluasa di lapangan dengan dananya.
Putaran kedua sudah diambang mata, mari dukung para relawan turun langsung ke para pemilih, untuk memenangkan Ahok Djarot.
Menyumbang langsung kita tak boleh, sudahlah lewat buku saja agar ada dana pergerakan.
Langsung pesan pada Bang Bir kalau mau memilikinya atau mau membeli beberapa untuk disebarkan pada para calon pemilih sebelum putaran kedua nanti. Bila anda beli lebih dari satu, yang selebihnya bisa pula langsung disebarkan oleh para relawan kepada calon pemilih bila diinginkan, nama anda akan tetap tercatat sebagai pembelinya.
Kesini pengiriman pembeliannya :
Rp.60,000 per buku
Bank BCA
No. Rekening 061 229 8945
Birgal H. Sinaga
Mohon kirimkan bukti transfer dan alamat pengiriman ke
email birgaldo.dragon@gmail.com



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ia Yang Rela Mati Di Garis Depan Mengawal Ahok"

Posting Komentar